Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Pengakuan Arya


__ADS_3

"Mas Hikam, beneran Ajeng nggak apa, udah biasa kayak gini dari jaman bahula, ehehehe, ini masalah kecil, biro konsul biasanya juga bahas ini kok!" Ajeng menolak halus tawara Hikam untuk pulang tarawih bersama, dia memilih menuntun sepedanya saja yang bocor. "Beneran, Mas Hikam!"


Hikam kebetulan tak bersama Dewi, dia bisa membonceng Ajeng, sedang sepeda itu ditinggal lebih dulu di masjid, besok akan dia urus, tapi adiknya ini terus saja menolak.


Baru setelah Hikam melihat ada Arya ke luar dari masjid bersama pak Darma, dia mengangguk dan membiarkan Ajeng menuntun sepedanya, sengaja dia tinggalkan, tapi sebelum itu dia hampiri Arya dan memberi kode akan keberadaan Ajeng.


"Mau ke mana, Ya'?" pak Darma celingukan bingung, mendadak anaknya mau kabur saja. "Heh!"


"Ada Ajeng di sana, ban sepedanya bocor, Pap. Aku bantuin dia, kan tanggung jawabnya Arya!"


Belum pak Darma jawab, sudah main lari saja anaknya itu, terpaksa pak Darma menunggu di parkiran sembari melihat istrinya sudah selesai atau belum.


Langkah Arya melebar mendekati Ajeng, wajah Ajeng kembali gelisah saat Hikam menjauh dan meninggalkannya, dia ingin sekali dibonceng tadi, tidak masalah sepedanya harus dia tinggal di sini, hanya saja hatinya sedang kalut, dia tidak mau kalau sampai Hikam memikirkan dirinya terlalu dalam, sudah cukup dia merepotkan Hikam di kelurahan akan gosip Arya ini.


"Dear," panggil Arya sambil menepuk bahu Ajeng.


Ajeng tersingkap kaget, dia berbalik dan melebarkan matanya, jejak sembab tak bisa dia alihkan dari Arya, mata pria itu langsung menangkap sorot mendung di matanya.


"Hei, apaan ini?" seperti tidak percaya Ajeng bisa tampil sedih seperti ini, Arya takup wajah Ajeng. "Lo kenapa kali, heh?" sorot mata Arya menajam.


Ajeng bergeleng, dia cari alasan lainnya, tak masalah kalutnya tak tersampaikan, yang penting ada Arya di dekatnya.


"Banku bocor, Mas Arya." adunya, Ajeng tunjuk sepedanya yang tergeletak, bahkan sepeda ikut kehilangan semangat. "Bingung ini loh bawanya, gimana mau nuntun, aku belum buka sama nasi loh?!"


Arya terkekeh, dia sugar rambutnya ke belakang, kedua tangannya sigap mengangkat sepeda itu kembali tegak, Arya sandarkan pada tubuhnya.


"Pulang bareng gue aja, sepedanya bisa gue iket di belakang, ada tali, ayo!"


"Tapi-"


"Ada mama sama papa, Jeng. Siniin tangannya!"


Malu-malu Ajeng gapai uluran tangan Arya, sebelum melangkah, dia gulung tisu lebih dulu, ingusnya mau ke luar, dan itu berhasil membuat Arya tertawa sambil menuntun sepeda di tangan satunya.


Pak Darma dan bu Ratih terkejut melihat siapa yang bersama Arya, mereka kira Ajeng akan meragu karena kehadiran Ellin di desa ini, belum lagi Ellin berbadan dua dan menuduh Arya yang menghamilinya.

__ADS_1


"Pak, Bu ... maaf loh, Ajeng ini jadi ngerepotin, sepedanya bocor!"


"Walah, nggak apa. Ibu malah seneng ketemu kamu, tuh Arya udah engap di rumah, begitu ketemu kamu, jadi segeran mukanya!" bu Ratih tunjuk wajah Arya.


Ajeng menoleh, "Segeran, Mas?"


"Apaan sih?!" balas Arya sambil memalingkan wajah, dia bergegas mengikat sepeda Ajeng agar mereka segera pulang.


