Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Boleh Masuk


__ADS_3

"Beneran boleh masuk?" Arya masih diambang pintu, dia sampai menunjukkan hasil mimpi basahnya pada Ajeng di sofa baru bu Ratih itu. "Lo nggak akan bohong ke gue kan, Dear? Gue beneran kangen sama lo, jangan usir gue ya, Dear!"


Ajeng lebarkan pintu kamarnya, dia paham begitu melihat banyak benih Arya melebar di sofa baru ibu mertuanya, tak lain memang Arya tidak bisa menahan burung kocoknya untuk sekadar puasa sebentar, atau misal harus puasa, setidaknya masih ada di dekat Ajeng, itu harapannya.


Sebagai pria yang sudah melebarkan sayapnya di dunia lubang kenikmatan bidadari dunia, tentu dia punya sesi percintaan yang panjang dan tinggi, bukan menuntut, tapi istrinya memang harus paham keinginan suaminya itu, dalam hal ranjang tak akan pernah bisa dikesampingkan, harus berdua.


"Gue kangen sama lo, sama anak kita, nggak mau tidur sendirian, nggak mau sarapan atau kerja tanpa ada lo yang anter, gue nggak bisa, gue mau manja, gue mau lo selalu ada, gue maunya sama-"


"Ssssttt, ini kamu kan ya Mas, kok ya cerewet banget gitu loh... aku ini baru mau buka pintu, kok kamu udah ngasih angpao banyak, nanti kalau Ajeng males lagi gimana, hem? Kamu mau?"

__ADS_1


Arya langsung mendekap Ajeng, dia janji tak akan banyak berbicara setelah ini, dia akan diam, menurut patuh pada semua perintah sang istri.


Pemandangan pertama yang Arya dapatkan setelah menurut adalah hari liburnya bisa dia isi dengan melihat perut rata Ajeng yang di sana menjadi tempat persembunyian benih handalnya, dia kecup berulang kali sampai burung kocok menegang, berhasil dia kuasai karena tak mau membuat Ajeng merasa tak nyaman.


Tak lupa usapan tangan Arya yang mulai nakal, dia masuk dari bawah bertemu dengan kedua puncak bukit yang kini melebar kecoklatan dan tegang saat dia jamah.


"Nanti buat susuin anak gue ya, Dear?"


"Dear, lo nggak tega tapi suka masak ayam, kan jadinya kejem juga. Mau ganti menu lain?"

__ADS_1


Ajeng angkat wajahnya sedikit, dia sedikit memejamkan mata, Arya memang tak akan pernah bisa berhenti nakal, jarinya sudah menusuk bagian yang lain.


"Basah, Dear..." ujar Arya sambil terus menusukkan jarinya di area terlarang bawah, dia selalu punya cara agar hubungannya bersama Ajeng tetap panas. "Mau yang lebih nggak?"


"Heh?" Ajeng mendongak, mulutnya mungkin menolak, tapi liang itu sudah basah dan tentu saja anaknya di dalam sana meminta papanya datang menjenguk. "Mas, kamu ini loh!"


"Beneran basah maksimal, gue jadi kepikiran beli kursi kamarsutra, Dear... pokoknya itu yang bisa dipakai segala macam posisi, Dear. Kita bisa cobain banyak gaya tanpa takut encok, gimana?"


Tunggu, Ajeng membuka matanya yang sayu, pikirannya rancuh akan model kursi yang Arya katakan.

__ADS_1


"Emang kursinya model apa, Mas?" Ajeng buka mulutnya lagi. "Kamu mau main sama kursi gitu?"


Eh,


__ADS_2