Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Menu Buka dan Sahur 2 (MP)


__ADS_3

Waduh, belum apa-apa kakiku udah gemeteran, tanganku tremor rasanya ... mas Arya masih ngobrol sama bu Ratih kan ya, aman kalau gitu, aku pura-pura tidur aja, dia nggak bakal bangunin aku dan aku ya nggak bakal kebangun kalau udah ngorok, ahahahah ... ayo, Jeng, takut ya takut aja, lah segede itu gambarnya.


Ajeng gulung rambutnya ke atas, dia baru saja mandi dan air di kamar mandi Arya beserta sabunnya membuat dia merasa lebih segar dari mandi di panti, apalagi AC di kamar ini, baru masuk saja Ajeng sudah butuh jaket.


Hup!


Dia sembunyi di balik selimut, Arya memintanya berganti baju tidur yang sudah bu Ratih belikan, tidak terbuka hanya saja kainnya tipis, menjiplak lekuk tubuhnya yang selama ini disembunyikan dengan baju longgar.


Dada, jadi terlihat bergerak-gerak kalau memakai baju tipis seperti ini, takut jadi sapi perah malam ini.


Jarum jam terus berputar, rasa-rasanya waktu malam ini sedikit lebih lambat hingga dari tadi yang dia lihat masih diangka dua belas, belum mau beranjak.


Tok, tok, tok ...


Bu Ratih tepuk bahu Arya, "Heh, ini kan di rumahmu, kok pake ketuk pintu?"


"Oiya, Arya lupa, Mam. Arya masuk dulu, mau main sepak bola!"


"Hush, anak kok dari kemarin pikirannya main sepak bola terus!"


Percuma bu Ratih mengomel karena nyatanya Arya sudah masuk dan tidak terlihat lagi, kamar ini akan menjadi gaduh sampai waktu sahur, bu Ratih jamin itu, dia tahu kasus anaknya, pastilah besok dia akan melihat Ajeng mati kutu.


Kok ya dia bisa aja dapet perawan, aku kira dulu dia bakal dapat janda atau apa, Arya-Arya?


Bu Ratih padamkan lampu di depan kamar Arya, lebih baik dikasih gelap saja, nanti kalau terang dikiranya masih ada orang, jadi malu mau coblosan.


Di dalam kamar,


"Dear, bangun!" Arya merangkak naik, dia hanya memakai celana pendek di atas lutut dan kaos tipis berwarna abu-abu, kulit bersihnya terlihat sangat terang. "Dear, gue tahu lo lagi pura-pura tidur, kan biasanya lo begadang, jam segini nemenin ayam, hayo!"


Duuuhhh,


"Dear, nggak bangun, gue buka paksa bajunya!" ancam Arya.


Ajeng tak bergeming, dia masih merapatkan matanya, benar-benar bergaya tidur, tapi yang membuat Arya senang dan tahu Ajeng berbohong adalah keringat di kening gadis itu, di kamar yang sangat dingin dan sedang tidak demam, mana bisa berkeringat begitu kalau bukan takut.


Perlahan Arya usap pipi Ajeng, dia berjanji akan melakukan semuanya dengan lembut, tak akan menyakiti dalam arti lebih, dia tahu Ajeng akan merasakan sakit saat dia robek selaput suci itu.


Cup!

__ADS_1


Arya kecup bibir Ajeng yang bergetar, membuat kelopak mata itu terbuka lebar, Arya kecup lagi kedua kalinya, ini lebih lama dia biarkan menempel.


Tubuh Ajeng tak berkutik karena pemuda ini setengah menindihnya, tahu begitu dia tidur miring supaya Arya tidak bisa menindihnya, kalau begini terlentang, seolah dia siap diserang.


"Ngantuk, Mas ... ayo, tidur!"


Arya menyeringai tipis, dia justu merapatkan tubuhnya, dadanya bertemu dengan dada Ajeng yang berdebar, keduanya berdebar tidak karuan.


Kembali dia kikis jarak yang ada, sesekali dia tersenyum melihat Ajeng yang gelapan.


"Bales dong!"


"Nggak tahu, gimana balesnya, Mas!"


"Ikutin gue!" Arya cium lagi, dia teruskan sampai Ajeng bisa mengimbangi gerakannya.


