
Ih, jual mahal.
No way, kalau bahasanya itu.
Biarin telpon sampai jelek, sampai berubah ubanan.
Emang enak dicuekin, hem?
Sedih nggak kalau nggak dibales pesennya sama Ajeng?!
Gimana udah puas perginya, dateng dan pergi model demit!
Ajeng nggak mau angkat telpon dan bales pesen kamu!
Nggak mau, titik!
Wek, nggak mau!
Ddrrrrrrzzttttt ....
Tut,
"Apa sih kamu itu telpon-telpon, masih hidup?" dia angkat tangan.
"Lo di mana sekarang?"
Ajeng menoleh ke kanan dan kiri, jungkir ke belakang dan kembali ke depan, tidak ada makhluk dengan nama Arya di sini, jangan bercanda ya, dia sedang tegang bin serius.
"Ajeng!"
"Di-di panti, kenapa? Mau apa? Kirim minyak?"
Arya mendengus, entah panggilan keberapa dan pesan keberapa yang baru mendapatkan jawaban, dia ingin tahu di mana Ajeng sekarang.
"Nggak, kayak Ajeng ini artis aja sampe di vcall, aku juga nggak mau lihat mukanya situ, sok ganteng!" cih, emang dia ganteng nomor dua, Ganjar aja kalah. "Nggak mau, udah sana pergi aja, jangan ganggu aku, nanti pacarku marah!"
Brak!
Ajeng melompat, gebrakan Arya terdengar sampai ke telinganya.
"Terima vcall gue!"
"Nggak mau, Mas Arya, jangan sok ganteng. Ajeng nggak tertarik sama kamu!"
Terus, Arya terus meminta panggilan video pada perangkatnya, tapi tetap saja dengan semua prinsip yang ada dan ego yang sama tingginya, Ajeng enggan menerima.
__ADS_1
Dia sudah memutuskan bersama Ganjar, bahkan Hikam sudah mengatakan hal itu pada Ganjar, jangan sampai menyakiti harapan orang lain meskipun tidak terlalu suka.
"Oke, lo nantangin gue?"
"Ih, siapa yang ajak situ taruhan, nggak ada. Lagian, kamu itu kenapa mendadak muncul, hah? Udah sukses jadi apa di sana, CEO atau masuk tahanan lagi?"
"Ajeng!"
"Apa sih?" Ajeng berdiri, berulang kali pria itu menyentaknya, jiwa tarungnya juga meronta-ronta. "Kamu beneran ngajak Ajeng tawuran ya, sini kalau berani, dasar nggak tahu diuntung!"
Oke, dia berani.
Ajeng yang gelagapan sekarang, dia lantas duduk, panik sambil menoleh ke semua arah, khawatir begitu dia bertemu Ganjar, demit ini muncul dari segala arah yang tak bisa dia duga, habis dia nanti.
Eh, habis kenapa? Memangnya dia itu siapa?
"Mau kamu itu apa?"
"Makanya dengerin, Bego!" lagi, umpatan Arya memang menyubit hati. "Lo banyak omong aja, nggak mau dengerin!"
"Yaudah, Ajeng dengerin sekarang, mau kamu apa?"
Arya pijat pelipisnya, sudahlah, biar dia dikatakan bodoh juga tak masalah, dia harus sampaikan ini.
"Nggak bisa, Mas. Aku mau tunangan sama mas Ganjar, kamu nggak bisa seenaknya gitu dong, kita nggak ada kontrak lagi, kamu ya nggak berhak sewa-sewa, emangnya aku ini barang sewaan, cari cewek lain aja buat bantuin kamu, di sana apa nggak ada cewek?" menolak, tapi masih menabur harapan.
"Heh, tapi Ajeng nggak single lagi, Ajeng bentar lagi tunangan, minggu depan, udah setelah itu apa kata mas Ganjar, bukan aku. Siapa itu, katanya bu Ratih kan cantik, udah nikah san-"
"Gue maunya sama lo, denger nggak sih!"
"Mas Arya, lah Ajengnya nggak mau sama kamu, modelmu itu loh, amit-amit. Udah nikah aja sana, jangan ganggu aku, aku ya mau nikah!"
Arya masih bersikeras menolak itu, dia tidak mau Ajeng menerima Ganjar.
"Gue suka sama lo, nggak denger apa waktu itu gue bilang suka, Hah? Lo kira gue bercanda?"
Ajeng sontak cemberut, jelas dia ingat, malah ingat banget, tapi begitu minyak datang, hancur dan pupus sudah harapannya.
Ajeng diam.
