Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Yang Tenang


__ADS_3

Tangisan Ellin pecah, dia meraung mau kabur ke rumah Arya, dia mau memaksa pria itu menikahinya, bukan bersama Ajeng.


Walau sudah diberitahu soal niatan Arya menikah dengan Ajeng minggu depan, tetap saja dia bertekad membuat kampung itu gempar karena kehamilannya.


Rian tak menolak sama sekali, dia sadar betul sebelum kembali ke luar negeri kemarin, sudah menjelaskan pada Arya juga, hanya saja dugaannya salah di mana Ellin justru tak suka kalau dia bertanggung jawab.


"Kamu mau ke mana, Sayang ... jangan kayak gitu!"


"Aku mau ke kampungnya mas Arya, aku mau dia nikah sama aku dan jadi bapak anak ini, Ma!"


"Kan, ini anaknya Rian, kamu kan udah denge lr dia nggak nolak sama sekali, dia mau nikahin kam-"


Aaarrrrghh,


Ellin mengerang, dia tarik sedikit rambutnya menyamping, mengusir pusing yang ada, hanya saja terus ada dan dukungan untuknya bertemu Arya sangatlah minim.


"Intinya aku mau ke rumahnya mas Arya, kalau sampe aku nggak ketrima ya aku bakal buat heboh di kampung itu, nggak akan kuat si Ajejeng sama orang tuanya mas Arta nahan aku, yang nikah aku sama mas Arya!"


Jujur saja, selama berhubungan dengan Rian, yang ada di kepala Ellin yakni bayangan Arya, dia melakukannya atas dasar hasratnya pasa Arya yang tak tersampaikan.


Masa bodoh dia bersama Rian itu bukan yang pertama, tapi ya kalau secara biologis, ini memang anak Rian, berbeda dari pengakuan karena Ellin menomorsatukan perasaan yang dia bawa saat berhubungan.


Ini anak Arya!


Bu Uwi tak menunggu lama, dia menghubungi Rian yang saat ini menunggu kabar terbaru dari Ellin, kemarin sudah Rian temui, hanya saja dia diusir Ellin.


"Gue baru tahu ini loh, hamil sebelum nikah, terus mau diakui anaknya, malah kabur nggak jelas, milih cowok lain yang nggak mungkin mau, bukan dia yang buat, masa disuruh tanggung jawab. Ajejeng bisa marah itu, Yan!" ujar Juna, dia merasa beruntung tak terpancing oleh Ellin, bisa sama pusingnya seperti Rian. "Menurut gue, lo kasih tahu Arya biar dia ada persiapan sebelum Ellin sampe sana!"


"Lah, emang kamu kira di sana itu kayak mau ke mini market aja, hah?" Rian balas sambil memijat pelipisnya, pusing mendera sejak Ellin mengaku hamil.


Jelas, Ellin menemui dia yang pertama saat tahu kabar ini, bahkan gadis itu sempat menangis di dekapan Rian. Namun, inginnya akan Arya tak terbendung hingga dia mau menghalalkan banyak cara di sini.

__ADS_1


"Dia nggak tahu aja gimana bucinnya Arya sama Ajejeng, ngomong sama kita aja dimarahin dia, apalagi sama Ellin, habis tuh cewek. Lo halangi dong, Yan!"


"Halangi gimana?"


Rian sama sekali tak bisa berpikir jernih, penolakan Ellin sudah cukup mengganggu kerjanya hari ini, dia yakin Arya masih sibuk di sana, belum juga memberi tahu Ajeng, dia masih menunggu apa benar Ellin nekat sampai sana.


"Lo ada buktikan kalau itu anak lo, bukan Arya?"


"Ya, ada. Ss dari chat gue, apa gue kirim ke lo sekarang?"


Benar, itu yang penting sebagai bukti kuat janjian mereka berdua. Rian lanjutkan lagi pekerjaannya, cepat atau lambat, masalah ini akan terbuka dan menguras pikiran orang yang terlibat, termasuk Ajeng dan Arya.


Juna semangati temannya itu, hamil sama siapa, meminta tanggung jawah pada siapa, huh.


