Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Berbagi Rahasia


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Ajeng menutup mulutnya, apapun yang arya katakan tidak dia balas atau jawab.


Riasan Ajeng pun sudah tak berupa, dia basuh bibirnya tadi dengan air kolam renang, menghapus make upnya pun di sana, bukan hanya itu, dia mengambil baju sederhananya, lalu ganti sebelum pamit pulang.


Ada raut kecewa di sana, bisa Ajeng bayangkan bagaimana penilaian orang-orang padanya karena ulah Arya.


"Jeng, gue minta maaf, plis dong jangan diem!" kesekian kalinya Arya berkata begitu, tapi gadis di sampingnya ini diam saja. "Bukan lo banget kali kalau diem gini, Jeng!"


"Emang bukan!" baru dia menjawab, itu pun nadanya naik dan penuh emosi.


"Siapa kalau bukan, kan gue-"


"Ajeng itu udah nggak perawan lagi sekarang, karena kamu, brandalan nggak tahu diri, dibantu malah nyusahin!" Ajeng berapi-api, dia ingin mencekik leher Arya detik ini juga. "Kamu udah bikin impian Ajeng hancur, cowok kayak mas Hikam nggak akan mau sama cewek nggak perawan kayak aku, kotor!"


Hah?


Arya hentikan mobilnya, menepi sejenak, mencoba memahami apa yang Ajeng maksud.


"Jeng, gue ciman nyium lo, nggak nidurin lo, gimana jadinya bisa nggak perawan, hah?"


"Sama aja, aku meskipun adu ayam, nggak pernah colek-colek cowok, nggak murahan kayak sama kamu, emang kamu kira Ajeng itu cewek panggilan, terus biduan yang suka main burung kocokmu itu, iya? Brandalan nggak tahu diri, Ajeng benci sama kamu!"


"Tapi, itu beda, Jeng!" Arya masih enggan memijak gasnya, dia tidak merobek selaput darah gadis malam ini, bagaimana bisa Ajeng kehilangan keperawanan. "Lo masih suci kali, Jeng!"


"Suci, suci kepalamu!" balas Ajeng, tidak ada kosa kata terbaik di kepalanya. "Coba kalau calon suaminya Ajeng tanya, apa Ajeng pernah ciuman atau enggak, terus Ajeng jawab pernah gitu sama kamu, iya?" dia lepas sabuk pengamannya.


Dengan cepat Arya kunci mobil itu, dia cekal tangan Ajeng, tidak akan dia biarkan gadis itu pergi sendiri.


Jadi, bayangin yang enggak-enggak, Bucil mode sinetron.


"Oke, mau lo apa sekarang, mau gue tanggung jawab?"


Ajeng menoleh, dia mau meludah rasanya.


"No way, Ajeng nggak mau sama kamu, bocah nakalnya nggak ukuran, mau jadi apa aku sama kamu, yang ada tiap hari makan hati gara-gara denger kamu main sama biduan, nggak sudi!" Ajeng tepis tangan Arya.


"Heh, gue anterin pulang ke panti!" Arya pasang lagi sabuk pengaman itu, tapi Ajeng tepis, dia dorong Arya, intinya dia tidak mau. "Jeng, dengerin gue!" pinta Arya.


Tapi, keras kepala dan emosi Ajeng sedang mendidih, dia tak mau dihalangi, dia mau pulang jalan kaki, masa bodoh dibawa kabur begal.


"Ajeng itu-"

__ADS_1


"AJENG!" sentak Arya, wajah santai dan menjengkelkan itu berubah serius, kalah tentara mau perang. "Diem di sini!" titahnya.


Deg, deg, deg, deg ....


Arya kembali memijak pedal gasnya, sementara Ajeng terpaku karena teriakan Arya barusan, pria itu benar-benar menampilkan sisi lainnya.


Batin Arya mengumpat dan mengutuk berulang kali, selama ini, sejauh dia ke luar masuk penjara dan hotel, tidak pernah ada yang mengajaknya dan berhasil memancing emosinya.


Namun, tukang adu ayam ini seakan mengoyak pertahanan Arya, dia dibuat bertekuk lutut berulang kali.


Kalau bisa, dia tinggal turunkan wanita yang melawannya, tapi entah kenapa tidak bisa menurunkan dan mengabaikan Ajeng meskipun menyebalkan.


