
Sebelum pergi, tak lupa Arya berikan kecupan sayang di semua area wajah Ajeng, entah kenapa setelah menikah, istrinya itu bening di matanya, mau dikata matanya rabun atau apa, yang jelas menurut Arya ada kemajuan.
"Mam, Ajeng biar di kamar aja, tapi kalau Mama mau temen cerita ya ke kamar Arya nggak apa, udah aku tata, dia nggak kuat bangun katanya, salam ke Mama!"
Bu Ratih senggol suaminya, melirik singkat, ini pasti gara-gara Arya yang semalaman tak mau berhenti, pasti menantunya dibuat patah tulang di atas sana.
Hari ini niat hati istirahat di rumah saja, tapi karena pak Darma ada janji, mau tidak mau Arya harus mengemudikan mobil untuk ayahnya itu, meninggalkan Ajeng yang terkapar di kamar, lagipula kalau dia di rumah juga tak bisa berbuat apapun meskipun dia ingin, puasa masih berjalan.
"Ya', jangan lupa isi bensinnya, cari yang sebelah kiri aja, kayaknya di depan ada!"
"Oke," sahut Arya.
Kacamata coklat dia turunkan, kemungkinan baru tahun ini Arya puasa, kedua orang tuanya berharap tak ada yang lubanh satu hari pun, terlebih lagi sudah ada menu buka dan sahur yang lengkap untuk Arya di rumah.
Rian dan Juna menunggu di lokasi, mereka hanya ingin melihat dan belajar, siapa tahu ada tambahan ilmu dan bisa memberi masukan pada pak Darma.
"Ajeng kapan masuk kerja?"
Arya kerutkan keningnya, berhubung ini tengah minggu, kemungkinan minggu depan baru masuk, Arya hitung sisa hari istrinya ada di rumah.
Cie, istri sekarang.
"Tiga harian kayaknya, Pap. Mau ajakin Ajeng jalan?"
"Nggak, kan kamu ya harus kerja, nanti kalau dia di rumah aja, bosen kayak mamamu, jadi dapur nggak karuan, tepung terbang-terbang!"
"Ahahahahahah, Arya bilangin mama loh, Pap!" ancam Arya.
Pak Darma sontak terdiam, lalu tak berapa lama dia tertawa juga, tahu kekurangan istrinya itu apa, tapi dia bersyukur, Ajeng punya sisi sebaliknya.
Dia jamin dapur itu akan semakin ramai, tidak karuan.
Wajah Arya hari ini tak seperti mereka yang puasa pada umumnya, tampak segar meskipun tidak minum ataupun mengguyur kepalanya dengan air, matahari sedang terik-teriknya, tapi Arya menjelaskan dan melakukan perintah pak Darma tanpa keluhan, terlihat letih pun tidak.
"Gimana mau letih, orang dia semalem coblosan, minum madu susu banyak dia, kenyang pasti!" ujar Rian.
Juna terkekeh sambil manggut-manggut, "Emang bener si kampret tukang kocok itu, lemes semua, dia seger sendiri, yang di rumah ada sumurnya, ahahahaahahah!"
__ADS_1
"Menang banyak pasti dia, lihat aja, daritadi senyum-senyum, anak magang sampe nggak bisa kedip lihat dia, Jun ... coba belum ketemu Ajejengnya, pasti udah ke hotel sama anak magang!"
"Emang dia doyan sama yang anakan gitu?"
Rian lebarkan mulutnya, lalu dia tunjuk Arya yang fokus membantu ayahnya itu.
"Justru yang masih anakan gitu, Jun ... coba deh lo, kamar hotel bisa dibuat gempa, jeritannya bikin merinding-"
"Hush, puasa tahu!"
Rian bekap mulutnya sendiri, sampai dia lupa gara-gara membicarakan Arya.
"Lo bikin pahala gue habis, resek lo!" Juna tepuk ringan kepala Rian.
Rian garuk-garuk, "Habis gue ya gemeter!"
"Ellin nggak mau lo ajak?"
"Kan dia lagi hamil, nanti lah kalau udah nikah, muntah terus juga dia deket gue, bukan anak gue kali ya?"
Plak!