"Lo denger gue kan, waktu itu gue bilang suka ke lo, artinya gue maunya sama lo, bukan sama cew-"
"Lah, kalau gitu kenapa kamu pergi ke luar negeri, nggak bilang-bilang, emangnya Ajeng ini peramal yang bisa nerawang kamu di mana, gitu? Satu kampung ini tahu kamu mau nikah, udah disebarin, namanya si Ellin, terus Ajeng mau jadi anak kambing yang berharap sama kamu, iya? Weh, jangan gila, Mas Arya!" potong Ajeng meninggikan suaranya. "Oleh-olehmu minyak, ya emang lagi butuh, tapi ya apa itu yang dibilang suka, ngasih minyak? Kamu kira ini lagi akting kiriman bantuan bencana alam apa?!"
Tut,
__ADS_1
Ajeng tak mau meneruskan lagi, seenaknya sendiri pergi, lalu kembali bilang suka, memangnya dia siapa, anak presiden saja masih Ajeng pikir ribuan kali, apalagi yang sekelas kacang seperti Arya.
Panggilan berikutnya, tidak Ajeng terima lagi, biar saja Arya bingung dengan ucapannya sendiri, orang tidak ada jelasnya menurut Ajeng.
Besok lusa, dia mau bertemi dengan Ganjar, ada ibu panti dan keluarga Hikam.
"Ajeng nggak kerasa aja udah mau kawin, hehehe ... Aku kira ya selamanya main adu ayam!"
Katakan Ganjar itu tak sempurna dan hatinya Ajeng masih bimbang, tapi melihat keteguhan Hikam, seolah menjelaskan pada Ajeng akan masa depan yang cemerlang.
***
"Bu Desi, masih punya anak kecil emang?" Ajeng menganga, dia kira cukup dua.
"Ada, cuman nggak pernah aku edarkan. Cewek, cantik, imut, manis, banyak tingkah, ahahaha, ya gitu lah, pokoknya nggak kayak buapaknya!" mendekat, penasaran dengan tunangan Ajeng besok. "Kamu udah beli baju baru belum?"
"Harus pake yang baru?" Ajeng baru sadar.
"Ya nggak gitu, cuman kan biar seger loh, masa iya ketemu calon suami dan mertua pake seragam kelurahan?!"
Lah, iya.
Sepulang dari ini, dia akan ke toko baju, kalau perlu dia akan mengajak Dewi dan kedua anaknya itu, penilaian Dewi dirasa jauh lebih bagus dari selera yang Ajeng punya.
Besok, waktunya sudah semakin mepet, sementara persiapan Ajeng bisa dikatakan masih seperempat persen.
"Kamu mau beli apa aja, Jeng?" Dewi langsung mengiyakan, ini tugasnya sebagai pendamping Ajeng.
"Gitu itu, aku harus siapin apa aja sih Mbak Dewi. Aku tanya bude Lastri sama bu Tiwi, pada lupa mau siapin apa, yang jelas sedia makanan, itu diatur sama mereka, kalau yang lain apa?"
Dewi mengangguk saja, memang pihak laki-laki yang akan membawa cincin dan sebagainya, sedang perempuan hanya menyediakan roti bingkisan untuk mereka bawa pulang dan sajian saat acara berlangsung, yang penting baju yang pantas lebih dulu, Dewi harus membantu Ajeng membelinya.
"Ini mahal kayaknya, Mbak Dewi!" maju-mundur mau masuk toko baju. "Diskonnya emang 70%, tapi harganya dua juta, kan ya sama aja!"
"Uangmu katanya banyak, Jeng. Makanya, aku ajak ke sini, terus gimana?"
"Duh, baju tiga limaan apa nggak pantes, Mbak Dewi?"
Plak!
"Mana ada yang begitu, kamu mau tunangan atau adu ayam, coba ke sana yang serba seratus!" balas Dewi sambil terkekeh.
Mereka lanjut lagi, setiap ada toko baju pasti mereka masuki, sekadar bertanya atau dari depan sudah mundur sendiri.
"Jeng, jangan duduk di mobil itu, penyok nanti, dimarahin orangnya loh!" Dewi sendiri duduk di trotoar, lelah keliling belum dapat satu pun, susah mencari yang sesuai dengan kulit Ajeng. "Jeng, duduk sini, nanti penyok ganti rugi, apes kita, uangmu malah habis, apalagi orang nggak kita kenal!"
__ADS_1
Ajeng terkekeh, "Halah, minta ganti ya aku ganti, lagian mobil ini kayak aku kenal, stikernya itu pernah li-" dia terdiam, merangkak ke atas dashboard mobil itu, melihat detail stiker yang ada di sudut kaca kemudi. "Kayak pernah lihat, di mana ya?" sambungnya bergumam.
Sementara, Dewi berusaha menarik kaki Ajeng, "Turun, kita jadi dilihatin orang!"