
"Anakmu itu, Ma. Papa sampe gedek kalau sama Arya, karena dia dan idenya yang aneh itu, semua pekerja cewek di sana, emak-emak pada coba beli tisu pembesar sama balsem kalau yang nggak kebagian!" adu pak Darma.
Bu Ratih yang menyambut kedatangan keduanya hanya bisa tertawa, terlebih lagi pulang-pulang Arya sudah seperti bayi koalanya Ajeng saja, bergelayut manja dan tak mau lepas, takut Ajeng terpengaruh pada ocehan pak Darma
Kan, bapaknya sendiri saja dibilang ngoceh!
Ajeng melirik sedikit, dia tepuk paha Arya yang sudah berbeda, ada yang menonjol di sana, baru pulang masa iya langsung jatah, mereka juga sudah masak banyak untuk dinikmati bersama.
"Jeng, ajak suamimu makan, kan tadi kamu masak apa aja itu. Biar Arya muji masakan kamu kayak bu Tiwi sama bude Lastri!"
Ajeng mengangguk, dia endak berdiri, tapi Arya lebih dulu menahannya, membuat Ajeng duduk di pangkuannya tak kenal malu.
Dari semua pesan yang Ajeng kirimkan, tak ada itu yang namanya bu Tiwi datang ke rumah mereka, semua yang Ajeng katakan hanya seputar masakan dan ayam telurnya.
"Lo bohong ke gue, nggak suka!"
"Bohong apa sih, kan cuman kedatangan bu Tiwi sama bude Lastri aja, Mas. Itu juga mereka nggak sengaja dateng ke sini, habis ada undangan kebetulan deket sama-"
"Ya gue nggak peduli, siapa aja yang ketemu sama lo, harus bilang ke gue. Kalau lo ngira gue posesif, itu bener, that's true, Dear!" Arya cengkram lembut pipi Ajeng. "Gue nggak mau satu orang pun yang ketemu sama lo waktu gue nggak ada, dan gue nggak tahu itu. Mau dia cowok atau cewek, gue harus tahu, you understand?"
Ajeng mengangguk, mengangguk tidak paham maksudnya, under-under itu tidak masuk ke kepalanya, mengangguk saja karena Arya cukup puas kalau dia sudah menyatakan diri akan menurut padanya.
"Terus, mereka bahas apa aja?"
"Mas nggak mau makan dulu, mau ngobrol dulu?" Ajeng kan mau memamerkan masakannya, jerih payah tangan yang dulu jago tepuk si jago, apalagi yang dia masak ini bukan ayam, dia mau dipuji. "Mas nggak mau switan buat aku masalah makanan?"
"No, gue mau denger penjelasan lo dulu, then gue makan!" Arya kunci pergerakan Ajeng. "Dear, lo makin berisi tahu nggak, keren menghibur mata gue-"
Plak!
__ADS_1
Ajeng silangkan kedua tangannya ke depan dada, tapi Arya tarik tangan itu, dia berkedip genit, ngomong-ngomong dia pun memesan satu tisu laknat itu ke para pekerja wanita, dia mau Ajeng minta ampun dan membuktikan keperkasaannya.
"Gue jadi haus!"
"Mas Aryaaaaa, bisa nggak sih kamu itu kalau ketemu aku nggak mesum?"
"Nggak." jawaban yang menyebalkan.
"Terus, kalau ketemu aku mesti cuman mau itu, nggak ada niatan nyenengin aku yang lain?"
"Helo, Dear... gue kasih semua ke lo, gue ke luar rumah aja minta uang sama lo, and then lo tahu kalau semua yang gue mau ada di lo, termasuk kalau gue haus, minta sama lo." Arya tarik tali bra yang timbul itu. "Oke, gue makan, lo jangan marah. Gue bakal makan masakan lo yang pastinya enak, jangan marah!"
