
Jalanan gelap tak mengurungkan niat Ajeng untuk menjauh dari Arya dan kembali ke panti kampung itu seorang diri, walau ada mobil yang terus mengikutinya, meminta dia untuk berhenti, Ajeng terus melangkah dengan tegasnya, kegelapan seperti sudah menjadi teman baginya.
Duh, perutku sakit!
Menoleh ke kanan dan kiri, tidak kenal kalaupun ada rumah penduduk di sana, menelisik ke depan lagi siapa tahu ada ponten umum atau mungkin sungai yang bisa dia manfaatkan.
Nihil, tidak ada yang bisa membantunya, ini jalanan gelap dan asli rumah penduduk yang jarang, adapun sawah kalau Ajeng mau buang hajat di sana pasti ramai besoknya, kasihan pak tani menemukan harta karun Ajeng pagi-pagi.
"Nah, gitu dong berhenti, nggak keras kepala aja jadi cewek!" gumam Arya, dia tepikan mobilnya di belakang Ajeng lalu dia ke luar.
Keringat di kening Ajeng menetes deras, wajahnya pucat, bibirnya kering, tanganya gemetar di perut, matanya sedikit berair menatap Arya.
"Mas Arya, mmmmm ...."
"Sakit kan, gue bilang apa, di sini dingin, lo nekat aja kal-"
Pret,
"Lo-"
Pret,
"Cariin ponten, Mas Arya!" pintanya setengah berteriak.
Arya pejamkan matanya, mau tidak mau malam ini mobil itu harus dia buka semua jendelanya, aroma laknat memenuhi dan bahkan terserap di semua kain kursi sampai jaket yang Arya kenakan.
Dat, dut, dat, dut, pret berulang kali ke luar, walau pakai masker pun tak akan bisa menahan bau menyengat itu menusuk indra penciuman.
Ini lebih parah dari bau kandang ayam kemarin.
Huwek, huwek, huwek!
Arya teguk minuman bersoda yang baru saja dia beli di mini market pom bensin satu-satunya di daerah itu. Mobil dia biarkan terbuka, kalau bisa dia cari cuci mobil dekat terminal yang buka 24 jam untuk mobilnya, di tangannya sudah ada pewangi mobil baru yang nanti dia semprotkan.
Jaket sampai dia lepas, dibungkus, baru dia buka dan mencucinya di rumah.
"Fiuh, luegaaaaa aku ini, Mas Arya!" cengar-cengir pamer perut langsing.
"Lo kalau bukan lo, udah gue cekik di jalan tadi, setan aja males numpang!" Arya berikan minuman sari buah. "Minum ini, habisin, biar perut lo itu nggak sampah semua, makan apaan coba jadinya lebih hina dari sampah!"
"Eheehheheheh, lah gimana mendadak sakit, kalau ada sungai ya tadi aku nyemplung sendiri, nggak ada loh, Mas, cuman ada kamu yang bisa bantu. Makasi ya, rasanya mau mati tadi kalau nggak bisa ke luar, eheheheheh ...."
__ADS_1
"Gue yang mau mati!"
"Ahahahahahah-" plak. "Maaf loh, Mas Arya, aahahahahah, jangan marah gitu, nggak ganteng lagi nanti!" mendorong-dorong lengan Arya.
Arya patutnya bersyukur karena bencana sakit perut tadi membuat hubungannya bersama Ajeng membaik, tanpa dia bersujud minta maaf dan ada drama hujan-hujanan menunggu Ajeng mau berbicara dengannya, cukup bau kentut saja berhasil mendapatkan semua itu.
Dia putar kemudinya ke dekat terminal kota, ada cuci mobil, sekalipun sudah tidak bau, dia tetap mau dicuci, tidak mau ditunda lagi daripada besok-besok kepikiran.
"Laper?"
"Iya, ehehehehe, habis ke luar mesti pengen makan, krucukan perutnya, Mas!"
"Yauda, mobilkan masih antri, lo ikut gue ke sana, makan ayam krispi!"
"Dibayarin?" ingat belum gajian.
Arya mengangguk, Ajeng langsung melompat ke sampingnya, bersiap melangkah lebar.
"Tapi, lo tadi udah cebok beneran kan? Ada yang nempel di baju nggak?"
