Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Tidak Boleh, Cuman Gue!


__ADS_3

"Dia itu emang demit beneran, nggak salah aku kasih nama dia demit, orang dateng waktu nggak dibutuhin, waktu giliran dia aku butuhin, dianya nggak ada, nggak sekalian aja pergi ke alam barzah gitu!" omel Ajeng.


Dia duduk di gubuk tepi sungai di mana biasanya Arya menghabiskan waktu bersama biduan dan kerap menjadi bulan-bulanan warga.


Kalau dulu dia membantu Arya lepas dari perjodohan, dia juga mau Arya ke sini membantu dirinya, toh impas dan Ajeng akan kembalikan uang beli kandang waktu itu, uang gajinya masih cukup, paling tidak dia ada alasan menolak Ganjar.


Terbayang kalau dia menikah dengan Ganjar, cengar-cengir, dia kerja, Ganjar kerja, ketemu di rumah cuman senyum-senyum, dipuji terus, tapi di luar nanti bisa dijelek-jelekan, Ajeng khawatir dengan orang yang begitu, manis di depan, di belakang pahit kayak kopi, sekalian pahit saja semua.


"Mbok kamu itu angkat telponku atau bales pesenku, maa Arya. Sekali-kali kamu itu jadi orang yang berguna kenapa, kok hidup cuman nyusahin orang!"


Brak!


"Kampret!" Ajeng tersentak, biduan ada di depannya. "Mbak mau ngapain?"


Biduan itu terkekeh, "Aku kira Arya di sini, ternyata kamu, dia belum ada kabar, Jeng?"


"Mana Ajeng tahu, Ajeng bukan emaknya, tanya aja ke bu Ratih. Emangnya kenapa nyari mas Arya?"


"Gatel aku!"


"Hah, gatel apa?" dia lihat kulit biduan yang terbuka. "Nggak ada yang merah gitu, mana yang gatel, aku bawa minyak tawon?!"


Gelak tawa meledak dari biduan seksi itu, umurnya jelas di atas Ajeng sedikit, tapi ada juga yang masih muda.


"Bukan gatel itu kali, Jeng. Gatel pengen dijamah sama Arya, pengen dimainin sama burungnya!"


"Owalah, burung kocok itu, hah!" dia terkejut sendiri. "Jangan aneh-aneh, dia katanya mau nikah, jangan diajak main burung!"


"Halah, orang nikah ya banyak yang main di luar, bosen sama istri mereka, kendor semua habis lahiran-" dan semua yang biduan itu katakan soal hubungan suami istri merasuk ke pikiran Ajeng.


Dia jadi takut bersama Ganjar nanti kalau memang jadi akan begitu, di rumah dia disanjung, tapi begitu di luar, Ganjar akan memanggil biduan untuk memanjakan burungnya.


[Ajeng nggak peduli sama kamu, dasar burung kocok, kerjaannya cuman mainan burung aja, cowok labil!] Ajeng to Arya.


Ini, dia bersumpah ini kali terakhir dia mengirim pesan pada Arya, biar saja, mau menikah dengan model demit atau tidak, tetap ada resiko ditinggal selingkuh.


Memangnya dia itu Dewi yang sempurna sampai Hikam tak berpaling, bahkan diajak kenalan warga saja Hikam punya batas.


Ajeng berdiri di depan cerminnya, memutar ke kanan dan kiri, mendekatkan wajahnya.

__ADS_1


"Lah model begini apa ya awet, yang cantik molek aja masih diduakan, apalagi model aku, pas begini!"


Bude Lastri yang mendengar ocehan itu lantas masuk ke kamar Ajeng, sejenak dia diam, mengamati saja apa yang Ajeng lakukan dan katakan.


"Jeng, nggak semua laki-laki itu doyan main!"


"Lah, mana Bude tahu, kan Bude janda ditinggal mati, apa nggak penasaran sama Pade, jangan-jangan kenal biduan!" kompor, Ajeng meleduk.


"Loh, masa sih? Nggak ah, dia itu setia, aku jelek begini ya, dia itu-"


"Apa, bener Pade nggak kenal biduan sini?"


