Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Cuman Milikmu


__ADS_3

Proses Vasektomi, Ajeng mau tidak mau harus membaca banyak mulai malam ini, sampai pagi tiba, membuatnya daerah sekitar mata menghitam karena dia tak tidur dengan baik.


Berulang kali Arya menghubunginya, tak ada satu panggilan pun yang Ajeng jawab, bukan karena marah, tapi dia mau paham dulu baru berbicara dengan Arya.


Kok ya dia kepikirab begitu sih? Otaknya orang pinter itu kadang berbahaya!


Ajeng pandangi ponselnya yang terus bergetar di waktu istirahat siang, dia masih malas meskipun beberapa kesimpulan berhasil dia catat tentang prosedur yang Arya jalani, bahkan bisa dikatakan setelah menikah nanti, kalau jadi, benih itu belum ada, Arya harus pergi melakukan operasi lagi untuk kembali seperti adanya, belum lagi menunggu pemulihan sekitar sebulan untuk aman, kepala Ajeng berputar memikirkan itu semua.


"Kok bisa ya dia kepikiran begitu, Mas Hikam?" Ajeng bergulung ke dekat posisi duduk Hikam, mereka ada di mushola kecil kantor kelurahan. "Dia niat banget loh mau tidur sama biduan sampe siap siaga gitu, Ajeng baru tahu kalau ada proses begitu," aku Ajeng.


Hikam tersenyum, dia bebas mengusak rambut dan menepuk pipi adiknya sekarang, satu tangannya bermain di wajah Ajeng dan sesekali menarik rambut Ajeng sampai gadis itu berteriak.


Keakraban yang membuat banyak orang iri dan rindu gaya Ajeng menarik perhatian Hikam, sekarang tanpa harus berdandan yang bagaimana Hikam bakal terus memperhatikan Ajeng.


"Dia udah nyesel kok masalah itu, yang penting sekarang tinggal jelasin ke semua orang masalahnya si Ellin, Mas denger si Rian bakal dateng kan besok, dia baru aja selesai tugas di sana sama belajarnya, jadi baru bisa ke sini besok," jelas Hikam.


"Itu masa ya di depan orang kampung, Mas?"


"Nggak lah, cuman di pihak penting aja, nanti mereka yang mendamaikan warga, Jeng. Kamu udah baikan sama Arya, atau masih males ketemu dia?"


Ajeng sontak menakup kedua pipinya, "Ajeng nggak marah sama dia loh, Mas Hikam. Orang ketemu kok tiap tarawih itu, Ajeng ya mampir ke rumahnya bu Ratih kemarin, akhirnya tahu itu kalau ada si Ellin sama rahasianya mas Arya, ini dia telponin Ajeng aja, nggak Ajeng angkat, biar!"


"Lah, kenapa? Angkat aja, daripada dia kerja gelisah loh!"


Tidak, selain dia mau memahamkan diri akan prosedur medis Arya itu, Ajeng juga masih terbayang adegan semalam di dapur rumah Arya, kebetulan kamar mandi tamu ada di samping dapur, jadi mereka berdiri di sana beberapa menit


Masih terdengar jelas di telinga Ajeng bisikan Arya meminta maaf padanya, geli-geli malu, minta maaf untuk nanti bila setelah menikah, akan ada masa di mana dia dan Arya tak bisa melakukan hubungan itu karena prosedur medis yang harus Arya lakukan dan pemulihannya, lalu setelahnya pipi Ajeng kembali merona, kulit coklatnya semakin matang saja.


Semalam,


"Mas Arya mau apa?" bertanya tapi tidak berani melihat wajah Arya yang mengintimidasinya dari atas. "Sanaan loh, nanti dicari orang-orang, Ajeng ya mau pipis!"


"Mas Arya, heh!"


Arya tak menjawab, tapi bisa Ajeng rasakan deburan nafas Arya yang hangat menampar halus wajahnya berulang kali.

__ADS_1


Satu tangan Arya mencapit dagu Ajeng, membuat gadis itu mendongak hingga wajah mereka hanya berjarak lima senti saja, mata sayu Arya dan senyuman tipisnya.


Duh, darah Ajeng kembali mendidih begitu mata mereka saling bertemu dan Arya semakin mengikis jaraknya.


Tangan yang sedari tadi di dagu, memutar ke balik tengkuk, sedikit dia berikan tekanan agar wajah mereka semakin dekat.


Ekhem!


