
"Masuk, gue bilang!"
Ajeng bergeleng, dia mau menunggu di teras rumah saja, malu kan ya datang ke sini sama Arya, kemarin dia bilang sama bu Ratih mau tunangan, nanti dikira kabur dari acara tunangan, jadi sama seperti anak mereka tukang kaburan.
"Yaudah, kalau mau nunggu di luar, gue suruh mereka yang ke luar!" putus Arya.
"Eh, jangan gitu jadi orang, Mas Arya!" Ajeng cekal tangan Arya. "Yawis aku masuk, tapi aku ngomong apa kalau bu Ratih tanya kenapa aku ke sini sama kamu?"
"Ya jawab aja mau jalan-jalan, susah amat!" jawab Arya jutek, tapi benar, daripada pusing mikir jawaban apa, bohong ya nanti malu sendiri. "Masuk atau di luar?"
Masuk, Ajeng putuskan masuk.
Matanya seketika terbelalak, dua orang sudah berdiri di ruang tamu itu, pak Darma dengan kumis tebalnya, sedang bu Ratih dengan wajah bersalahnya, takut dihakimi Arya.
Buru-buru, bu Ratih berhambur memeluk Ajeng, seperti ibu bertemu anaknya yang hilang puluhan tahun.
"Mam, apa sih, nggak jelas!"
"Kamu yang nggak jelas!" balas bu Ratih. "Mama itu seneng kamu ke sini bawa Ajeng, hampir Mama jadi nenek demit kalau kamu beneran sama Ellin!"
Ajeng sontak memutar bola matanya mengiris tajam pada Arya, katanya tidak main burung kocok, lah bu Ratih bilang takut jadi nenek demit, kan artinya ada pertemuan dan perpisahan burung di sana.
Decakan Arya membuat Ajeng semakin sebal, tidak tahu sebal karena apa, sebal saja kalau tahu Arya main burung lagi, seperti tadi dia main ayam.
"Kamu nggak jadi sama Ganjar itu, kan? Beneran? Jadi, kamu mau sama Arya, mau temenin dia sampe tua?" cerca bu Ratih.
"Waduh, gini loh Bu Ratih, anu ini kayaknya salah paham ... Ajeng emang nggak jadi tunangan sama mas Ganjar, tapi bukan berarti mau jadi pasangannya Mas Arya, cuman mau jalan-jalan, temen aja, Bu Ratih!" Ajeng meluruskan asumsi yang menyimpang ini. "Nggak ada niatan apa-apa, murni teman sama Mas Arya!"
"Mam, plis, jangan ikut campur, biar Arya aja!" Arya ajak ibunya kembali duduk. "Ajak Ajeng ngobrol yang lain, Arya mandi dulu!"
Bu Ratih dan pak Darma kompak mengangguk, bahaya kalau mereka tidak segera Arya putus karena bisa merambah ke mana-mana dan itu nanti bisa membuat Ajeng-nya merasa tidak nyaman.
Baik, Arya sudah benar-benar mengakui perasaannya pada Ajeng ke orang tuanya, dia baru akan kembali menjadi dirinya yang baik setelah ini, tapi biarkan waktu ini dia berjalan apa adanya dengan Ajeng, gadis itu susah-susah gampang.
"Jeng, maaf loh yang kemarin-kemarin itu, Ibu jadi nyakitin hatinya kamu!"
__ADS_1
"Bu Ratih nggak nyakitin Ajeng sama sekali, malah seneng dapet minyak banyak, kebetulan mahal, mau puasa dan lebaran, udah biasa, untung banget dibantu loh jauh-jauh bulan, eeheheh ... Pak Darma, sehat?"
Pak Darma mengangguk, sekilas memang kulit Arya berbeda dari Ajeng, tapi justru ini yang katanya orang bikin malu, menurutnya justru menarik, kulit putih tak selamanya sehat, bahkan lebih kuat yang lebih gelap.
"Kamu masih betah di kelurahan, Jeng?"
"Ya, mau gimana lagi, Pak Darma. Mas Hikam udah baik masukin Ajeng ke sana, terus pak Kades ya dukung Ajeng banget, jadi kerja kayak di rumah saudara, rujakan ya segala macem, malah aku ini jadi tempat curhat, pak Kades sering ke biro konsul, masalah apa aja dibahas, bakatnya Ajeng kali ya, menyelesaikan masalah tanpa masalah kayak pegadaian, ahahahahah ...."
"Ahahahahaha, cocok!" sahut pak Darma sambil tertawa.