Bude Lastri terdiam, tapi kalau mau dia jawab tidak kenal, itu ya buktinya dulu pernah disapa, artinya kan kenal.


"Tak anter ke makam kalau kurang yakin!"


"Gundulmu, sampe jawab ya nakutin, Jeng!"


***


Bu Ratih mundur begitu tahu siapa yang datang ke rumahnya, tidak lain gadis yang dia bohongi akan oleh-oleh dari putranya dan gadis yang menjadi mantan pacar juga mantan menantunya.


Tak lama bu Ratih dengan wajah bersalahnya, keluar rumah dan membuka pintu pagarnya, dia persilahkan Ajeng masuk dan duduk lebih dulu, tapi Ajeng menolak, dia buru-buru mau ke kelurahan.


"Ajeng balikin karena waktu itu janji bakal balikin ke mas Arya sendiri, tapi kan mas Arya nggak di sini, terus kebetulan Ajeng mau tunangan sama mas Ganjar, jadi lebih baik nggak nyimpen punya cowok lain di rumah."


"Kamu mau tunangan, sama Ganjar?" bu Ratih tak asing dengan pemuda berprestasi dari kampung sebelah itu.


Ajeng mengangguk, "Mas Arya yang mau nikah, masa Ajeng nggak, kan nanti ketinggalan jaman dong. Titip salam sama mas Arya ya, Bu Ratih. Maaf baru bisa balikin sekarang, hampir lupa, eheheheh."


Bu Ratih menunduk, dia juga tidak tahu kenapa bisa menitihkan air mata, seperti kecewa akan kabar pertunangan Ajeng dengan Ganjar, waktu itu dia berharap sekali Arya bersama Ajeng, tapi terburu mereka ada masalah dan Arya meminta pergi ke luar negeri.


Coba saja Arya di sini, pasti rumahnya sudah ramai karena Ajeng juga di rumah ini, dia tidak bisa menyangkal di mana Ajeng memang bisa mengendalikan Arya, dia pun tak yakin akan Ellin.


Huh, takdir orang tidak bisa ditebak.


"Yaaaaa', kamu dengerin Mama kan?" bu Ratih gemetar menghubungi anaknya.


Terdengar suara gelas kaca dilempar dari tempat Arya, bukan sekali, lebih dari dua kali.

__ADS_1


"Udah, kan kamu juga udah move on dari dia, kalian udah put-"


"Arya nggak pernah bilang putus, Mam!" Arya remat pecahan gelas kaca yang ada di tangannya, membiarkan tangan itu mengucurkan darah. "Mama yang bilang, coba nggak bahas Ellin ke Ajeng, dia pasti nggak akan kepikiran cari cowok!"


"Ya', kan kamu udah ke sana, Mama rasa Ellin lebih tepat buat kamu!"


"Mam, dia tuh sama rusaknya kayak Arya, mau ngerusak cucu Mama nanti?"


Jelas tidak,


Usai menutup panggilan ibunya, Arya hidupkan kembali ponsel di tasnya itu, ponsel lama di mana nomor Ajeng berada.


Tidak boleh, Ajeng tidak boleh dipinang pria lain.


"Bibir lo udah gue cium, itu artinya yang lain juga harus cuman gue, nggak boleh cowok lain!" ujarnya geram. "Cuman gue!"


Slink,


Puluhan pesan dari Ajeng mulai bermunculan, bahkan beberapa biduan mencarinya, endak memberi penawaran gratis asal dihentak dalam.


"Sial!"


[Mit, kamu ke mana?]


[Helo, Mas Arya ... jaketmu mau dikasih pewangi merk apa?]


[Kamu pergi kok nggak bilang aku, kamu ke mana?]


[Aku udah dapet minyak dari mamamu, oleh-oleh kok minyak?!]


[Mas Arya beneran mau nikah?]


[Mas Arya, aku kenalan sama tiga cowok loh, kerenkan aku!]


Brak!


"Gue beliin dia baju, bukan minyak!" gumamnya menahan kesal.


Dia tekan ikon panggilan itu, "Terima telpon gue!"

__ADS_1


__ADS_2