Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Papa Muda Posesif


__ADS_3

"Hem, talaaaah gemesnya ini loh anaknya Ajeng, namanya siapa tadi, Jeng?"


Ajeng yang baru saja menutup asupannya itu lantas tersenyum, anaknya disambut oleh banyak orang dengan suka cita, bahkan dia mendapatkan hadiah yang banyak, belum sempat dia buka satu persatu.


"Arunika Cahya Arya, udah jelas loh ini kalau mas Arya nggak mau anaknya diakui anak orang lain, papanya posesif!"


Bu Ratih tertawa mendengar penuturan sang mantu, memang sejak menikah dengan Ajeng, banyak sekali perubahan yang dia lihat dari Arya, menjadi lelaki yang sadar akan tanggung jawabnya.


Mana wajah anak itu mirip sekali dengan Arya, dari bentuk wajah sampai ke bibir, semua milik Arya, tak salah namanya tersemat nama Arya di sana, papa muda yang posesif.


"Panggilannya Arun, Oma Tiwi, Oma Lastri ... papanya minta dipanggil Arun, padahal aku pengen dipanggil Aya, ahahahah, kan gemes kayak di film-film itu kan Aya, ini tapi mas Arya pengen Arun aja, depannya A sama R, kayak dia soalnya, jadi serba maunya kayak dia, Bu Tiwi, Bude Lastri!" Ajeng pandangi wajah mungil mirip suaminya itu. "Tapi, ya aku bersyukur dia mirip sama mas Arya, lah kalau kayak aku apa nggak dikira bukan anaknya mas Arya, masa iya bapaknya putih ganteng gitu, anaknya kayak semak-semak gini!"


"Ahahahahahah, heh wong kamu ya udah berubah, aslinya itu kamu ya cantik, Jeng. Cuman, telat!" bude Lastri sampai terjungkal.


Cantik yang terlambat, sepanjang hari di rumah ini tak pernah sepi, baru sepi kalau Arya kembali, mengingat papa muda itu posesif pada istri dan anak gadis mungilnya.


Mereka punya kesempatan gosip di siang hari, menghabiskan apa saja yang dihidangkan dan sengaja Arya beli setiap pulang kerja, tak ada cuti panjang karena Arya mau anaknya punya masa depan yang bagus, dia harus bekerja keras.


"Dear, aku pulang!" Arya tersenyum, dia ganti sebutan untuk istrinya itu, bukan asal lo dan gue lagi. "Minum banyak tadi Arun-ku, Dear?" kan, belum apa-apa sudah disegel anaknya.


"Doyan dia, Mas." Ajeng bantu melepas kancing kemeja Arya, menyisakan kaos tipis sebelum akhirnya dibawa mandi. "Doyan ***** anaknya, Papa ... nggak mau bobok kalau belum nen banyak, maunya dipangku sama mainan nen, kayak kamu, Mas!" dia tarik sedikit telinga Arya.


Arya terkekeh, hidupnya jadi lebih berwarna sejak Arun hadir, mungkin pelangi yang dia punya ada dua tingkat, satu Ajeng, satu lagi Arun putrinya.

__ADS_1


Sebelum melenggang ke kamar mandi, Arya ciumi dulu wajah gemas itu, sampai ada rengekan baru dia berlari secepat kilat ke kamar mandi, kalau tidak, penebah bisa melayang kepadanya.


Ajeng sampai geleng-geleng kepala, atau mungkin memang kerjaan semua bapak di dunia begitu, sukanya ganggu anak tidur, padahal ibunya susah payah, mau buang air saja tahan nafas dalam-dalam.


"Sayang, Papa itu, nggak apa ya, kan Papa yang ciumi, kalau selain Papa nggak boleh katanya. No, nggak boleh cowok selain Papaku!" Ajeng usel-usel, senangnya punya boneka sendiri, mau minyak telon di mana-mana, bahkan minyak wangi Arya berganti aroma bayi sekarang. "Bobok lagi, nanti main sama Papa nanti aja, kalau udah Papa siap bobok, kamu gangguin, ya Run ya?"


Arya menyeringai pada Ajeng, dia peluk Ajeng dari belakang, menggigit leher karena saking gemasnya.


"Mas yang begadang!"


"Iya, suka aku emang urusan begadang, apalagi sambil nemenin Arun *****, ahahahah, suka banget, Dear!"


Ajeng tarik lagi telinga suaminya itu, masa iya dia harus membuka dua asupannya sekaligus, ya walaupun Arya hanya main-main, tak menghisapnya sungguhan, tetap saja dia seperti memberi susu pada dua bayi sekaligus.


"Mas, kamu makan sekarang ya?"


"Kamu udah?"


"Belum."


"Yaudah, kamu duluan aja, Dear. Aku temenin Arun, nanti kalau dia mau nen kan kamu udah siap!"


Ajeng mengangguk, kerja sama yang baik antar suami dan istri, dulu dia punya ketakutan bahwa Arya akan seenaknya, ternyata setelah bayi itu lahir, justru dia yang seenaknya meminta bantuan Arya ini dan itu, beruntung suaminya tak pernah marah, paling cemburu kalau perhatiannya ke Arun semua, bagi Arya itu Ajeng harus tetap mengurusnya, perhatian padanya, karena dia pasangan sampai tua nanti, tak boleh ada chemistry yang rusak hanya karena kesibukan bersama anak.

__ADS_1


"Jeng, makan ayo! Mama udah nunggu kamu ini, Papamu aja sampe nambah dua piring padahal nggak nyusuin!"


Pak Darma cekikikan, ikut lapar mendengar cerita dari istrinya soal sang cucu yang doyan *****. Rasa-rasanya semua orang di rumah ini semua suka makan akhirnya dengan alasan mendukung Ajeng.


"Arya sama anaknya?"


"Iya, Bu. Kalau dateng gini anaknya dibuat ngerengek aja, diciumi nggak mau berhenti, kalau udah nangis untungnya nggak ditinggal, ya digendong itu, telaten dia." Ajeng lahap urap-urap di depannya.


Bu Ratih menepuk dada bangga, walau Arya sempat mirip demit dulunya, tapi dalam hati anak itu sangatlah lembut dan mengerti. Bu Ratih bisa jamin tidak akan ada kecewa dalam rumah tangga Arya dan Ajeng, keduanya pandai mengimbangi, apalagi Ajeng.


***


"Dear, urapnya kok pedes, kamu jangan makan pedes loh, nanti diare sama Arunnya!"


"Nggak kok, itu Ajeng racik buat kamu, Mas. Aku makan yang biasa, nggak ada sambelnya, kasihan nanti anak aku ini!" Ajeng usel-usel lagi, dia mendongak karena ada kilatan tak terima. "Iya, anak kamu sama aku, Mas. Arun anaknya Papa Arya, aye!"


Arya menarik kedua sudut bibirnya, dia lahap lagi menu urap itu, pokoknya dia papa muda yang posesif, bukan hanya pada Ajeng, tapi pada Arun juga.


Jadi, mereka yang berkunjung pun tahu, kalau memanggil Arun harus lengkap, Arun anaknya papa Arya, pintu rumah bisa terbuka lebar.


"Kenapa, Dear?" Arya jilati jemarinya, makan tanpa sendok, nikmat.


"Arun eek, Mas. Loh ini!"

__ADS_1


Huwek!


__ADS_2