"Nggak ada, Mas. Udah bersih, kalau di ****** ***** ya tadi udah aku cuci, aku pake uang baru di tas, selalu bawa sama pembalut kalau mendadak haid."
"Lo cuci, terus lo taruh di mana?"
Arya putar bola matanya jengah, memijat pelipisnya yang sontak memerah, mau tidak mau dia naik ojek ke sana hanya untuk mengambil benda kramat Ajeng.
Dan beruntunglah penjaganya tidak banyak tanya, tidak Arya bawa pulang, dia taruh dikantong plastik hitam, lalu dia buang ke sampah.
Ngeri sendiri membawa barang begitu, terbayang bau kentut Ajeng tadi, walau sudah dipastikan bersih, cuman basah, tetap Arya buang.
"Mas Arya beli di mana ini?"
"Ya, di mini market, gue nggak tahu ukuran lo, tapi kayaknya L muat, ya nggak?"
"Ya emang L, bakatmu mungkin ya beliin biduan ****** *****?"
"Beli sendirilah, gue cuman ngerobek!"
Plak!
"Sakit, bego!" Arya usap lengannya.
__ADS_1
"Biarin, ngomong kok nggak ada saringannya, malu loh didengerin ayam krispi sama yang lain ini, hih!" biar, Ajeng pukul lagi.
Setelah drama berakhir, barulah mereka makan, berbagi seperti anak kecil, berebut pun juga begitu, membuat pekerja dan pelanggan lainnya cemburu, bisa-bisanya ricuh sendiri.
Duduk di mobil bersama pria tampan dan nakal, entah mau bangga atau menangis bawang, malam ini sulit untuk Ajeng terjemahkan artinya, bertemu dan menghabiskan banyak waktu dengan Arya, si burung kocok langganan polisi.
"Mas Arya nggak dimarahin bu Ratih sama pak Darma pulang jam 12 malem gini?"
"Lah, gue nggak pulang, biasa aja, justru kalau pulang itu mereka yang kaget, kok bisa pulang!"
"Ahahahahaah, nuakal kamu itu, Mas Arya. Tapi, kok ya mereka masih mau ngasih makan kamu, orang nyusahin aja kerjaannya!"
"Lo sendiri, nggak dicariin bu panti apa?" balas Arya.
Ajeng menoleh ke Arya, "Ya dicariin, tapi mereka udah tahu aku ke mana, sering juga aku adu ayan sampe jam tiga pagi, jadi udah biasa pulang sembarangan gitu."
"Jangan lagi, ini terakhir lo pulang malem banget, besok jam sepuluh harusnya lo udah tidur!"
"Kenapa emangnya, bu Tiwi aja nggak larang aku kok, ayamku ya kasihan kalau dikandang terus, harus diaj-"
"Katanya mau dapet yang model Hikam, emang Dewi keluyuran sampe malem?"
Eh, benar juga, jangankan jam sepuluh, jam delapan saja, Dewi sudah duduk manis di rumah katanya, kalau Ajeng ya bisa biduran di rumah jam segitu.
"Gue bilang, jangan lagi, lo itu cewek, bisa aja ada orang sinting nangkep lo, terus diajak ke gubuk, bisa apa lo setelah itu, hamil tanpa suami, lahiran anak-"
"Lah, biduanmu?"
"Ck, mereka kan emang kerjaan begitu, bukan nggak sengaja, tahu juga nggak bakal hamil, bedain kali!" emosi Arya. "Gue udah berhenti lebih dari dua bulan, pusing gue!"
"Pusing kenapa, Mas Arya?"
Kan, Arya gelengkan kepalanya, bisa panjang kalau harus menjelaskan semua itu pada Ajeng, dia bawa pulang ke panti saja.
"Jaket gue cu-"
"Apa ibunya Ajeng juga korban pelecehan ya, terus hamil Ajeng, pas lahiran dia pergi ninggalin Ajeng di panti ini, di rumah bu Tiwi?" Ajeng menunduk, cemberut, satu hal yang sebenarnya dia tanyakan, tapi terus dia simpan rapat. "Mas Arya, sedih loh aku!"
"Mau gue peluk?"
"Nggak mau, bekas biduan gitu!"
__ADS_1
"Biduan lagi," gumam Arya, tidak jadi memeluk.