
"Ngapain lo ngejauh gitu?" dia tarik mukenah Ajeng, tidak mau si ceweknya ini tadi duduk jauh hingga banyak yang melihat.
Melihat ke arah Arya maksudnya, bukan ke Ajeng. Tapi, Ajeng tetap bergeser, tak mau Arya ada di dekatnya, mereka sedang mengaji dan mengkaji malam ini, kebetulan ada waktu lebih bersama imam masjid selepas tarawih.
Usai kajian itu selesai, Arya berlari ke depan, kedua alisnya menukik tajam, dia hentikan gadis yang sudah membuat dunianya jumpalitan itu.
"Kamu ini kenapa sih, Mas Arya?" Ajeng mengesah pelan, mau masuk mobil ya dihalangi. "Kenapa, ada apa?"
"Lo ngejauhin gue, kenapa? Gue salah apa, hah? Nggak ada biduan yang gue godain, gue juga nggak lirik cewek yang ikut ngaji, gue cuman lihat lo!"
"Justru itu, telingamu itu apa nggak denger waktu pak imam bilang tadi, hem?"
"Denger apa?" Arya masih berdiri di dekat pintunya, menghalangi Ajeng yang endak masuk, bibirnya mencebik, protes Ajeng berjauhan tadi.
Ajeng raup wajahnya, "Gini ini kalau waktu ceramah, malah ngantuk. Dengerin Ajeng ya, Mas Arya ... tadi pak imam bilang kalau percuma puasa kalau pacaran, itu nggak boleh, jadi aku nggak mau pacaran sama kamu, udah Ajeng bukan cewek kamu, pahalanya berkurang loh!"
Arya lantas tersenyum lebar, ide bagus agar dia dan Ajeng bisa menikah cepat, kalau menikah tentu tak akan mengurangi pahala apapun, yang ada menambah pahala.
"Mas Arya-"
"Kita nikah minggu ini, gimana?" belum Ajeng jawab, sudah bersuara lagi. "Deal?"
"Loh, kamu-"
"Pokoknya kita nikah, gue bakal nikahin lo, jadi nggak ada dosa lagi, pahala nambah tiap gue deketan sama lihatin lo, harus jadi!" Arya buka pintu mobilnya. "Masuk, kita bisa ngomong masalah ini ke mam dan pap, tapi ke bu Tiwi dulu!"
Ajeng tak bisa menjawab, si burung kocok ini tidak main-main dengan apa yang dia katakan, benar-benar mengajak dirinya menikah dengan alasan apapun.
Bahkan, malam ini Arya meminta Hikam menjelaskan semuanya, membuka siapa dia sebenarnya hingga Ajeng tak menolak dengan alasan nasab yang tak jelas.
Di tengah ruang tamu panti, sambil menguap kedua orang tua Arya datang ke sini, mereka tak bisa menolak permintaan Arya yang terdengar begitu bersemangat.
Sedangkan, Ajeng bingung kenapa harus ada Hikam dan Dewi di sini, bila harus mengurus pernikahannya, maka cukup bu Tiwi sebagai ibu asuh Ajeng yang sah.
"Ini ngomongin masalah apa sih, Bu Tiwi?" Ajeng menoleh ke semua orang.
"Jeng, kamu jawab yang jujur, kalau Nak Arya mau kamu nikah sama dia, apa kamu setuju?" balas bu Tiwi menatap serius.
Ajeng lantas menoleh pada Arya, demitnya ini tidak sabaran, dia tidak bermaksud meminta dinikahi karena ceramah itu, dia hanya mau menjaga jarak sampai benar siapa jodohnya.
Tapi, semua orang berkumpul.
"Jadi, begitu Bu Tiwi, kan Ibu ya tahu kalau aku masih belum bisa nikah karena bimbang, aku nggak mau kalau sampe orang tuanya Mas Arya malu, tahu omongan orang kampung soal aku itu gimana, ya kan .... Ajeng pikir sih lebih baik kalau mereka rundingan lagi, jangan sampe Mas Arya yang udah dirasa baik, malah rusak sama Ajeng!"
