
Ellin basuh wajahnya yang pucat, dia baru saja mual hebat dan itu terjadi di rumah Arya, ibunya membawa dia ke rumah bu Ratih karena mereka tak ada keluarga di kampung ini.
Kehadiran Ellin saja sudah membuat gempar, apalagi sampai mual dan terdengar ke rumah sebelah, bahkan ada yang sengaja menunggu di dekat pagar tembok rumah bu Ratih, hanya untuk mendapatkan kabar terbaru.
Sesuai janjinya, Ajeng temui Arya sepulang kerja, idenya tak diterima pria satu ini, bak benang kusut memang mereka diciptakan untuk bersatu, serumit apapun, mereka harus bertemu untuk menjelaskan isi kepala keduanya.
"Gini loh, Mas Arya-"
"Gue nggak setuju kalau harus nggak ketemu lo!" potong Arya tiba-tiba, kedua tangannya terlipat di depan dada.
Duh, coba sudah buka puasa, Ajeng jamin langsung memeluk pria satu ini, seperti di film-film kalau menenangkan pasangan, tapi di sini dan saat ini hanya bisa saling memandang saja.
"Mas Arya, Ajeng itu nggak kabur dari kamu, cuman ini Ajeng rasa seenggaknya nggak makin rumit, orang nggak akan bisa percaya begitu aja sama kita, kamu nggak bisa maksa mereka, dalam hal hamil sebelum nikah itu memang sulit diuraikan, jadi sabar!"
"Sabar apa, lo mau kita nggak ketemu sampe Rian ke sini, terus Ellin ngaku, kalau gue dipaksa nikah sama dia, terus gimana, hah? Lo mau?" Arya meminta kejelasan dari Ajeng.
Ajeng ambil dan pegang saja tangan Arya, dia genggam, sudah setidaknya ada yang bisa membuat pria itu yakin akan dirinya, selama ini kan belum ada interaksi yang lebih dari Ajeng, Arya terus yang bergerak berani, menunjukkan perasaannya, baik lewat tatapan maupun bahasa tubuh lainnya.
"Apaan?"
"Jangan cemberut gitu, jadi nggak ganteng di depannya Ajeng, Mas Arya!"
"Ck, lo gitu, kita itu mau nikah, gue udah serius sama lo, eh lo malah mau ngehindar sampe masalah ini clear, lo kayak nggak ada rasa banget, ya gue tahu gue nggak bisa dipercaya seratus-" tangan Ajeng membekap mulutnya, meminta dia diam.
Kedua bahu Ajeng melorot, dia tepuk keningnya, susah menjelaskan kalau masih emosi begini, dia lantas mengajak Arya duduk agar sedikit lebih tenang.
"Ajeng nggak mau serahin kamu ke Ellin kok, bukan juga ngehindar dari kamu, tapi paling nggak, aku nggak terlalu kelihatan deket Mas Arya, ini soal nama kita dan keluarga yang ada, orang-orang lagi simpati sama Ellin, apapub yang kita lakuin bakal salah, mereka bisa ngira aku yang mempengaruhi kamu buat nggak peduli sama Ellin, pelakor, terus namamu semakin buruk, udah ada cewek hamil, eh malah nikah sama orang lain ... Mas Arya, ikuti dulu alurnya sampe mas Rian dateng, buat mas Rian atau siapa aja bisa ambil hatinya Ellin, aku jamin kalau dia udah luluh, dia sendiri kok yang bakalan jelasin kebenarannya," jelas Ajeng panjang lebar.
Dan satu lagi,
__ADS_1
"Ajeng nggak ninggalin kamu, mbok ya jangan mikir berlebihan, aku percaya kok kalau burung kocokmu itu puasa lama, mas Juna yang bilang waktu itu!"
Sudut bibir Arya sontak menarik sebuah senyuman, dia tarik satu tangannya yang masih digenggam Ajeng, membuat wajah Ajeng menempel dengan dadanya.
Tapi, secepat kilat Ajeng dorong Arya hingga mereka berjauhan.
"Puasa loh ini, kok enak aja peluk Ajeng, utang puasa cewek itu udah banyak, Mad Arya, jangan ditambahin lagi!"
