Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Ajeng Bimbang


__ADS_3

"Jeng, kemarin katanya menang, suamiku sampe gemeter lawan kamu!" bu Desi pagi-pagi sudah mode ajak ghibah live.


"Iya, bener, Bu Desi. Tapi, kan pak Tarno juga menang itu sekali, nggak lawan Ajeng sih, katanya sebelum Ajeng dateng. Dapat berapa?"


"Walah cuman 300ribu, cuman seminggu aja nggak sampe udah habis, Jeng. Kamu dapat berapa?"


Wah, jangan ditanya lagi kalau Ajeng yang dapat tentu banyak dan sampai celengan ayamnya tidak muat, banyak uang dua ribuan sampai menggulung, kalau ditotal ya jutaan.


Tapi, dia kembali terdiam, setelah ini dia sudah tak main ayam lagi, Arya melarangnya


Eh, siapa Arya?


Ajeng berbisik, "Itu maksudnya apa, Bu Desi?"


"Oh, jadi demitmu itu udah kepincut sama kamu, cuman sekarang tinggal kamu mau apa nggak sama dia, tapi loh ... kan, dia itu udah celap-celup banyak biduan, aku kok khawatir kamu diledek kawin sama mantan playboy ranjang, Jeng. Belum lagi kalau ternyata berubahnya cuman waktu ini aja, besok dia kambuh, apa nggak kasihan kamu yang misal nikah sama dia, terus hamil, dia tinggal, kamu gimana?"


Deg, itu ada benarnya juga, wajar ada kekhawatiran seperti itu, apalagi Arya masih harus ke luar negeri, di sana tidak tahu benar berhenti atau masih doyan, laki-laki tidak terlihat, berbeda dari perempuan yang pasti tubuhnya berubah


Ajeng bimbang, tujuannya masih pada pria yang mirip dengan Hikam, tapi kemarin dia kecewa, yang mirip Hikam tidak mau dengan dia karena kurang cantik.


Giliran Arya yang lebih tampan dari Ganjar, lebih kaya, tapi nakal, malah seleranya ke Ajeng, si tukang adu ayam, seperti ada yang menyimpang dan tidak sesuai.


Apa ya aku ini cuman pelampiasannya mas Arya, hem? Dia kan doyan biduan, masih nyarik lagi biduannya sampe sekarang, kalau bener yang dibilang bu Desi ya bahaya aku nya.


Berulang kali panggilan Arya tak dia jawab, pesannya pun hanya dibaca tanpa dibalas, Ajeng memilih datang ke ruangan Hikam, dia ingin berunding masalah ini, dia anggap Hikam punya teropong akan karakter terbaik seorang pria seperti Arya, anggap saja jaman Ganjar itu memang Ajeng yang sial


"Dia bilang suka ke kamu semalam?"

__ADS_1


Ajeng mengangguk, "Dia bilang udah nggak main biduan lagi sejak malam itu, waktu Ajeng habis dicium sama dia, yang dia mau ke luar negeri, Mas Hikam. Dia tinggalin semuanya, padahal Ajeng belum bilang mau, terus di sana dia kan mau dijodohin sama anak temennya bu Ratih, dia ya milih ke sini, nggak mau, baru mau balik ke sana kalau Ajeng jadi sama dia, gimana Mas Hikam, dia loh beda sama kamu!"


Bojomu semangatku, Mbak Dewi!


Itu masih berlaku bagi Ajeng, apapun yang Hikam katakan jelas akan merasuk ke dalam diri Ajeng, sudah kebenaran yang tidak bisa Ajeng tolak, sangat istimewa suara-suara Hikam di telinga Ajeng.


"Kamu suka sama dia?"


Wajah Ajeng sontak memerah, "Ahahahah, Mas Hikam ini tanya apa, lah dia aja beda sama kamu loh, masa iya aku sejajarin dia sama kamu, Mas!"


"Huh, kamu mau yang beneran sama kayak aku?"


"Iya, Mas Hikam kan tahu, kamu itu idaman, Ajeng seleksi ketat yang mirip sama kamu, ya emang Ajeng nggak kayak mbak Dewi sih, tapi ya aku pengennya kayak Mas Hikam!"


