Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
The Day 2


__ADS_3

"Mam, Pap ... aku grogi, mau pipis, mau BAB, semuanya, gimana ini?" gumam Arya, dia pegang perutnya.


Bu Ratih mendelik, "Kamu ini, acaranya sebentar lagi, habis buka, kamu langsung ijab, kok malah mau BAB, kamu itu lama kalau duduk di toilet!"


"Iya, tahan bentar, toh sepuluh menit lagi adzan, kita makan takjilnya, terus lanjut kamu nikah!" timpal pal Darma.


Arya berkeringat dingin, dia tak tahu lagi akan apa yang dia rasakan saat ini, semuanya campur aduk, kedua temannya pun tak bisa membuatnya tenang.


Satu yang bisa, tapi sayangnya Ajeng masih ada di kamar sampai Arya sah menikahinya, mereka tak diizinkan bertemu dua hari ini, hanya tukar video saja, itu pun Hikam mengawasi video yang Ajeng buat, takut vulgar.


"Masih lama, Mam?"


"Ya', lima menit lagi!" bu Ratih minta Juna mendampingi Arya sejenak, dia mau menemui bu Tiwi dan endak membantu pembagian takjil.


Adapun sholat berjamaah di sini, Hikam sudah nempersiapkan semuanya, pekarang rumah itu sudah disulap menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah.


Warga sekitar yang hadir bisa makan dan sholat bersama di sini, Hikam secara khusus mengundang imam dari kampung seberang sekaligus menjadi saksi pernikahan adiknya.


"Mbak Dewi, aku udah cantik belum?"


Dewi mengangguk, "Inget loh ya, baru boleh ketemu Arya kalau kalian udah sah, nanti dia dianter ke kamar ini, tapi yang jelas kalian jangan sosor-sosoran dulu, cuman salaman sama kasih selamat!"


"Eh,-" merangkak ke sisi Dewi. "-kasih selamat gimana, Mbak Dewi? Kalau dia masuk ke kamar ini, terus Ajeng bilang selamat udah nikah mas Arya, gitu?"


"Bukan, ahahahahah ... maksudnya itu saling kasih selamat, seneng ya udah nikah atau nggak nyangka kita udah nikah, terus dipeluk, udah gitu, kalau cium-cium nanti kebablasan malah bikin anak!" jelas Dewi.


Ajeng tergelak, dia sudah mempersiapkan semua itu, mulai dari cukuran sampai luluran, dia selesaikan semua, membuat semua kulitnya wangi tak tertandingi.


"Hush, udah mau dimulai itu, kamu buruan buka, minum dulu sama kurma, adzan!" titah Dewi.


Ajeng mengangguk, dia kembali ke posisinya, begitu adzan terdengar, dia minum teh hangat tawarnya, lalu melahap tiga kurma, tak lama dia berdiri di depan cermin, memeriksa ada sisa kurma di giginya atau tidak, malu lah nanti dilihat Arya ada kulit kurma nyangkut.


Jantung Arya semakin berdebar di depan sana, dia tak sesantai Ajeng yang menunggu tanpa dosa, asik minum teh dan memeriksa giginya, ada permen di kamar itu pun dia lahap juga, menunggu ijab qabul untuk dirinya, seperti menunggu pertandingan bola saja.


Pak Darma bersiap di samping Arya, di depan mereka ada Hikam dan pak penghulu yang merasa dibanggakan, bagaimana tidak, sajiannya banyak dan dia masih pulang dapat bingkisan penuh nantinya.

__ADS_1


Buka bersama sambil nikahkan orang, cuman di sini dia dapat undangan begitu.


"Mas Arya Pratama ya ini?"


"Iya, Pak."


Pak penghulu usap kumis tebal lebatnya sambil manggut-manggut, "Bukan Arya yang 'Demi Tuhan!' itu kan?"


Bude Lastri hampir menyahuti, "Oh, yang mba-" dengan cepat bu Tiwi bekap mulut rekan duetnya itu, melotot sampai bude Lastri duduk diam.


Kembali pada mode serius, Hikam minta semua tenang, acara inti harus segera dimulai, yang di depan sudah tak sabar mau makan.