"Ahahahahahaah, cuman meluk, nggak nyi-" Ajeng bekap lagi, suka memang kalau ngomong jarang ada saringan jus jambunya
Sebelum Ajeng kembali ke panti, berulang kali Arya minta Ajeng berjanji padanya soal ini, berulang kali juga Ajeng mengangguk dan berjanji iya, bersumpah bahkan di depan Arya.
Kalau saja bisa, Arya akan antar Ajeng, tapi untuk saat ini dia hanya bisa melihat punggung Ajeng menjauh.
Dalam hati jelas Ajeng punya kebimbangan dan ketakutan, setidaknya dia bersyukur perasaannya pada Arya belum terlalu jauh hingga masalah ini tak terlalu membuatnya sakit hati.
"Anterin gorengan, Jeng. Kamu mau?"
Ajeng mengangguk, dia lantas mengambil wadahnya, membeli beberapa gorengan yang endak bude Lastri jual, setiap ada ide dan berhasil uji coba, langsung dijual, begitu kreatifitas bude Lastri sampai dapur seperti kapal pecah.
"Kamu yang sabar, Jeng. Kalau emang jodoh ya bakal bersatu, kalau nggak ya bersatu sama yang lainnya, yang penting jangan sampe kamu drop!" pesan bude Lastri.
Ajeng mengangguk, tidak bisa dia pungkiri, sekuat apapun, meskipun dia berkata tak terlalu sakit, tetap saja ada kata sakit di dalam hatinya.
Bahkan, ada yang bilang lebih baik ditinggal sekarang daripada besok habis nikah ditinggal, susahnya berkali-kali lipat, bahkan bisa ingin mati saja.
"Iya, Mas Arya?"
"Lama banget nggak balesin, udah nyampek belum?" tanya Arya posesif, memang sulit membuktikan dia tak bersalah karena dia mantan burung kocok, tapi sumpah dia tak tidur dengan Ellin, kalaupun dia pernah tidur dengan biduan, selama ini aman. "Gorengannya siapa?"
__ADS_1
"Bude Lastri, Mas. Habis coba-coba buat, begitu enak dan dapur udah ganti kapal pecah, langsung di jual, kebetulan ada yang nerima titipan di deket sekolah itu. Wenak loh, eheheheh."
"Gue sayang sama lo, Jeng." Arya menunduk, dia bahkan malas ke luar kamar selama ada Ellin di rumah ini, kalaupun tadi mau kerja atau bertemu Ajeng, dia melangkah lebar, tak mau berhenti sedetik pun. "Gue mau tarawih sama lo kali, Jeng!"
"Loh, ya tarawih loh, Mas Arya. Jangan karena ini, terus kamu nggak ke masjid, ke sana, siapa tahu ada ketenangan terus solusi. Aku aja ya ke sana kok, biarin orang ngeledek apa, kan aku ke sana nggak mau gosip, mau sholat, ahahahah ...."
"Lo nggak sedih?"
Ajeng tahu disebrang sana ada yang kuat-kuat menahan diri, begitu pun dia, walau remuk sekalian, dia ya harus terlihat tegar, suaranya pun harus sama, setidaknya hiburan bagi orang di sekitarnya.
"Apa yang bisa bikin kamu nggak sedih?" balas Ajeng.
"Nggak tahu!"
Ajeng terkekeh, entah kenapa otaknya bekerja cepat malam ini hingga satu kalimat mampu membuat Arya tidak lesuh lagi.
"Beneran?" Arya mau melompat, burung kocoknya dapat kepastian. "Yakin, nggak bakal kabur?"
"Nggak, Ajeng udah ngomong ya ... kamu jangan khawatir, Mas Arya!"
"Ulangin lagi dong!"
"Eh, apa sih kok gitu, malu loh!" susah payah menahan diri, tapi kalau ini bisa membuat mereka sama-sama tenang, ya dia bilang saja.
"Gue mau denger lagi, kalau nggak ... gue bakal ngurung diri di kamar, lesuh, lemah terus-"
"Iya, Ajeng sayang sama kamu, nggak sabar nikah sama kamu, Mas Arya!"
YES!
__ADS_1