Hikam menggeser duduknya, "Kamu nggak bakal buat malu mereka kok, Jeng. Ada Mas dan Mbak Dewi buat kamu!"
"Lah, dari dulu ya ada kalian, tapi bukan soal itu, Ajeng nggak mau bakal ada Ajeng kedua di panti ini meskipun Mas Arya udah serius, bisa aja habis nikah, Mas Arya jadi benci terus malu-"
__ADS_1
"Kan, lo suka negatif mulu ke gue, gue bilang serius ya serius!" potong Arya.
"Aryaaaa, tunggu dong!" pinta bu Ratih.
Ajeng tunjuk Arya, "Kamu bilang serius-serius, tapi kamu tuh nggak tahu problema orang nikah, habis manis sepah dibuang, Ajeng nggak mau ada gitu, kan ya lebih baik Ajeng jadi perawan tua daripada sengsara, Mas Arya!" sesengukan Ajeng mengungkapkan ketakutannya. "Ajeng itu takut, dulu orang tuanya Ajeng ninggalin Ajeng di sini, kalau itu keulang lagi, ya kalau Ajeng kuat, kalau nggak ... bukannya Ajeng nggak mau nikah, itu kayak setan buat Ajeng, sulit loh Ajeng ini percaya sama cowok, yang mirip sama Mas Hikam aja bikin sakit hati, apalagi yang model demit kayak kamu!"
Loh, demit lagi, Arya endak berpindah posisi duduk, tapi dengan cepat pak Darma dan bu Ratih menghalanginya.
Biar, biar saja Ajeng melepaskan ketakutan yang dia simpan rapat di dalam hatinya itu, selama ini Ajeng simpan dan dilampiaskan pada adu ayam, menganggap kalau dunia ini baik sebaik pandangannya.
Kedua bahu Ajeng bergetar, dia ambil sapu tangan Arya yang ada di dekat tasnya, wadah ingus.
"Mbak Dewi, mbok ya bilang ke Mas Hikam buat bikin kembaran," ujarnya. "Siapa tahu mau sama aku!"
Arya mendengus, dia lantas berdiri, memilih ke luar.
"Yaaa'!" bu Ratih endak mengejar, tapi pak Darma menahannya, dia tahu Arya hanya mencari angin di teras.
Hikam tekan bahu Ajeng, membuat gadis itu mendongak dan melihat ke arahnya.
"Kamu itu ngomong apa, nggak jelas, kalau cuman mau ngomong takut ditinggal Arya kayak ditinggal bapak sama ibumu, kenapa mbulet kayak ulet, hem?"
"Mas Hikam, tapi-"
"Oke, mereka yang ninggal kamu itu salah, mereka punya alasan, sekalipun alasan itu salah. Tapi, kamu masih punya Mas di sini, anaknya bu Serena!"
Serena? Ajeng baru kali ini mendengar Hikam mau menyebut nama fenomenalnya itu, terlebih lagi ada embel-embel Ibu.
Berkas yang ada di tangan Dewi akhirnya dibuka di depan Ajeng, inginnya akan Hikam katakan beberapa hari lagi, tapi melihat perdebatan Arya dan Ajeng, rasanya tak mungkin kalau harus dia tunda lagi.
Bukankah lebih baik kalau mereka bersama dalam hubungan yang sah, Ajeng tidak akan seperti anak ayam yang kehilangan induknya, ada sosok kuat di dekatnya yang bisa berkata itu benar dan salah.
"Mereka orang tuanya Ajeng?" Ajeng raba dua wajah di foto itu. "Terus, kenapa kok Mas Hikam punya foto mereka, apa jangan-jangan Mas kenal terus mereka mau jodohin kita?"
