
Plak!
"Seminggu ditinggal suami, masa kamu nggak gemeter pengen joget, Jeng?"
"Joget apa, Bu Desi?" melihat ekspresi bu Desi dia jadi paham apa yang dimau. "Walah, aku udah nggak adu ayam lagi loh, ayamku udah jadi ayam baik, si jambul itu adem ayem di rumah pak Darma, seneng lihat yang lagi bertelur, ayam kan ya bisa jadi mata keranjang, Bu Desi!"
"Nggak kamu jual aja?" suaminya mau ayamnya Ajeng yang berkuasa.
Ajeng menggelengkan kepala, dia mau memelihara si jago sampai tutup usia, ayam itu berharga sekali, teman sejatinya, tak akan tergantikan.
Nasib buruk karena suami bu Desi tak pernah menang saat ini, maka itu butuh asupan ayam baru.
Ajeng bongkar catatan di dompet kecilnya, dia dulu punya kenalan orang yang menjual ayam jago dengan kualitas tempur terbaik, kali ini akan dia turunkan ke suami bu Desi.
"Bu Desi coba aja, soalnya aku ya nggak tahu dia masih hidup apa nggak, mas Arya nggak mau aku adu ayam lagi, jadi nggak pernah kontak. Coba aja dulu, tapi jangan bilang mas Hikam ya, dikira aku main lagi nanti, bilang sama suaminya Ajeng, heeem ... bisa marah dia, balik ke sini langsung disikat Ajeng!"
Loh!
"Anu Bu Desi, maksudnya itu disikat omelan, bukan yang panas di kamar, duh pikirannya kok langsung ke kamar, ahahahahah ...."
Ahahahah, bu Desi terpancing juga berpikiran kotor, tapi mau apa lagi kalau sudah rumah tangga terus bertengkar, tidak diselesaikan di kamar, biasanya juga jadi tempat terbaik buat berbaikan.
Bu Desi tersenyum lebar, dia pastikan mulutnya terkunci rapat, secepat kilat meninggalkan ruangan Ajeng sebelum ketahuan sama Hikam.
Ngomong-ngomong pensiun dari adu ayam, sepertinya Ajeng pun akan mengajukan surat pengunduran dirinya dari biro konsul sementara ini, kalau orang butuh, bisa ke rumahnya tanpa dipungut biasa administrasi.
Dia akan selalu konsul sama Hikam, memikirkan Arya yang sudah mulai masuk ruangan operasi hari esok membuatnya khawatir, ingin sekali ke sana, ke negara yang sama sekali belum pernah dia bayangkan sebelumnya, mimpi saja tidak.
Duar!
"Mas Hikam!"
"Ngelamun terus, mikirin apa?"
Ini, dengan orang satu ini mana bisa dia bohong, semua Hikam tahu dengan baik, apalagi soal Ajeng dan Arya, dari manik mata adiknya itu bisa terbaca kebingungan apa yang ada.
__ADS_1
Hikam menghela nafad sejenak, dia usap punggung Ajeng menenangkan.
"Jeng, nggak apa, Mas nggak masalah kalau kamu mau ikut suamimu, itu lebih utama dibandingkan kerja, lagian dia sanggup hidupin kamu!"
"Tapi, Mas Hikam udah susah payah bantu aku di sini loh, tahu sendiri aku tes gagal terus!"
"Hahahahah, emang gimana ya kamu ini? Ahahahah ... nggak apa, susul aja si Arya, dia kasihan di sana kesulitan apa-apa, takutnya butuh terus bermasalah sama burungnya, justru orang lain yang-"
Sssst, Ajeng bekap mulut Hikam, bau terasi di mana-mana, Hikam mau muntah rasanya.
"Maaf, Mas Hikam, spontan!" cengar-cengir tanpa dosa, lupa tidak cuci tangan tadi, asal lap saja, masih bau. "Masa iya dia dibantu orang lain?"
"Ya bisa aja, kan di rumah sakit ada banyak suster, ganti perban bisa dibantu sama sus-" hanya satu jari Ajeng ke mulutnya, tak terlalu bau.
