
Hari-hari berlalu dan keputusan Ajeng sudah sangat bulat, dia akan berhenti bekerja di kelurahan yang semakin membesarkan namanya itu.
Dulu dia hanya dikenal sebagai tukang adu ayam yang tersohor, lalu beralih menjadi biro konsul di mana banyak memberikan solusi pada warga yang tengah kesusahan atau ditimpa musibah, dari perselingkuhan sampai anaknya yang nakal bak demit.
Langkahnya mengayun sedikit berat, dia tahu menjadi ibu rumah tangga itu membosankan dengan aktivitas yang sama dan bertemu orang yang sama juga, dia pun yang biasanya kelayapan akan diam di rumah seperti orang kena kutukan.
Tapi, demi suaminya dan kesenangan hati pria itu, dia akan mengambil tindakan ini setelah mencari saran dari banyak pihak. Memang Arya tak keberatan dia bekerja, tapi jauh di dalam. lubuk hati demitnya itu tentu saja ingin Ajeng bisa diajak ke mana-mana, mengingat Arya adalah penerus usaha pak Darma dan hanya pria itu, tak ada yang bisa Arya ajak kerja sama selain Ajeng, tak mungkin dia di sini sedangkan suaminya keliling kota hanya untuk menepis rasa bosan menjadi ibu rumah tangga.
Mas, Ajeng udah kangen sama kamu loh, cepet balik ya, kita honeymoon tiap malam udah nggak apa, pokoknya ada kamu, kamar sepi nggak ada kamu, langit pun ikut galau sama kayak aku yang nggak sama kamu!
Pak Kades terhenyak melihat Ajeng masuk ke ruangannya, seperti mimpi dan dia tak sabar mau mendengarkan alasan Ajeng, Hikam sudah menyampaikan niatan Ajeng kemarin, kini Ajeng yang menghadap dia langsung.
"Nggak, saya nggak terima kalau kamu mutus kontrak gitu aja!"
"Tapi, Pak ... pegawai kayak saya kan bisa kapan saja berhenti."
"Ya memang, Jeng. Tapi, saya belum ketemu sama yang gantiin kamu loh, kalau ada warga yang butuh jasa kamu gimana? Apalagi saya pun langganan sama kamu, sampe mau kulakan telur juga ke mertua kamu, apa nggak bisa ditunda dulu, Jeng?"
Ajeng teguh pada pendiriannya, semakin dia tunda maka akan semakin berat dia meninggalkan pekerjaan ini, sama halnya dengan adu ayam, dia pun butuh waktu dan itu tidaklah cepat, banyak problema dan candu untuk kembali.
"Kamu mau buka di rumah?"
"Khusus warga sini Ajeng bolehin ke rumah, Pak Kades pun boleh, cuman ya sama saya jaga ayam bertelur ya, Pak. Pokoknya tetep seperti biasa, nggak pake dibayar juga, Pak. Ajeng ada di rumah, udah terbuka, kecuali kalau Ajeng ikut mas Arya kerja, nggak bisa bironya, kan tahu suami itu perlu perhatian loh, Pak Kades. Bapak kan mana mau istrinya main hape terus, ya kan?"
Pak Kades manggut-manggut. "Terus, solusimu bukanya gimana?"
Dikira Ajeng akan tegang bersama pak Kades, bahkan Hikam sudah memberitahu Ajeng cara terbaik berbicara dengan orang penting itu, justru di sini Ajeng seperti teman bersama pak Kades.
__ADS_1
"Oh, jadi kamu ada akun bisnis, jam balas gitu ya. Manteplah, kan ya ngurangin anggaran desa, tapi Jeng ... nanti, kamu ikhlas nggak?" jujur, pak Kades pun banyak masalah yang bisa diselesaikan Ajeng, kadang juga masalah anaknya yang hampir kesetanan. "Kalau kamu ikhlas, jelas saya bakal arahin ke kamu daripada cari pekerja lagi!"
"Jangan gitu, Pak Kades. Tetep ada yang standby di sini, kan nanti kalau Ajeng repot, dia bisa bantu!"