Semua menunduk kala doa dan lantunan ayat suci dibacakan, lalu semakin dibuat tegang dan gemetar, Arya mendengar kalimat pasrah dari Hikam ke pak penghulu, sebelum akhirnya tangan Arya ada digenggaman pak penghulu.


"Udah siap ya, Mas Arya?"


"Iya, sudah."


"Baik, kita mulai, satu-" pak penghulu menoleh pada Hikam, lirikan Hikam mengingatkan dia harus serius. "-Maaf, kebiasaan inget Ajeng kalau adu ayam, kita mulai!"


***


Dia jinjing roknya, ada bagian ujung yang basah, mau bagaimana lagi karena dia memang banyak tingkah, untung tidak terpeleset tadi.


"Looohhhh, gimana ini kalau mas Arya dateng, terus tahu bulu mataku copot satu?" kelabakan mencari lem. "Ada lem plastik, kalau nggak bisa lepas malah bahaya loh!"


Masih berusaha mencari lem sampai terdengar ketukan di pintu, Ajeng sontak menegakkan punggungnya, dia kembali ke depan meja rias lagi, memastikan riasannya baik-baik saja, cuman bulu matanya sisa satu.


Dari alis sampai bibir aman, gigi juga sudah bersih, aroma nafas segar, dia teguk madu juga barusan, berkedip sedikit.


"Aku nggak kayak ondel-ondel kan ya?" gumamnya.


Ketukan di pintu itu semakin kencang, Ajeng setengah berlari menggapainya, tapi entah kesialan apa yang menimpanya hingga sanggul kecil di rambutnya tersenggol dan lepas.


"Waduuhhh, batal jadi sinden aku nanti!" gerutunya, mau memasang lagi, tapi yang mengetuk pintu tidak sabaran. "Iya, Ajeng buka!"

__ADS_1


Ini sanggul kok ya copot sih, ini lah kayak Nyai segara!


Klek,


Ajeng intip, dia terkekeh, "Mas Arya-"


Arya dorong hidung Ajeng hingga dia bisa masuk, dia mau buka puasa dengan yang berat-berat, bukan sekadar air dan kurma seperti tadi.


Mata Arya berkedip cepat, lalu dia ucek, berkedip lagi, dia ucek lagi.


"Mas, ini aku kok, niatnya tadi dandan ala sinden internasional, tapi kok malah aku jadi kayak Nyai Segoro, ini kalau pake baju putih, yakin aku jadi mbak kuntil, Mas!" ocehnya.


Arya masih belum membuka mulutnya, apa yang diajarkan Dewi tadi terlupa semua, Ajeng bukannya memberi selamat atau berpelukan, justru mengoceh sesuka hatinya, menjelaskan menu buka sampai bulu matanya yang lepas.


"Dear, diem!" Arya takup wajah Ajeng, membuat gadisnya ini terdiam, tidak ngomong utara ke selatan, tidak ada ujungnya. "Lihat gue!"


Ajeng putar dan tahan bola matanya tertuju pada Arya, dia berkedip pelan, mengikuti gerak kelopak mata Arya.


"Kita udah nikah, Dear," ucap Arya dengan senyum manis tampannya.


"Terus, Mas?"


Loh,


"Kok terus, nggak berarti apa-apa gitu buat lo sekarang?" Arya mau mengumpat rasanya, tapi tidak mungkin dia bego-begokan Ajeng, baru saja mereka menikah.


Arya berbalik, dia pijat pelipisnya, meraup udara sebanyak mungkin, mencoba menetralisir dirinya sendiri, ekspektasinya terlalu tinggi.


Di belakangnya, Ajeng menarik sebuah senyuman, kedua tangannya bergerak ke depan, dia selipkan diantara pinggang dan lengan Arya, lalu menarik diri mendekat hingga pipinya menempel di punggung Arya.


Cie, wangi!


Arya menunduk, tercengang melihat tangan Ajeng bertautan di perutnya, dia usap tangan itu, masih tidak percaya dipeluk seperti ini setelah dibuat sebal.


"Selamat jadi suami, Mas Arya." Ajeng ucapkan lirih.

__ADS_1


Dear!


Arya sontak berbalik, dia cium bibir Ajeng.


__ADS_2