"Hush, jelas Mas kenal, kamu lihat yang bapak ini, kan sama mukanya sama orang tuanya Mas, kita itu satu bapak beda ibu!" Hikam keraskan suaranya, dia takup wajah Ajeng. "Kamu itu adeknya Mas, Jeng. Adek yang Mas cari susah payah, baru Mas temuin di sini, cowok yang jadi idaman kamu itu ya Mas mu sendiri!"
Ajeng menoleh ke semua orang, mereka mengangguk, termasuk bu Tiwi yang sudah berderai air mata.
"Mas-Mas Hik-hikam itu anu-... Looohhhh, gimana ini?" Ajeng turunkan tangan Hikam dari wajahnya, dia lantas berdiri dan berlari panik ke luar menyusul Arya.
Ajeng tarik tangan Arya, memutar pria itu hingga mau kembali, tapi Arya menolak selama Ajeng masih terus merendahkan dirinya sendiri.
Tak masalah kalau Arya yang dihina dan dimaki, tapi kalau Ajeng sudah mulai rendah diri dan merasa tak pantas karena masa lalu itu, Arya tidak suka, baginya semua manusia ini sama.
"Apaan sih!" tolak Arya, benci dia melihat wajah Ajeng basah begitu, dia palingkan wajahnya.
Orang-orang yang di dalam pada berlari ke luar, menyusul dua orang itu, berusaha melerai kalau misal ada pertengkaran.
__ADS_1
Burung vs ayam jago!
"Sana deh sama Hikam kalau lo nangis gitu, males gue!" Arya lepaskan tangan Ajeng dari lengannya, dia tidak mau melihat Ajeng sama sekali.
Ajeng hapus bekas air matanya, dia kejar ke mana saja bola mata Arya yang menghindarinya, sampai berjinjit agar Arya mau melihatnya.
"Apa sih?!" Arya tatap tajam Ajeng.
Bibir Ajeng menarik senyuman, "Ajeng loh cuman mau tanya sama kamu, Mas Arya!"
"Tanya apaan?" masih ketus nadanya.
Ajeng goyangkan tangan Arya, dia malu, tapi kalau asal saja, nanti demitnya marah.
"Apaan?!"
"Aj-Ajeng boleh meluk Mas Hikam nggak, Mas Arya?"
Deg, deg, duar!
Arya mendelik, "Nggak, gila apa lo, nggak ada!"
Hikam bergeleng, "Kan, dia adek gue, boleh lah kalau pelukan!"
Tangan yang tadi Arya tepis, kini Arya putar dan bawa Ajeng ke balik punggungnya.
"Nggak ada, peluk tuh si Dewi, jangan Ajeng gue dong!"
Eh, Ajeng gue?
Ajeng semakin girang di belakang punggung Arya, apalagi tangannya digenggam Arya begitu, serasa jadi tuan putri. aahhaahahha.
"Mas Hikam, nanti aja kalau Mas Arya udah pulang, kan aku boleh di rumahnya Mas Hikam sama Mbak Dewi, ehehehehe, aku adeknya, satu kampung bisa gempa ini, ahahahah ... nanti aku pel-" mulutnya dibekap tangan Arya.
Arya menoleh pada kedua orang tuanya, "Mama sama Papa balik duluan, Arya mau tidur di sini, biar dia nggak kabur!"
"Aaaaaah, Mas Aryaaaa nggak boleh cemburu gitu loh sama Ajeng!" Ajeng meliuk-liuk seperti cacing kepanasan. "Mas-"
"Hush, gue di sini, nggak perlu meluk Hikam!" potong Arya tanpa penolakan.
***
Obrolan bu Tiwi dan bude Lastri.
"Tri, ada apa?"
"Aku kok pengen ngarungi Ajeng, Bu Tiwi!"
__ADS_1
"Lah, kenapa dikarungi?"
"Lah model cacing gitu ke mas Arya, kayak lagi direbutin pangeran loh, nggak rela Ajeng berubah jadi ratu, Bu Tiwi!" ke luar bawa karung.