Malam ini, apa yang Arya rahasiakan akan dia buka, hal yang tidak ada satu orang pun yang tahu, kecuali dia dan dokter yang bertanggung jawab.


Sengaja Arya ajak Ajeng ke rumah, walau di sana ada Ellin dan ibunya, semua ingin dia jelaskan secara rinci dan jelas, tak ada kebohongan lagi.


Ellin melirik sinis dan sempat mencibir Ajeng, perbandingan dia dan Ajeng ya jelas jauh, semua orang tahu itu, anak kecil saja bisa menilai siapa yang cantik dan tidak tanpa perlu Ellin dandan.


Tapi, Arya tidak butuh itu.


"Apa ini, Ya'?" pak Darma kaget.


Arya buka bukti berkas perjanjiannya dengan dokter di salah satu rumah sakit ternama luar negeri itu.


Bukan hanya pak Darma, semua orang di sana dibuat kaget akan kenyataan pengakuan Arya, tapi jelas di sini Arya masih aktif memakainya, dengan kata lain, kalaupun Arya benar menggoda Ellin, gadis itu seharusnya tidak hamil, walaun ada kemungkinan kebocoran, dipastikan tidak ada, selama Arya di luar negeri pun dia melakukan kontrol pada dirinya.


Dan, semua itu lagi-lagi terbukti benar.


Ajeng garuk-garuk kepala, "Anu, Ajeng nggak paham ini ... ini gambar apa, Mas?"


Puurrffftt ....


Yang lain pada bingung baca berkas rumah sakit, Ajeng justru fokus pada gambar garis membentuk senjata lelaki yang tengah dioperasi.


"Nggak ngerti?" balas Arya.


"Kayak timun ya, ahahahahah, apa sih ini?" dia tunjuk lagi, lucu ada barisan titik dan garis bersambung-sambung, lalu ada panah dan nomornya. "Apa, Mas?" tanya dengan suara pelan, Arya duduk di sebelahnya.


Bisa dikatakan 99% percakapan dan penjelasan Arya tadi tidak masuk ke kepala Ajeng, matanya fokus ke gambar-gambar.

__ADS_1


"Burung kocok gue," jawab Arya.


"Lah, buesar?" Ajeng tutup mulutnya, semua orang di sekitarnya sontak menoleh, dia menjadi pusat perhatian. "Ehehehe, anu, Ajeng kelepasan, mau ke belakang sebentar!"


Pipis, dia mau pipis, ahahahah, terbayang di kepalanya gambar apa itu tadi, burung kocok yang sedang dibahas, semua serius, dia jungkir balik sendiri.


Hilooo, digambar segitu besarnya, kalah punya kambing yang biasa di kikil itu. Waduuuuhhhh, yang bener ada manusia punya begituan, sadar, Ajeng!


Ajeng hampir berteriak, mendadak ada tangan yang melingkar di pinggangnya dari belakang, Arya bekap mulut itu dengan tangannya, memutar Ajeng hingga mereka berhadapan.


"Yang buesar tadi apa, Jeng?"


Waduh, mati aku!


Arya naik turunkan kedua alisnya bergantian, "Lo paham tadi itu liat apaan, hah?"


"Eng-enggak, eh iya aku paham!" dia melirik ke bawah. "Burung kocok katamu, tapi Mas-"


"Apa?" Arya sengaja mengintimidasi Ajeng, dikerjai begini lucu. "Tapi, apa?"


Ajeng blingsatan, tubuhnya tak berkutik, Arya membuat dia terpojok.


"Lo sebenernya paham nggak sama yang gue jelasin tadi?"


"Iya, aku paham kok, kamu jelasin soal anu-"


"Apa?" potong Arya sekali lagi.


Ajeng berkeringat, panas dingin dipojokkan begini.


"Gue tanya, jawab!"


"Ukuran burung kocok!" jawab Ajeng setengah berteriak, matanya terpejam.


Nggak tahu, bahas apa tadi ya? Gambar itu, cuman gambar itu!

__ADS_1


__ADS_2