"Eh!" Ajeng dorong Arya menjauh, Arya pun terkejut mendadak ada suara yang memecah konsentrasinya. "Ib-ib-ibu, Mas Arya!"


Mata Arya sontak melebar, dia berbalik, bu Ratih sudah berkacak pinggang dengan mata yang menajam, di sampingnya ada sapu dan pel, bisa saja terbang ke tubuh Arya kalau dia mau.


"Jeng, minggir, biar Ibu hajar ini anak!" titah bu Ratih.


Ajeng mengangguk, dia mau melangkah, tapi Arya memeluknya dan bersembunyi di belakang punggung Ajeng.


"Di sini aja, Dear!" Arya tahan Ajeng, benar-benar tak berkutik kalau ibunya sudah marah.


"Anu, Bu Ratih, ini Ajeng nggak bisa gerak!" adu Ajeng.


"Jangan dong, Maaaamm!" sahutnya masih mempertahankan Ajeng. "Dear, tolongin!"


Ajeng menoleh sedikit, "Dar-dir, dar-dir, Ajeng ini bukan biduanmu itu!"


"Dear itu lo, artinya Sayang!"


"Heh, kok malah debat, Mama mau mukul kamu ini!" bu Ratih maju beberapa langkah. "Sini, Jeng. Pindah sini, jangan belain anak nakal satu ini, waktu buat mikir apa aku sampe nakalnya nggak aturan gini, Gustiiiiii!"


Plak!


"Maaam, sakit!"


"Sakit mana sama Ajeng kalau kamu cium, tapi belum dinikahin, hayo!"


Plak!

__ADS_1


"Maaaaaam, aaaaaaaahh ... Dear, tolongin!"


Yang dipanggil Dear, tolah-toleh, tidak melindungi sama sekali.


"Sebelah sini belum, Bu Ratih!" dukungan dari Ajeng.


Plak, plak!


"Mam, mukul lagi, aku beneran nyium Ajeng loh!" ancamnya.


Ajeng angkat tangannya, "Nggak apa, Bu Ratih. Ajeng ya belum sikat gigi!"


Ngak jadi!


Hikam tergelak kencang mendengar kejujuran adiknya itu, kalau perlu nanti saat Ajeng menikah, dia berikan hadiah peralatan mandi dan perlengkapannya sekalian, biar adiknya rajin membersihkan diri.


Terutama mulut, karena bila Arya habis operasi tak bisa menyentuh Ajeng lebih, paling tidak berciuman, kebayang bau tidak enak.


"Mas Hikam, aku bohong kok itu!"


"Halah, bener ya nggak apa, ahahahaha ...."


***


Rian tertunduk malu di depan kedua orang tua Arya, mengakui kegilaannya bersama Ellin yang nyatanya jauh lebih berani dari bayangannya itu.


Bahkan, mereka kerap berjanji tanpa sepengetahuan Juna dan Arya, hanya untuk sekadar melepaskan hasrat yang terpendam, entah tadi mereka membayangkan siapa, bukan urusan masing-masing.


"Saya minta maaf, Te, Om ... gue minta maaf, Ya', Jeng buat semua ini, juga udah buat nama baik keluarga ini dan terutama Ajeng rusak diledek warga, gue tahu rasanya dihina jadi perebut pasangan, maafin gue ya," ujar Rian.


Ajeng mengangguk, kalau Arya izinkan pasti dia akan bersalaman dengan Rian, tapi burung kocoknya ini posesif meskipun ya wajahnya tidak cantik, Arya pasti menekuk wajahnya kalau ada pria yang merasa nyaman berbicara dengan Ajeng di luar pekerjaan biro konsul.


"Mas Rian semangat, yang penting mau saling ngerti dan nerima sama Ellin, jangan emosi, dibuat seneng aja, kalau belum suka, sabar ... Ajeng ya nggak suka sama Mas Arya ini kok, berhubung dia nyamperin terus aja, jadi kepincut, eheheheh-" menoleh pada Arya yang sontak menaikkan satu alisnya. "Lihat kan, Ajeng ngomong gini ke Mas Rian aja, udah ditekuk mukanya kayak taplak meja, eheheheeheheh, sabar Mas ... Ajeng cuman milikmu kok, yak-e-yak-e pokoknya!"


Pak Darma menoleh pada bu Tiwi dan bude Lastri, Yak-e, yak-e itu apa?

__ADS_1


__ADS_2