
Sebelum Arya jelaskan tentang kursi fenomenal dalam hubungan dua insan itu, mari dia eksekusi Ajeng lebih dulu, dia buat Ajeng melemah di bawah kungkungannya, menghentak lembut dan begitu tersiksa, dia harus sadar dan cukup tahan karena di dalam perut istrinya ada benih yang baru saja dia tanam, harus mendapatkan perlakuan yang lembut di sini.
"Mas, gimana mandinya?" Ajeng masih berbaring, enggan berdiri sendiri, apalagi disuruh mandi, malas sekali, dia merasa tubuhnya berat sekali.
Arya tersenyum miring, puas akhirnya mendapatkan pelepasan yang nyata, hentakan lembut memang baru untuknya, tapi enak juga dan nagih, dia tak yakin bisa bertahan lama jauh dari Ajeng.
Oh, ingatkan Arya nanti setelah melahirkan harus menahan sampai empat puluh hari, entha bagaimana keadaannya nanti.
"Gue gendong, Dear ... gue bisa bantuin lo mandi sampe pake baju, jangan remehin suami lo yang ganteng dan hot ini, yuk Sayangku!" Arya buat tubuh Ajeng melayang. "Berat ya, Dear?"
Bukan marah, Ajeng justru mengangguk, dia eratkan pegangannya pada leher Arya sembari bersandar di sana, menciumi aroma wangi sang suami yang candu, selalu membantu Ajeng tidur dengan nyenyak.
"Mas, anaknya loh masih kecil, masa iya beratnya bisa nambah banyak, apa anak kamu banyak? Jangan-jangan aku langsung hamil banyak, Mas!"
__ADS_1
Arya terbelalak, tapi dia langsung membusungkan dada setelah menurunkan Ajeng di bath up.
"Gue malah seneng kalau banyak, satu kampung bisa tahu gimana kualitas benih super si burung kocok, apalagi mereka yang dulu remehin gue, fiuh ... bisa malu mereka!" Arya terus membusungkan dada, sampai Ajeng tarik tangannya agar ikut duduk. "Dear, kalau lo ngajak duduk begini, yang ada gue pengen!"
"Hush, Mas jangan kayak gitu, nggak baik banyak-banyak, anaknya nanti kesel!"
Arya tergelak kencang, dia peluk Ajeng sebentar sebelum akhirnya membantu Ajeng membersihkan tubuh sampai Ajeng berbaring kembali di kasur, memakai pakaian lengkap dan sudah wangi.
Seharian di rumah pasti membosankan, Arya ajak istrinya itu ke luar untuk mencari angin, tidak mengajak Ajeng jalan jauh atau melakukan hal berat, hanya berputar di jalanan untuk mencerahkan pemikiran Ajeng, ibu hamil itu bisa duduk santai di mobil.
Arya mengangguk, dia putar kemudinya sampai ke depan pedagang itu, lalu melepas safety belt nya, dia yang turun sesuai perjanjian.
Mata Ajeng mengawasi Arya dari jauh, saat memesan pun Arya sempatkan menoleh pada Ajeng seolah meminta persetujuan.
__ADS_1
"Udah lama Kang mangkal di sini?"
"Lama, Mas. Saya tahu Masnya yang biasa di rumah itu kan, tapi Mas nya nggak tahu saya. Bu Leli apa kabar, Mas? Terus itu siapa?"
Sial, dia malah bertemu mantan saksi mata kenakalannya, walau Ajeng tak akan marah dan biasa saja karena dia sudah berubah, tetap saja dia anggap kesialan, siapa tahu jiwa sensitif Ajeng muncul di sini, bisa payah dia.
Arya segera kembali ke mobil, dia genggam tangan Ajeng, mengambil hati sebelum Ajeng bertanya curiga, mobil itu sangat dekat dan sebagian kaca mobil Ajeng turunkan, bisa jadi Ajeng dengar.
"Mas."
"Ya, Dear?" was-was, dipastikan dia mau kencing di celana, baru buka, jangan sampai tidur terpisah lagi.
"Anu-"
__ADS_1
"Dear, lo harus percaya ke gue!"
Percaya apa?