
"Yes, anak gue bakal nambah dua!"
Arya berteriak kegirangan, Ajeng hamil anak kembar yang kedua ini, walau masih samar dari penjelasan dokter dan masih harus dipastikan beberapa minggu lagi, tapi keyakinan Arya tak ada elaknya, dia sangat yakin kala mendengarkan penjelasan tadi, istrinya pasti hamil anak kembar.
"Mas, mbok ya istrinya ditungguin, kok ditinggal!" Ajeng kepayahan membawa dirinya. "Mas, kalau nggak kamu bantuin aku ini, yang ada anakmu ilang loh!"
Arya langsung berhambur memeluk istrinya, dia gendong Ajeng dan mendudukan wanita itu ke dalam mobil pelan-pelan. Menciumi wanitanya dengan penuh sayang dan harus Ajeng akui kalau memang Arya ini suami supernya, dalam hal apapun selalu tanggap, walaupun Ajeng harus berteriak lebih dulu mengingatkan.
Namun, bila nanti dia diberikan pertanyaan memilih siapa sebagai jodohnya lagi, dia hanya mau si burung kocok ini.
"Mas, inget loh ya nggak boleh ajak Ajeng olahraga malam sampe satu bulan penuh ke depan!"
"Wee, mana bisa aku gitu, Dear. Kan, kamu tahu kalau nggak boleh malem ya siang aku ajak kamunya!"
"Loh, kamu ini gimana sih, wong kamu ya dengerin omongannya dokter tadi, nggak boleh loh, anak kita ini ada dua jadinya harus ekstra!"
Arya tak mau mendengarkan itu, dia tetap manyun dan terus mendesak Ajeng untuk mengiyakan ajakan bercinta nantinya.
Mau tak mau Ajeng iyakan, bila menolak Arya yang ada dia akan kalah, nanti saja dia pura-pura sakit biar Arya gagal menguasai dirinya.
Sesampainya di rumah, kedua orang itu disambut oleh suara pekikan anak kecil, siapa lagi kalau bukan Arun yang sangat hafal suara mobil Arya, papanya.
__ADS_1
Bahkan, sebelum Arya masuk ke rumah, bocah itu terus jejeritan tak sabar, mau digendong papanya yang tampan dan digilai semua gadis desa.
"Arruunnnn, Papa pulang baby!"
"Aaaaaaaaaaaaakkhhhhh!" Arun menjerit saat tubuh gendutnya terangkat, suka sekali makan sampai seperti ini, menggemaskan.
"Heh, habis ini Arun bakal jadi kakak ya, ada dua adeknya, ahahaha... Papa bikin mamamu hamil lagi, usaha Papa berhasil!" ujar Arya berbisik pada anaknya.
"Ya', kamu ini kok bisikin Arun kayak gitu, dia ya belum paham!" ujar bu Ratih.
"Dia udah paham, Mam. Wong aku sama Ajeng pernah waktu bikin adeknya itu, Arun bangun, ahahah, jadinya sekilas Arun lihat gerakan aku!"
Ya ampun!
Kedua orang tua Arya hanya bisa geleng kepala, memang anaknya itu kurang asupan saat bayi sampai sinting, bahkan mereka angkat tangan.
"Anak aku mau nambah dua, ahahah, jadi nanti tahun depan ada tiga yang antri sama Opanya minta sangu lebaran!" Arya gendong Arun seperti pesawat.
"Loh, apa yang enggak buat cucu Opa, sini Arun sama Opa aja!"
"Jangan dong, kalau ada aku di rumah, Arun sama aku aja, dia harus kenal banget sama Papanya!" elak Arya.
__ADS_1
"Walah, wong papa model kamu aja kok minta dihafalin, sekali aja udah hafal, wong rusak!" sahut pak Darma.
Papa, astaga!
Gantian bu Ratih yang memukul kepala suaminya, begini ini kalau punya anak model Arya, ditambah mantunya Ajeng, sinting semua.
"Mamammmaaaa," panggil Arun seraya menunjuk mamanya yang sedang muntah-muntah.
"Dear, kalau muntah ditahan!"
"Ditahan kepalamu!" balas Ajeng sengit.
Bukannya marah, Arya justru tertawa kencang.
***
Hola, keluarga sinting mau pamit dulu, semoga kita bisa bertemu di cerita lain yang lebih fenomenal.
Maafkan Bucil yang sangat rusak updatenya, real life sangat tidak bisa ditinggal akhir-akhir ini.
Jangan lupa mampir ke cerita bucil lainnya, di banyak lapak lain, cari aja nama Rien Rini, baca ya...
__ADS_1
Terima kasih semua.