"Siapa?" tidak punya calon.
Ajeng berpikir sejenak, sepertinya dia tahu siapa yang pantas menjadi rekan kerjanya.
"Waduh, lah kok udah tua, Jeng!"
"Walaaah, Pak Kades ya ketemu Ajeng noram gini ya nggak masalah, yang penting itu solusinya, kalau Pak Kades nyari yang seksi, ya jangan di kampung ini, banyak emak-emak sama janda loh!" Ajeng lipat kedua tangannya, bernego dengan pak Kades nyatanya enak juga.
"Bentar, saya pikirkan lagi, masalahnya saya ya nggak pernah ngobrol sama bude Lastrimu itu, terus kandidat kedua bu Desi, apa ya dia bisa, Jeng?"
Ajeng mengangguk, sudah dia uji kendalinya, justru bu Desi banyak membantu Ajeng selama di sini, kalau di panti juru nasehatnya bude Lastri, sudah Ajeng beri lebel dan jaminan.
Krompyang!
"Aku nggak budek kan, Jeng?"
"Waaalah, Bude ini gimana sih, wong aku ini bicara jelas gamblang loh, pak Kades mau Bude datang ke kantornya sama bu Desi, mau dites wawancara, kira-kira cakap nggak, gitu!"
Bude Lastri ambruk di samping bu Tiwi yang batal memakai masker, retak seketika mendengar kabar Ajeng, kompor meleduk mau jadi biro konsul, apa tidak runyam nanti malahan.
Tunggu!
"Bu Tiwi nggak perlu khawatir, Bude ini punya bakat terpendam-"
__ADS_1
"Bakat terpendam gundulmu, Jeng. Wong dia kerjanya gosip dari pagi sampe pagi lagi, yang ada di sana itu dia bikin warga adu panco!" bu Tiwi menolak keras.
"Adu panco? Lah, apa ya parah gitu Bude?"
Bude Lastri bangkit dan sontak bersembunyi ke belakang bu Tiwi yang tetap mengibarkan bendera penolakan dari ajuan Ajeng itu, dia tak mau warga di sini perang hanya karena ucapan bude Lastri.
Lebih baik bu Desi, baiklah Ajeng akan membicarakan ini lagi dengan pak Kades nanti, demi kebaikan dan ketentraman warga kampung.
***
Arya sedikit mengerutkan keningnya, dia kira Ajeng hanya bercanda, nyatanya setelah dia mengangguk, istrinya itu benar resign dan menjadi ibu rumah tangga yang siap melahirkan banyak anaknya.
Dia amati wajah Ajeng yang sumringah, di pangkuannya ada si jago, Ajeng menghubungi Arya sambil menikmati kidung nyamuk di teras rumah, sebentar lagi pasti pak Darma bawa teh bandul untuk berdua.
"Mas, mbok jangan lihatin aku kayak gitu, merinding loh!"
"Dear, beneran?" terus Arya ulang pertanyaan itu karena dia sendiri tahu betapa senangnya Ajeng kerja di kelurahan. "Dear, sumpah gue nggak apa kalau lo kerja."
"Aku yang kenapa-napa, Mas. Kan, aku ya pengen ikut kamu kerja, takut kamu disantap sama buaya betina, kan orang ganteng terus sukses itu banyak yang ngincar, nggak maulah aku jadi rebutan kamunya!"
"Beneran?"
Ajeng mengangguk mantap sekali lagi, bahkan dia sampai bersumpah atas nama ayam di pangkuannya.
"Gue nggak bisa ngomong apa-apa, tapi yang jelas lo tahu gue nggak ada masalah, Dear. Jadi, ini keputusan lo dan gue dengan senang hati terima, asal lo seneng." Arya usap layar pipihnya.
"Ajeng ya seneng, bisa ikut kamu kerja, kan nanti kalau kamu capek, aku tinggal pijetin, Mas!"
__ADS_1
Duh, Arya sudah merinding, pijet plus-plus pasti.