
Stop!
Arya memasang wajah masam, sumpah dia baru ini sebal melangit sama Ajeng, mendekat saja tidak boleh sebelum Arya mandi dengan pintu terbuka, Ajeng mau melihat Arya mandi secara langsung sambil menunjuk apa saja yang perlu Arya basuh.
"Bagian itunya belum loh, Mas. Masih kurang sabunnya, kamu nanti masih bau!" Ajeng menyipitkan matanya, kali ini dia tak menduga kalau hanya dengan dilihat saja, si burung kocok bisa bangun dan tegak hormat padanya, lucu juga melihat Arya mandi dengan kondisi bergairah begitu. "Hihihihi, Mas kamu napsu ya?"
Arya menggeram, sedari tadi dia disuruh memberi sabun pada area sensitif, yang ada si burung kocok bangun tak terkontrol, apalagi dilihat Ajeng sampai ke biji, dia bisa khilaf dan minum air dingin dari shower langsung.
"Dear, udah ya, udah wangi ini, nanti kalau dikasih sabun terus, dia muntah busa … udah ya, Dear?"
Ajeng menutupi wajahnya, lebih tepat ke mulut yang terbahak-bahak, hilang inginnya jalan-jalan bersama Arya, melihat ini lebih menakjubkan dan menghibur.
Setelah mendapat anggukan Ajeng, Arya kembali melangkah ke luar, handuknya dililitkan ke pinggang dan masih tampak ada tonjolan di sana, yakin kalau Arya junior belum bisa tenang dan tidur meskipun badan Arya sudah menggigil.
Arya berlutut tepat di depan Ajeng dengan satu kakinya, menatap wajah yang sedari tadi ingin dia ajak bertarung, kalau sesama lelaki mungkin sudah adu jotos dalam tempo sesingkat-singkatnya, tapi ini Ajeng, wanita yang dia cintai dan membuat hidupnya berarti.
Satu kecupan Ajeng hindari, dua kecupan semakin Ajeng hindari, dia mendorong wajah Arya menjauh.
"Kan udah mandi ini, kok lo tolak!"
"Lah kan Ajeng nggak bilang kalau habis mandi bisa cium, cuman kalau mau deket sama Ajeng ya kamu mandi, Mas. Wong bau ketekmu loh sampe ke luar pulau, siapa yang mau dideketin?!"
Bau lagi, Arya mau mengumpat keras, sejak kapan ketiaknya bau dan sejak kapan juga minyak wangi harga jutaan itu dicap tak bermutu oleh Ajeng, selama ini, sejak mereka menikah yang membuat Ajeng lengket ya minyak wangi itu, hari ini mendadak berubah keyakinan.
Jangan bilang lupa kalau sudah jadi istrinya Arya! Dia pastikan tak akan ada rantai tersisa di bumi pertiwi ini, semua akan dia gunakan untuk mengikat Ajeng.
"Dear, mau peluk!"
Ajeng berlarian sampai naik ke ranjang sambil berdiri, anggap saja bergaya selancar, menghindari Arya jadi hobynya kali ini.
Jangan tanya wajah Arya menjadi warna apa, sudah lebih parah dari bara api yang membara, dari sekian banyak waktu dan kejadian yang ada, baru ini sang istri tak takut padanya, justru terus menggoda dan membuat kepalanya nyut-nyutan atas bawah.
__ADS_1
"Ketangkep, nggak bisa kabur. Gue udah pulang cepet, udah mandi sampe lumutnya hilang, buang minyak wangi jutaan, terus sekarang mau lo siain, nggak bisa. Deketan, mana wajahnya, mau gue cium!"
Hup, cup!
Arya tahan tengkuk Ajeng sampai ciumannya semakin dalam, membuat tubuh Ajeng bergerak gelisah di atas ranjang yang kini takluk pada Arya, bahkan Ajeng sudah ada di bawahnya.
Awalnya memberontak, tapi di menit yang bisa Arya kuasai, Ajeng menurut dan memejamkan matanya, mengikuti dan mai membalas Arya intens.
Senyum Arya mengembang, dia bisa membuka lilitan itu dan membiarkan si burung kocok keluar kandang mau masuk ke sarang lembab dan hangat.