Juna tak mau dengar lagi, perihal orang hamil memang dia tak paham, tapi dia melihat teman dan saudara yang hamil memang begitu, ada hormon yang ngajak ribut.
Lambaian tangan Arya membuat keduanya harus berhenti bercanda, mau tidak mau mereka kembali berpanas ria demi ilmu dan perkembangan usaha yang ada, siapa tahu bisa kerja sama, tidak jadi pekerja saja.
"Segeran, Ya'?" senggol Juna.
"Pasti sahur porsi double nih!" timpal Rian.
Arya terkekeh, dia sugar rambutnya ke belakang, berhasil membuat anak magang gemetaran, mau kenalan.
"Sempit, Ya'?" Rian tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Wah, gila ... lo nggak akan bisa bayangin!" jawab Arya sambil menempelkan telapak tangan kanan pada telapak tangan kiri, seperti tak ruang bagi yang lain.
"Kalau gitu ya pantes si kampret ini nggak lemes!" oceh Juna.
__ADS_1
***
Jam makan siang, Arya gunakan istirahat di ruang kotak kosong yang dijadikan mushola para pekerja, dingin terpasang AC sesuai permintaan pak Darma agar yang di sana nyaman, terlebih lagi dijaga kebersihannya.
"Dear, ke mana aja sih lo, gue telpon nggak diangkat-angkat?"
"Baru aja habis lipet mukenah, perjuangan loh Ajeng ke kamar mandi sampe lipet mukenah, Mas ... jangan dikira!" balas Ajeng mengomel.
"Ahahahahah, mama ke kamar tadi?"
"Iya, ajakin Ajeng nonton sinetron bareng di sini, terus bu Ratih ngantuk, Mas ... balik ke kamarnya, mau peluk guling pak Darma katanya. Kamu di mana ini, kok ada suara orang ngorok?"
"Di mushola deket tempat papa, pada tidur habis sholat, ada Rian sama Juna juga, ngorok semua. Nanti, mau beli buka apa, Dear?"
Sebenarnya, Ajeng ya geli dipanggil begitu, kayak dia bule aja, ehehehe, tapi bagaimana lagi, si demitnya itu suka memanggilnya dengan panggilan itu.
"Gue beli sendiri?" Arya berdecak, mau sama Ajeng saja kalau beli.
"Lah, Ajeng susah loh jalannya, biar pulih dulu, bentar lagi kerja, kalau nggak bisa jalan gim-" diam, terkejut dengan sahutan Arya. "-kamu ini, kok bisa minta lagi, pake alesan bakal biasa, biasa gundulmu!"
"Ahahahahahaha, dibilangin nggak percaya, lama-lama nggak sakit, obatnya ya cuman itu aja, dibiasain!"
"Udah, Mas Arya beli sendiri, aku ikut cuman di mobil aja!" membayangkan turun tangga rumah ini saja kepalanya langsung pusing, apalagi sampai ke teras terus ikut keliling, gajah melahirkan saja ampun-ampun. "Aku tutup ya, lanjut tidur, lueeemesss aku, Mas!"
Arya tertawa tak bisa berhenti, sebenarnya pun semalam Ajeng mau menolak dan meminta ampun padanya. Tapi, Arya bilang menolak suami itu dosa besar, Ajeng langsung menyerah, nangis pun dia lanjutkan, menangis enak kata Arya.
"Senyum sendiri mikir apaan lo, Ya'?" Juna terbangun karena suara tawa Arya, belum lagi begitu dia duduk, Arya senyum sendiri. "Mikir buka puasa nanti, mau gaya apa ya?"
"Ahahahah, otak lo itu isian gitu doang, cuci laundry sekalian!"
"Halah, modelmu itu ya nggak jauh-jauh dari daleman, Ajejeng pasti kuwalahan!" balad Juna.
Arya tak bisa menjawab, dia hanya tertawa sambil berbaring, semua yang Juna katakan benar juga, istrinya itu kuwalahan.
Tapi, kan habis ini puasa lama, ke luar negeri, lanjut pemulihan ... batin Arya meringis.
"Liinn, terus!" gumam Rian.
__ADS_1
Juna tepuk keningnya, "Lah, dia puasa juga pikirannya nganu aja!"