Tidak bisa dinego, kalau katakan Dewi meninggal, dia mau menggantikan Dewi menjadi istri dan ibu dari anak-anak Hikam, mungkin begitu.


"Ajeng bilang ke Ayah gitu?"


"Iya, Nda. Cuman, sekarang siapa yang mirip begitu, kan nggak ada, jodoh cerminan diri, Ajeng ya tahu kalau dia nggak sama kayak kamu, makanya dia ngerasa susah. Tapi, kalau Arya, rasanya ya beda jauh sama aku, Nda. Dia bilang mas Hikam nggak suka nidurin biduan, Arya udah dari sekolah main terus!"


"Ahahahah, tapi kalau aku bilang sih, nggak bisa nge-judge orang seenaknya, kita nggak tahu loh hidayah itu datengnya kapan, kalau dia diberi petunjuk jadi baik, bisa lebih baik dari kita yang nggak pernah nakal, Yah."


Nah, ini baru benar.


"Minta Ajeng coba dulu, atau Ayah mau ketemu sama Arya, itung-itung kalian rundingan selayaknya calon adik ipar ketemu sama walinya, eheheheh, kan gimanapun kalau Ajeng nikah nanti, kamu yang maju ke dia, Yah. Mungkin ini udah jalannya, kamu ketemu Ajeng belum menikah, jadi kesempatan dia menikah ada walinya!"


Mata Hikam berkaca-kaca, dia teringat pesan almarhum ayahnya, Ajeng bukan anak diluar nikah, ayahnya sudah menikahi ibu Ajeng bahkan sebelum wanita itu mengandung Ajeng, hanya saja tidak diresmikan dengan buku nikah, tapi Hikam ada buktinya, masih dia simpan.

__ADS_1


"Besok Ayah ketemu Arya, maunya dia apa!" tegas Hikam, Dewi pun mengangguk.


***


Bu Tiwi berbaring di kamar Ajeng, mendadak ingin ke kamar anak asuhnya ini, kok ya matanya sakit begitu masuk kamarnya Ajeng, dirapikan model apapun tetap saja berantakan di matanya.


"Gitu makanya aku larang Ibu masuk ke sini, pasti komen dan mual, lah gimana emang Ajeng bisanya tidur model begini!"


"Heh, Ibu itu kasih tahu yang baik, kamu udah dewasa, kapan aja bisa nikah, kalau calon suamimu lihat kamar ini apa nggak pingsan, nggak jadi malam pertama, ancur semua!" celoteh bu Tiwi. "Kamu kan dapat uang itu, wes buat beli ranjang yang bagus, itu lemari peyok diganti, rak-rak, semuanya dipilihin, udah setelah itu kumpulin uang dari kelurahan aja, ayamnya disembelih lebaran haji, ini termasuk nama baikmu loh!"


Ajeng berpikir juga, siapa yang mau tidur di kamarnya meskipun cinta setinggi langit, baru ditiduri berdua saja bisa ambruk, ada yang lubang pintunya, bisa ada tikus yang masuk, hancur suasana.


Celengan ayam itu bu Tiwi serahkan semua, "Renovasi kamarmu, kan ini nggak gabung lain-lain, buat yang cewek banget, Jeng!"


"Aku tanya mbak Dewi sama mas Hikam besok ya, Bu Tiwi. Kan, mereka tahu selera bagus dan punya kenalan tukang-tukang, terus kalau direnovasi, Ajeng tidur mana?"


Bu Tiwi tunjuk kamarnya, bisa jadi satu denganya atau sama bude Lastri, wanita itu dapat pesanan banyak lontong kupat dua hari ini, ibunya Ganjar ya menghubungi, pesan lontong kupat khas kompor meleduk.


Beberapa model kamar Ajeng lihat-lihat, internet lancar pasti aman, dia tandai dan simpan, besok mau dikasihkan ke Hikam dan Dewi supaya prosesnya cepat.


"Jeng, demitmu dateng itu loh, di depan sama bu Tiwi!" ujar bude Lastri.


"Mas Arya?"


"Ya sapa lagi, udah temuin sana, dia pake jas kayak yang nge-dance gitu, Jeng!"


Ajeng buru-buru ke luar kamar, tak lupa celengan ayam satu dia bawa.

__ADS_1


__ADS_2