Satu tangan Arya menjadi tumpuhannya, sedang satu lainnya mulai bergerilya, dia tahu Ajeng terkejut setiap kali kulit mereka bertemu, sekali lagi dia berjanji dalam hati akan berlaku lembut, ini bukan soal gairah, tapi permainan hati yang dilibatkan juga.


Ajeng bukan tempat dia mencari kepuasan seperti dulu, tapi tempat dia kembali dan pulang, sosok yang sedap dia pandang disemua waktu.


"Eumm, Mas, kok diremet?" setengah sadar bertanya begitu.


"Dibikin tambah besar," jawabnya berbisik. "Tiga lapan jadi empat puluh, Dear!"


Ajeng mau menjawab, tapi bibirnya sudah Arya bungkam hingga tangan-tangan itu herhasil membuat keduanya tampil polos, hanya selimut yang menjadi balutan keduanya.


Merem melek Ajeng dibuatnya, dia remat dan tarik rambut Arya saat sentuhan di tubuhnya semakin hebat, naik-turun tak terkendali, nafasnya mulai memburu, dia mau berteriak dan bersorak, rasanya ada yang mau ke luar dari dirinya sampai gemetaran begitu.


"Aaaarrrrghhh, APA INI, MAS?!" mau bangun, Arya tahan. "Ngeganjel ini apa, Mas?" matanya sontak berair.


Cup!


"Aaaarrrrrrghhh, UDAH, MAS, UDAH!"


Cup!


"Aduh, aduh, aduh, aduh, apa ini, Mas, apa?" dia menangis sungguhan, sedikit mengintip ke bawah, samar-samar dia lihat ada bergerak di sekitar pahanya. "Aduh, aduh, aaaampuunnn, Mas Arya ... apa sih ini, nggak abis-abis, aduuuhhhhh!"


Arya tak bergeming, dia hentikan sejenak, sebagian sudah dihimpit sesak, rembesan merah di bawah sana mulai membasahi miliknya.

__ADS_1


"Maaaaass, mbok yaudah, sakiiitt!" pinta Ajeng sesenggukan.


"Belum selesai, Dear ... tahan bentar!"


"Aku tendang boleh ya?"


Loh, loh!


Sebelum terlambat, Arya dorong sisanya hingga tertancap sempurna dan utuh.


"Aaaarrrrrrrrgghhhhhh, sakit, Mas Arya ... besok jadi kikil loh kamu!"


***


Semua tulang di tubuh Ajeng rasanya patah semua, mandi dimandikan, makan di kamar, buang air digendong, kalau boleh dia mau pakai pampers saja.


"Ya', Ajeng puasa hari ini?"


"Puasa, Mam ... sahur kan Arya anterin ke kamar tadi," jawab Arya santai, dia mau mengantar pak Darma ke tempat usahanya. "Mam, papa masih lama?"


"Lima belas menit lagi, perutnya sakit katanya, nanti Mama panggil kamu," jawab bu Ratih, dia penasaran menantunya kenapa, terakhir melihat Ajeng itu pulang kemarin, sahur pun tak terlihat batang hidungnya. "Ajeng sehat kan ya, semoga deh!" gumamnya sambil melirik ke kamar atas, Arya baru masuk ke kamar itu lagi.


Di balik selimut yang baru Arya lebarkan pagi ini, sementara bekas semalam dia lipat di pojokan kamar beserta seprei kenangannya, wajahnya segar, sahur banyak dia.


Arya duduk di tepi ranjang, dia tusuk pipi Ajeng sambil menahan tawa.


"Kuat puasa?" tanya Arya.


"Kuat, tapi Ajeng nggak mau ke luar kamar ya, Mas. Kaki sama tanganku tremor semua, gemeteran, kamu brutal!"


"Ahahahahahah, kok brutal?" balas Arya sambil mendaratkan kecupan di kening terlipat Ajeng.


"Ya, Brutal ... katanya sekali, mau sahur lagi, habis makan lagi, mau shubuh lagi, remuk Ajeng ini, untung nggak aku jadiin campuran kikil kambing loh!" omelnya. "Di kikil itu biasanya empuk, lunak, ini kayak batu bata!"


Arya terguling karena tawa, burung kocoknya dibilang batu bata.


"Tapi, enak kan, Dear?"


Plak!

__ADS_1


"Enak burungmu!" Ajeng tarik selimut sampai batas dagu. "Buka jangan minta lagi ya, copot nanti kakinya Ajeng, Mas!"


__ADS_2