Arya merasa senang melihat kedua orang tuanya yang tak berhenti tertawa berbicara dengan Ajeng, bahkan bahan obrolan mereka tidak berkurang sama sekali, tentunya tidak membicarakan orang lain, berulang kali pak Darma terbatuk dan tersedak.
Satu tangan Arya menarik rambut Ajeng.
"Duh, lah kamu kira aku ini kambing!"
"Arya, jangan gitu!" bu Ratih tarik telinga Arya.
"Lepasin rambutnya Ajeng!" titahnya.
Arya baru melepas setelah telinganya ya dilepas, tidak mau kalah dengan ibunya, malu-malu Ajeng berpamitan, terlebih lagi melihat Arya dengan gaya bak idola yang berada di dekatnya.
"Tadi, usianya Arya sama Ajeng selisih berapa, Ma?"
Bu Ratih mencoba menghitung dan mengingat lagi, dia angkat lima jarinya tinggi.
"Arya lebih muda 5 tahun dari Ajeng, kok bisa kelihatan seumuran?" mata pak Darma mau copot. "Nuaaakaal apa dia itu, rusak semua masa mudanya!"
"Hush, gimana lagi namanya anak kita, yang penting dia mau tobat, semoga aja Ajeng mau sama dia, lama loh, Pa ... nggak lihat Arya disidang terus kita dapet panggilan!"
Benar, sejak putusan itu, sama sekali belum pernah mereka dengar ulah nakal Arya, di luar negeri pun justru yang lain dibuat hampir mati dengan perubahan Arya.
***
"Tuh, ada biduan kamu, mau nyapa?" Ajeng sewot, tahunya diajak ke taman yang banyak biduannya, walaupun mereka sama pria lain, tapi kan kenal Arya. "Sana kalau mau nyapa, sekalian aja diajak sewa hotel, aku arak kamu keliling kampung nggak pake baju!"
__ADS_1
"Buset, orang-orang pada seneng dong lihat burung gue, mau nyoba nanti malah!"
Plak!
Ajeng melengos, bukannya dibuat segar ini pikiran, justru sebaliknya, melihat biduan itu ada yang mendidih dalam dirinya, belum lagi kalau mereka menyapa Arya, melirik Arya.
Huh, pengen tak copot matanya!
"Nggak usah peduliin mereka kenapa, orang gue biasa aja!"
"Ya kamu biasa, wong kamu lupa sama siapa aja, Ajeng yang ingat!" urat lehernya kelihatan semua.
"Lo nggak suka gue disapa mereka?" tanya Arya berpindah duduk ke depan Ajeng. "Kan, gue udah bilang kalau lo mau, gue tinggalin semua itu, udah gue tinggalin, Jeng!"
"Mau apa? Ajeng nggak mengiyakan apa-apa sama kamu!" jual mahal, Jeng, jual mahal, jangan goyah soal ayam. "Nggak usah kepedean, aku-"
"Gue suka sama lo, lo juga harus suka gue dong!"
"Kok maksa!" Ajeng tidak terima. "Aku nggak suka model nakal kayak kamu, nggak ada seujung kukunya mas Hikam, wong demit aja sembah sujud ke kamu, edan apa Ajeng mau!"
Arya raup wajahnya, "Lo nggak percaya gue berubah?"
Tidak, Ajeng memilih teguh pada pendiriannya, tidak goyah akan ucapan dan janji Arya, dia mau yang seperti Hikam dan Hikam.
"Lo tahu kenapa sampe ketemu model Ganjar?"
"Kenapa?" tantang Ajeng, dia ya penasaran.
"Ya karena lo harepin Hikam, tapi lo bukan Dewi, lo ya jauh dari Dewi, kayak langit sama bumi ... yang ada, model Hikam sekelas Ganjar, nyadar dong lo!"
Loh, diajak berdebat malahan, Ajeng berdiri dan menunjuk Arya.
"Kamu ngeledek aku, tujuan kamu ajak aku jalan-jalan cuman ngeledek aku, Mas Arya?" api di mana-mana. "Hilooooo, harusnya aku tuh tahu nggak perlu jalan sama kamu, dari dulu kamu itu kalau ngomong sampah semua, nyakitin, ngerendahin aku terus, udah aku mau pulang!"
"Jeng, heh!" kejar nggak ya, bingung dalam hati.
__ADS_1
Ajeng terus berjalan meninggalkan Arya, sesekali menoleh sedikit, siapa tahu Arya ngejar dia.
Pulang aja, besok adu ayam, seneng dapat uang, nggak dimaki-maki!