"Hei." Arya tahan bahu Ajeng sebelum turun, mereka sudah sampai di depan panti, Ajeng memalingkan wajahnya. "Gue minta maaf, oke, gue nggak tahu harus gimana, yang gue tahu cuman gue minta maaf ke lo, sumpah gue nggak sengaja dan nggak ada niatan ngerendahin lo sama sekali, lo denger gue kan?"


Ajeng tepis tangan Arya, wajah kesal bin malasnya masih terpajang di sana, seakan menjadi bintang laga yang tengah berada di titik konflik saja, Ajeng ke luar mobil tanpa menoleh pada Arya, berjalan terus dan lurus.


Sret,


'Walah, kok ya ada tai ayam di sini sih, sepatuku jadi ada stempelnya!' batin Ajeng menggerutu.


***


Ajeng bukan penggoda lelaki, apalagi lelaki orang!


"Jeng," panggil bu Desi.


"Eh, iya, Bu?"


"Kamu kenapa ngelamun aja, kemarin nggak menang adu ayamnya?"


"Loh, Ibu kok tahu kalau saya ikut main?"


Bu Desi miring-miring, "Lah, suamiku juga ikutan kok, dia tahu siapa kamu, ahahahaha, jaga rahasia ya!"


"Walah, bolo dewe, ahahahah, beres!" Ajeng tertawa pelan, jangan sampai rahasia ini bocor. "Tapi, di sini jangan-jangan ada pemain juga, Bu. Dan kitanya nggak tahu, eheheheh."


"Bisa jadi, sekarang kamu kenapa sih kok diem aja, jadi sepi di sini, coba cerita sama saya, kan kita udah saling jaga rahasia ini!"


Ajeng menoleh melihat sekitar, biasanya dia bercerita lepas pada Hikam, tapi dalam urusan ini dijamin Hikam tidak akan terima dan bisa membawa makar untuk Arya, dia tidak mau berhubungan lagi sama Arya, dengan alasan apapun, begitu inginnya.


Aman, sepertinya bu Desi bisa dia percaya.

__ADS_1


"Bu Desi, pernah muda kan ya, apa dulu waktu kenalan sama suaminya itu sebelum menikah, udah pernah ciuman?" tanya Ajeng.


"Loh, mmm ... bukannya itu wajar ya?"


Eh, Ajeng tersentak kaget, jawaban yang diluar dugaan, dia kira yang heboh bagaimana.


"Bu Desi begitu juga?"


"Sama suami dulu waktu pacaran ya udah ciuman, gimana wong berdua itu ketiganya setan, ya banyak terjerumusnya, tapi setelah itu ya dia kan pasti nikahin saya, Jeng!" bu Desi menepuk dadanya bangga.


"Jadi, ciuman pertama Bu Desi sama suaminya ya?"


"Nggak, sama mantan pacar ya ciuman!"


Loh, lagi, Ajeng yang terkejut bukan main.


"Apa nggak ngerasa bersalah udah ciuman sama cowok lain waktu menikah?"


"Ya, bersalah sih, Jeng. Tapi, kita ini nggak ada yang sempurna, intinya waktu menikah udah komitmen nggak akan lirik sana-sini, cukup satu aja. Emangnya kenapa, kamu habis ciuman sama siapa?"


Ajeng sontak bergeleng, dia beralasan ayam, tapi bu Desi bisa menebaknya, Ajeng itu orangnya apa adanya dalam urusan pribadi.


Brak!


"Bu Desi, anu-"


"Kok bisa sama Arya, Jeng?!" slink, mau menebas kepala Arya saja dia. "Suruh dia ke sini, biar saya yang hajar, kecuali-" menoleh pada Ajeng yang masih memohon untuk tidak heboh. "Dia serius sama kamu, Jeng?"


Serius?


"Maksud saya itu, setelah dia nyium kamu, dia ngomong apa? Acuh sama kamu atau ngejar kamu buat minta maaf?"


Yang kedua, Ajeng ingat itu, bahkan Arya menawarkan untuk tanggung jawab.


Bu Desi terduduk lemas, "Apa ya demit yang masuk itu udah ke luar dari Arya ya, Jeng?"


Eh, Ajeng angkat kedua bahunya, mana dia tahu, dia sendiri terkejut Arya sampai menahannya berulang kali, kalau menurut watak Arya, selesai tugasnya ya bakal ditinggal, sedang malam itu berulang kali ditahan dan meminta maaf.


"Ajeng, Bu Desi, lagi asik bahas apa?"


Mas Hikam!

__ADS_1


__ADS_2