
"Jadi, lo bakal jadi sama gue kan?" Arya lipat bibirnya, tak kuasa menahan tawa dan malu bersamaan.
Gila, ini baru pertama kali dia berkata serius pada wanita, walau yang diajak bicara sibuk dengan ukuran kandang ayam petelor dan tidak cantik layaknya bintang-bintang gemerlap Arya dulu, tapi karakter Ajeng yang begini ini yang dia butuh dan suka.
Baru saja mereka kembali dari rumah pak Kades, menjelaskan semua masalah yang sempat membuat warga gempar dan hampir saja pak Kades melengserkan Ajeng dari jabatan agungnya.
Biro konsul warga.
"Iya, Mas Arya. Kamu udah tanya sepuluh kali loh, masa iya nggak percaya. Ajeng sama kamu, nikah kita, Mas, tenang ... wong ya nanti aku disuruh sabar aja, hayo!"
Eh, Arya menganga mendengar jawaban Ajeng.
"Bisa kali gue gituan, habis magrib tuh akad, malemnya gue bobol ya bisa, kan cuman nggak ada bibit unggul gue aja, masalah cetak gol jelas bisanya, kecuali nanti kalau gue udah ke luar negeri, operasi, baru libur, awal jelas bisa!" ujar Arya berkelakar.
"Ahahahahahah, kamu ini loh, Mas ... Ajeng ini nggak lagi bahas masalah itu kok, maksudnya sabar itu disuruh sabar sama modelmu yang nyebelin ini loh, harus diperhatikan biar nggak ngawur lagi, belum kalau kayak anak kecil, terus sabar jauhan sama kamu. Walah, kepalamu ini isimya apa aja sih, kamaaaarrr terus yang ada, huh!" Ajeng jitak ayamnya, salah sendiri melihat ke arah dia terus, bukannya mengintimidasi Arya. "Aku hari ini sibuk nempatin ayam sama kandang barunya, kamu kalau mau istirahat, silakan, jangan ikut panas-panas, Mas!"
Arya belum mau bergerak, dia kira Ajeng sudah tak sabar malam pertama sebagai pasangan bersamanya, ternyata tidak jauh dari masalah demit yang melekat padanya.
"Heh, jangan disitu, kamu kepanasan loh, sini!" Ajeng ulurkan tangannya. "Ngambek kan, jangan gitu loh nanti cepet tua, kan kamu lebih muda dari Ajeng, Mas!" dia cubit pipi Arya.
Arya tersenyum, dia jatuhkan kepalanya di bahu Ajeng setelah mereka berada di tempat dingin.
Menunggu adalah hal yang tidak enak, termasuk menunggu hari pernikahan keduanya. Setiap jam terasa sesak bagi Arya, dia yang terbiasa di rumah sendirian tanpa ada saudara menjadi tak sabar akan ada temannya.
"Ini lagi puasa loh, masih nunggu jam ngabuburit, jangan nempel gitu, Mas!"
"Bolehnya apaan?" Arya tunjuk ayam-ayam itu. "Gue bosen lihat ayam terus, makanya nempel aja ke lo, entar mau buka apa?"
"Ahahahah, kamu lemes ternyata, ya nanti dilihat dulu ada apa di jalanan, kan ganti-ganti masakannya, nanti kalau udah di rumah sama, aku masakin kamu, Mas!"
__ADS_1
"Nggak usah kalau nggak bisa, kan bisa beli!"
"Eh, menghina, jelas aku bisa, olahan ayam jenis apa aja aku bisa, cuman emang di panti itu harus bude Lastri sama bu Tiwi, tapi aku bisa kok, nggak jago amat, tapi bisa!" ngeyel pokoknya dia bisa.
Arya anggukkan kepalanya saja, jujur sejak ada Ellin waktu itu, dia sulit tidur, di kamarnya dipenuhi rasa gelisah dan takut.
Selama ini dia berganti biduan tak peduli sama sekali, bertemu biduannya di luar sedang wanita itu bersama pria lain, juga Arya biasa saja.
Berbeda kali ini, dia takut Ajeng pergi atau memilih pria selain dirinya, tidak cantiknya Ajeng ini mahal ternyata.