***


Hikam mondar-mandir mencari di mana adiknya berada, gadis itu harus dia temukan saat ini juga, mengingat kabar gempar yang ada.


Bukan hanya gempar, ada wanita hamil di desa ini yang mengaku sebagai wanitanya Arya, bahkan bukti kehamilannya dan foto lama bersama bu Ratih pun ada.


"Bu Desi lihat Ajeng?" tanya Hikam dengan nafas memburu, kejar-kejaran sama kabar yang beredar di luaran.


"Ajeng?" dia ingat-ingat dulu. "Oh, iya ... tadi sama Jono ke toko deket sini, kan ada penyuluhan, butuh air mineral, mereka beli, Mas Hikam. Ada apa?"


Duh, itu artinya Ajeng lebih dulu bertemu dengan orang luar dibandingkan dirinya, yang berarti lagi gosip dari luar negeri itu akan dia dengarkan.


Hikam tinggalkan bu Desi begitu saja, dia menunggu Ajeng di depan pintu gerbang kelurahan dengan wajah cemas, entah apa yang akan hadir di wajah adiknya yang polos dan butuh penjelasan panjang itu.


Siap, bersedia, Ajeng datang Hikam!


Hikam cegat motor Jono, meminta Ajeng turun lebih dulu sampai dia pun kerepotan membawa dus-dusan air mineral di tangannya.

__ADS_1


"Mas Hikam kenapa kok panik gitu sama Ajeng, apa ada yang salah?"


Hikam giring adiknya segera ke ruangan kerjanya, dia kunci rapat hingga tak ada satu orang pun yang tahu.


"Dengerin Mas baik-baik, ini kabar ngejutin kamu, tapi Mas harap kamu bisa terima dengan baik dan percaya, oke!" dadanya naik turun seirama dengan kedua tangannya. "Jeng, ada gadis yang datang dari luar negeri namanya Ellin, dia-" bla, bla, bla, Hikam jelaskan semuanya.


Setiap kata yang Hikam lontarkan, mata Ajeng terus melebar, nafasnya memburu, kedua tangannya terkepal, mulutnya meliuk-liuk komat-kamit, lalu rambutnya mulai mau lepas dari ikatan saking tegangnya, kakinya tidak sabar mau kabur, detik berikutnya dia duduk lemas di bangku Hikam.


Pandangan Ajeng kosong, otaknya mulai berputar, mencari keyakinan mana yang harus dia pilih, ucapan Hikam atau yang menyebar di masyarakat.


Dia akan dijuluki wanita tidak tahu diri yang tega memisahkan anak dan bapak atau mempengaruhi calon bapak menjauh dari ibu dan anaknya, Ajeng tidak mau nama panti ikut buruk karenanya.


"Mas Arya kasih tahu Mas Hikam tadi?"


"Iya."


"Kok dia nggak ngabari Ajeng?"


"Dia udah telpon kamu, tapi nggak bisa, hape kamu mati!"


Eh, iya benar karena batreinya habis, Ajeng isi dan belum dia nyalakan, begitu dia hidupkan, Ajeng lihat banyak pesan dan panggilan Arya, calonnya itu mencoba untuk memberi penjelasan.


Suara Arya terdengar frustrasi, "Lo ke mana aja sih, Dear, ya ampun, gue-"


"Tenang, hapenya Ajeng mati, Mas Arya. Tapi, Ajeng udah denger dari Mas Hikam, sekarang Ajeng minta kamu tenang ya, jangan gegabah!"


"Nggak gegabah gimana, kalau lo mendadak-"


"Mas Arya, dengerin Ajeng!" Arya pun diam. "Ini tuh namanya ujian orang mau nikah, aku sering denger orang curhat gitu, kalau kamu bener, pasti ada jalan, Ajeng nggak ke mana-mana kok, apapun yang Ajeng lakuin, percaya ... kita bakal jadi agen telur fenomenal!"


"Kok agen telur?"

__ADS_1


Eh,


"Walah, otakku isinya ayam semua e Mas Arya!" tertawa ditengah badai.


__ADS_2