Ajeng mendengus, si burung kocok satu ini kalau tidak dia kasih tunjuk taringnya, pasti dia akan kalah dan semalaman sampai besok ayam berkokok, dia tak akan bisa makan, dimakan yang ada.
Keduanya melangkah ke dapur, di sana semua masakan Ajeng berada, melambai-lambai pada Arya yang keroncongan.
Bu Ratih sampai memejamkan mata, tingkah anak semata wayangnya itu, punya anak sebiji saja membuat kepalanya mau pecah, tahu kalahnya sama Ajeng, sejak bayi dia nikahkan sama Ajeng.
Sayang sekali, saat Ajeng main perosotan di TK, Arya masih baru melihat dunia, masih minum susu.
"Ya', di tasnya Papa ada apa ini, dure-"
"STOP, PAP!" Arya rebut cepat, salah masuk ke tas pak Darma.
Dure-dure-dure... Tanda tanya banyak di atas kepala Ajeng, sedangkan Arya langsung merebut benda sakral itu dari tangan pak Darma sebelum piring melayang dan makanan di sini tumpah, saling melempar satu sama lain.
***
Sebagai orang tua, mereka merasa memang tak sempurna mendidik Arya, kekurangan mereka memang banyak, tapi sejak kecil sudah banyak guru yang didatangkan demi mendidik Arya.
__ADS_1
Keduanya mengesah pelan, siapa yang tak tahu benda keramat yang dibawa Arya itu meskipun Arya mengaku kalau itu pemberian yang bisa Arya manfaatkan bersama Ajeng.
Jeglek,
Arya ke luar dengan rambut acak, tentu baru saja dia selesai bertempur dengan Ajeng, sengaja ada pertemuan anggota keluarga inti di sini.
Hanya pak Darma, bu Ratih dan Arya, menantu mereka si Ajeng sudah Arya buat tidur karena kelelahan.
"Kamu jelasin ke kita ini, Ya'. Apa bener itu cuman pemberian, hadiah, bukan yang kamu dapet dengan tujuan lain?" pak Darma masih membahas masalah perbekalan making love yang Arya bawa, terlebih lagi masuk ke tasnya pak Darma. "Kamu udah nikah sama Ajeng, terus si burung kocokmu itu udah bebas, dia bisa membuat wanita hamil, Papa cuman nggak mau ada kasus kamu main sama cewek. lain di belakang Ajeng, dia itu tulus sama kamu, Ya'. Jelasin yang jujur sekarang!"
Arya menghela nafas. "Arya rasa nggak terlalu repot ngejelasin ini, Pap, Mam. Karena emang sebenarnya itu dari ibu-ibu genit di tempat kerja, habis Arya kasih saran, mereka beli, ada lebihnya, terus dikasih ke Arya, jelas Arya terima lah tahu fungsinya buat apa. Terus, kalau Papa mikir aku main di belakang Ajeng, emang aku main di belakang Ajeng, dari samping aja model begitu udah aku coba sama Ajeng, pake yang tadi si Dur getar, makin enak aku mainnya sama Ajeng, mau belakang, depan, samping-"
"Hush, kamu itu-!" bu Ratih jadi malu sendiri, ini dulu dia ngidam apa sampai punya anak, otaknya mesum.
"Arya cuman ngomong apa adanya, main belakang yaiya, sama Ajeng, dari belakang yang bener, masa iya Papa sama Mama nggak pernah tahu ***** *****?"
What!
Aryaaaaa, membusuk kamu di tahanan tanah seharusnya!
Pak Darma habiskan satu cangkir besar teh hangat dalam satu tegukan, bablas, edan karena jawaban Arya, bisa-bisanya orang tua diajak ngobrol begini, menjawab bebas hambatan.
Terus itu, kok ya bahas ***** ***** segala!
Dikira pak Darma nggak paham?! Eh.
"Intinya, Arya nggak selingkuhin Ajeng, dia satu-satunya, nggak ada lagi, cukup sama dia semua gaya Arya-"
"ARYA, YA TUHAN!"
__ADS_1