"Lah, malah tidur, emang bahunya Ajeng kayak bantal dakron apa ya, Mas?" dia gerakkan bahunya. "Yawis tidur aja, nggak apa, bentar aja loh ya, jangan mati loh ya!"
Arya tersenyum tipis, dia dengar semua yang Ajeng keluhkan, tapi sengaja dia pejamkan matanya, merasakan kehadiran satu sama lain.
Ajeng sendiri duduk bersandar, dia biarkan angin menampar dirinya lembut, mengeringkan keringat yang sedari tadi menetes, satu tangannya meraba pipi Arya, dia tusuk-tusuk dengan jemarinya.
Nggak ada manusia yang sempurna, selagi mau menerima dan memperbaiki masa lalu yang jelas tak bisa dihapuskan itu, semua akan baik-baik saja.
"Dia itu takut kalau Ajeng pindah ke lain hati, dia udah cocok sama Ajeng, Pa. Dari awal itu udah ketebak dia kepincut sama Ajeng, soalnya yang berani ngelawan dia cuman Ajeng aja, ngelawan sambik dikasih tahu, yang selama ini sama Arya kan ngikut aja, nggak tahu bener salahnya di mana!" balas bu Ratih, dia lega melihat anaknya berubah. "Nggak kehitung loh, Pa ... habis berapa buat Arya itu, uang sama muka udah ancur-ancuran!"
"Ahahahahahahaah, jadi inget waktu dilengserin dari Kades, ahahahah ... pengen tak cekik aja itu anak, tapi ya gimana lagi namanya anak!"
Bu Ratih ikut tertawa, bagaimana tidak, mereka membuat program untuk warga desa yang dinilai bagus dan sangat aman, membuat masa depan pemuda desa berkualitas, sedang mendadak ada kabar Arya di kantor polisi, mana kasusnya bertentangan dengan program mereka.
***
"Dear, bakwannya yang banyak kalau beli!" Arya kalungkan satu tangannya ke bahu Ajeng.
Plak!
__ADS_1
Ajeng mendelik, kasihan pedagangnya kalau dikasih pemandangan begini, belum lagi kalau jomlo.
"Bakwannya nambah lima, Mbak. Terus, itu sosis solonya kasih empat ya, apalagi kesukaannya ibu sama bapak apa, Mas?" sosis solo untuk bude Lastri dan bu Tiwi sudah di tangan, tinggal calon mertuanya. "Heh, ditanyai kok malah bengong sih!"
Arya gesekkan hidungnya di rambut Ajeng, "Kasih aja sesuka lo, mereka doyan semua kok!" dia cium lagi rambut Ajeng. "Dear, cuci rambut kapan?"
"Dua hari lalu."
"Kok masih wangi, nggak bau ayam?"
Plak!
Ajeng uji nyali rasanya ke luar bersama Arya ini, inginnya ya jalan seperti sejoli lainnya, bukan berdebat terus, apa-apa bikin emosi, terlebih lagi manjanya minta ampun, seperti Ajeng ini satu-satunya wanita di dunia.
"Udah, kamu mau beli apa lagi?" duduk di boncengan Arya, kali ini mereka naik mobil. "Satu, dua, tiga-"
"Pengen es, tapi di rumah ada buah jambu merah, bikinin ya ..." lagi, apa-apa minta Ajeng yang melakukannya.
"Iya, ayo balik kalau gitu, besok kalau sama-sama kerja, jangan ngeselin gini loh ya, nanti nggak makan kalau nggak beli sama aku, Ajeng tarik kupingmu, Mas Arya!"
"Ahahahhaahahah, kan gue pengen bareng sama lo, masa iya dihukum?!"
"Ya nanti kan kalau udah nikah, sementara ya nggak dulu, kita dipingit aja-"
"NGGAK, NGGAK ADA KAYAK GITU!" balas Arya memotong setengah berteriak.
Dia hentikan motornya menepi, menoleh pada Ajeng.
"Nikah sekarang aja, Dear ... biar samaan!"
__ADS_1
Ya ampun, nggak tahu ke mana burung kocok sok jagoan itu sekarang!