Ajeng sudah gentar, dia panik, mondar-mandir tak tenang. Matanya yang suci ini sudah menyumpahi burung kocok hanya dia yang melihat, tidak rela kalau ada perawat perempuan melihatnya, sekalipun itu wajib dari tenaga medis.
Panas dingin dia dibuat kabar Hikam, mau cuti dan terbang sekarang juga.
***
Kali ini, entah kenapa dia merasa takut, terlebih lagi dia tak menyentuh ponselnya, semua tersimpan rapi dan baru dia temui selepas proses ini usai.
"Dear, gue pengen lo di sini, sumpah!"
Tenang, cuman Ajeng yang bisa menenangkan dia, ocehan Ajeng dan semuanya mampu membuat dia merasa paling kuat, dia lah pelindung Ajeng, dengan alasan itu tak akan ada lagi rasa takut.
Tapi, sudah tak ada akses baginya untuk mendengar atau membaca pesan istrinya itu.
Di ruangan ini, hanya dia seorang diri, menunggu jam yang terus berputar sampai tim medis menanganinya.
"Sabar, Ya', lo harus kuat. Inget, setelah ini sekali lo main sama Ajeng, jadi bibit unggul, jadi Arya dan Ajeng junior ... sial, gue makin kangen sama dia, Deaaaaaarrr!" rengeknya.
Perawat yang endak masuk sampai kaget dengan rengekan Arya, bisa-bisanya berbicara sendiri di ruangan yang sepi itu.
Entah yang dipanggil Dear itu siapa, sempat mengira ada sosok hantu wanita di ruangan ini.
__ADS_1
"Ready?"
Arya mengangguk, dokter yang menanganinya saat ini tak berbeda dari yang dulu, semua dipastikan aman, dia terus berdoa, tak lupa mengulang apa yang sudah Ajeng ajarkan.
Dear, kita akan punya anak sebentar lagi, gue jadi papi dan lo jadi maminya, gue sayang sampe mati sama lo, Dear ... gue berjuang, lo jangan selingkuh ya, sekalipun sama ayam!
Lampu terang tepat di atas paha itu mulai menyala, Arya pejamkan matanya, semua akan berjalan sesuai dengan yang dia harapkan.
Terus dan terus berdoa, itu pun juga yang Ajeng lakukan saat ini sampai dia tak bangun lama dari duduknya, masih memakai mukenah dengan wajah menunduk.
Kedua tangannya gemetaran, dia takut terjadi sesuatu dengan Arya, demit itu memang suka seenaknya memutuskan sesuatu, bahkan terlampau yakin, tapi keputusannya membuat orang kelabakan di sini.
"Jeng, Ibu boleh masuk?"
Ajeng angkat wajahnya, sedari tadi dia tak berhenti memikirkan dan berdoa untuk kelancaran operasi Arya, dia pun menunggu di kamar Arya, tidak jadi ke panti atau rumah Hikam.
"Bu?"
"Kamu lagi serius doa ya, maaf ya ... tapi ini udah dapat kabar dari Juna kalau Arya udah ke luar ruangan operasi, dia masih pemulihan, Juna yang temenin dia, Jeng!"
"Mas Juna yang temenin mas Arya, Bu? Dia bantuin dan jaga sampe selesai kan, terus besok kalau mas Arya pulang masih ada dia di apartemen itu kan?"
Bu Ratih mengangguk, tak ada perawat yang boleh menyentuh si burung kocok itu, Juna bersedia membantu Arya, tapi semua itu tak mengurungkan niat Ajeng bertemu demitnya.
"Loh, kalau kamu bilang dari kemarin, Bapak bisa langsung bawa kamu terbang ke sana, ada kerabat yang berangkat, cuman ini nggak ada yang barengin kamu, Jeng."
"Jadi, Ajeng nggak bisa ya, Pak?"
"Bapak bisa aja pesenin kamu tiket ke sana, tapi kalau kamu sendirian, Arya bisa ngamuk loh, kamu kan nggak pernah ke sana," jawab pak Darma.
Ajeng mengangguk, itu akan sangat beresiko, tapi dia ingin ke sana.
Istrimu: Mas, kabari aku kalau kamu udah pegang hape ini, kirim foto lengkap, Ajeng mau periksa, Mas!
Lupa, tambahin foto burung pepes juga!
__ADS_1