"M-maas!"
Arya sentak pelan sampai tenggelam semua, dia mulai bergerak sambil memejamkan mata, melengkungkan punggungnya ke depan hingga dada mereka bertemu.
Plak!
Arya menganga, sedikit lagi dia mencapai puncak nirwananya bersama Ajeng, justru tangan Ajeng menampar pipinya kencang, hampir saja giginya yang goyang itu copot.
Bugh!
Auh, oh my dear!
Arya melenting dan menjerit, lutut Ajeng yang mendorong tubuhnya menjauh tak sengaja menyenggol kecil dua biji permata mahal yang tergantung tanpa pegangan.
Matanya terpejam merasakan sakit yang luar biasa, dia jatuh ke sisi kiri Ajeng, kedua tangannya menangkup ke sisi paha, wajahnya memerah, ini seperti mengundang malaikat maut hadir ke rumah.
Burung kocok yang tadinya gagah perkasa, berganti menjadi cacing anakan, mengkerut tak bernyawa.
Arya dinyatakan tewas!
***
__ADS_1
Bu Ratih tak bisa menahan tawa kencang mendengar penuturan Arya pagi ini, dengan wajah pucat dan trauma, Arya terpaksa semalam tidur di kamar tamu, bukan apa-apa, takut adik kecilnya ditendang Ajeng lagi, bisa mampus dan tidak bangun dia.
"Terus, kamu nggak jadi nyembur?" Bu Ratih terpingkal-pingkal.
"Mama ini gimana, mau nyembur udah ketendang duluan, ya bisanya ditelen lagi sama burungnya Arya, ahahahah!" Pak Darma berguling-guling di bawah, untung ada karpet bulu.
"Udah pada puas ngetawain Arya? Anak lagi susah juga dari tadi pada ketawa, Mam kasih solusi, nggak bisa dong aku hidup dalam ancaman. Ajeng itu kenapa?" Arya melipat sisi bawah sarungnya, masih trauma pakai ****** *****, bijinya trauma. "Dia aneh, nggak biasanya berani sampe keterlaluan, dia itu nurut sekalipun marah, diajak begitu ya ayok, apalagi aku ahli, baru ini loh sampe aku trauma!"
"Mungkin Ajeng pengen kamu berhenti, Ya'!"
"Nggak bisa dong, Pap. Itu kebutuhan biologis, Arya cuman dapet dari Ajeng, masa iya main sama lubang pipa?!"
Astaga, perut bu Ratih mau lepas dari tempatnya, tertawa dan terguncang hebat.
"Sekarang Ajeng mana, Ya'?"
"Ada di kamar, dia mau sendiri, nggak mau lihat ayam, nggak mau sama aku, intinya dia mau sendiri, nggak mau sama siapapun, telur ayam juga nggak mau!"
Bu Ratih lantas saling menoleh pada pak Darma, teringat akan perubahan Ajeng yang ketara dua hari lalu, Ajeng jarang memakai sandal di area kandang, tapi waktu itu dia seharian memakai sandal, menunjukkan ekspresi jijik dan geli, mereka sempat menyimpulkan kalau Ajeng tengah menjaga kebersihan saja, mungkin sudah sadar kalau di kandang harus pakai sandal, tidak sama seperti ceker ayam.
"Bawa ke rumah sakit coba,Ya'!" cetus bu Ratih.
Arya bergeming, Ajeng tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.
"Siapa tahu dia lagi hamil, perubahan nggak biasa itu bisa ngarah ke sana, apalagi sampe benci sama yang dia suka, Mama kok yakin dia lagi hamil anak kamu!"
Ya, kemarin Arya juga sempat memikirkan hal itu saat Ajeng meminta jalan-jalan sampai menangis dan kemudian gagal, omongan Ajeng berbeda dengan tingkahnya, tidak konek sama sekali.
"Masa iya lagi hamil, Mam?"
"Bisa aja, wong kamu nidurin dia terus, nyembur bisa terus, gimana nggak jadi, cek sana!"
__ADS_1
Arya memegangi lilitan sarungnya, berlari dengan hati-hati ke kamar Ajeng dan dia, bijinya masih trauma.