Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Gejala Kedua


__ADS_3

Sabun dari Korea sudah dipastikan Arya singkirkan semuanya, sang istri kembali memakai sabun yang biasa dipakai dulu, ditambah minyak wangi untuk dinas malam.


Ya, karena takut suaminya selingkuh, Ajeng akan memberikan servis setiap malam, bahkan meninggalkan Arun yang biasa terlelap dalam dekapannya.


"Dear, kepalaku pusing tahu nggak, sakit," keluh Arya.


"Mas kebanyakan nembak kali jadinya sakit kepala, besok apa mau libur?"


Arya dekap pinggang yang kini penuh lemak itu, tapi dia suka, kalau sedang bercinta bagian itu akan bergoyang-goyang, tak rela kalau malam harinya tanpa kegiatan panas yang sudah rutin dia lakukan bersama Ajeng hampur satu bulan ini.


Pergantian hari semakin cepat hingga Arun menginjak usia satu tahun, bocah gembul lucu itu tak hentinya menarik perhatian Arya, walau setiap malam berusaha keras membuat adik untuk Arun, di pagi sampai sore, dia selalu meluangkan waktunya untuk Arun.


"Mas, kemarin aku udah kirim bingkisan ulang tahun Arun ke rumah mas Hikam, kan mereka dateng cuman lupaan hadiahnya, eheheh... terus, nanti aku mau-"


"Dear, jangan capek-capek!"


"Iya, aku nggak capek, ini buat Arun juga supaya semua bingkisan ulang tahunnya tersebar, terus aku bisa seharian sama dia lagi, sibuk loh bagi bingkisan, Mas!"


"Iya, Dear. Sini sama Arun, aku dari tadi mainin pipinya yang semakin gembul, dia mirip aku banget ya, kalau cowok nanti adiknya bakal mirip kami, Dear."


"Jangan dong, Mas!" Ajeng masih parno dengan gen yang dia bawa. "Kalau anak itu mirip kamu kan lebih bagus, Mas!"

__ADS_1


Arya rengkuh pinggang bergelambir istrinya itu, mendaratkan banyak kecupan di pipinya, semakin hari entah kenapa dia semakin cinta.


"Perpaduan kita itu bagus, Dear. Ingat, kalau aku jadi bagus pun juga lewat pertemuan sama kamu, jadi kamu itu yang terbagus. Arun, Mama cantik kan ya?"


"Ma-ma!" suara lembut Arun membuat hati Ajeng bergetar. "Mam-mama!"


Ajeng dekatkan wajahnya, bayi itu menjerit, terkekeh sampai giginya terlihat semua.


"Ini yang bikin bocel semua cucunya Mama," ujar Ajeng gemas, dia buka mulut anaknya.


Arya ikut bergabung. "Dear, giginya Arun ada berapa? Kok bisa sakit ya, padahal aku yang giginya banyak aja malah bikin kamu enak!"


Hush!


Pelukan Arya membuat Ajeng terhuyung, bahkan bayi mereka berada di paling atas, saling menindih dan tertawa.


"Mas, Arun nanti jatuh!"


"Nggak, aku pegangin kalian, Dear. Dua sayangnya Papa!"


"Ahahahahah, kam-..." Ajeng menutup mulutnya.

__ADS_1


"Dear, kenapa?"


Ajeng bergeleng hebat, dia lepaskan tangan Arya, lalu dia berikan Arun ke dada Arya, dia berlari ke belakang sampai mau menabrak lemari, lalu tak lama suara muntahan terdengar dari sana.


Huek, huek, huek....


Bu Ratih yang kebetulan ada di dapur langsung menyusul Ajeng, berteriak memanggil Arya karena Ajeng tergeletak di dekat wastafel, bahkan masih mual dan wajahnya pucat.


Berlarian Arya menghampiri istrinya, memberikan Arun pada sang nenek, lalu dia gendong, membaringkan Ajeng di meja makan.


"Arya, istrimu bukan pindang, di sofa sana!" tegur bu Ratih.


Pak Darma yang baru selesai menghitung telur ayam, langsung berhambur membantu.


"Kita panggil dokter aja!"


Arya cegat tangan pak Darma. "Arya tunggu sampe dia sadar aja, Pap. kasih minyak, takutnya ini gejala hamil anak kedua Arya, kita emang lagi rencana dari lama, sampe Arun setahun-"


"Hussh, kasih minyak dulu, kamu pidatonya nanti!" Bu Ratih takut Ajeng semakin lama sadarnya.


"Tapi, Mam... ini minyak telon Arun!"

__ADS_1


"Heh, yang penting bukan minyak goreng!" sahut bu Ratih gemas lama-lama.


__ADS_2