Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Tambah Manja


__ADS_3

"Kan, molor jadinya, ini untung pesawatnya nyewa sendiri, kalau yang naik bayar itu nggak mungkin ditungguin, Mas!"


Arya terkekeh, habisnya dia tidak bisa kalau mandi pagi sekadar mandi biasa, maunya mandi bersama Ajeng lagi dan lagi, dia mau benihnya yang selama ini terbuang sia-sia membuktikan diri dan menunjuk siapa yang paling unggul.


Beberapa koper sudah dibawa ke mobil, tinggal satu tas ransel yang Ajeng bawa, berisi banyak makanan yang nanti mau dia lahap selama perjalanan.


Badannya lemas karena si burung kocok itu minta buka dan masuk kandang terus, tidak tahu kalau dia punya tempat yang kapasitasnya minim.


Rahimnya dibuat penuh, semua benih Arya sejak semalam sampai pagi, tidak kenal lelah, kalau bisa mau Ajeng lepas dan biar menempel pada Arya terus, main sendiri.


Eh, kan katanya tidak boleh main sendiri, Ajeng tepuk keningnya.


"Dear, udah ganteng belum?"


"Lah, kalau kamu ganteng emangnya mau narik matanya siapa?" Ajeng mencibir halus.


"Mata istri gue lah, semaleman sampe pagi dilihatin dia, takut kegantengan gue yang hakiki ini hilang ketelan sama dia yang sukanya mendesaaaah nggak karuan, ah uh ahhhh uuhhh, mas Aryaaaaa cepet Massss-"


Pluk!


Ajeng bungkam mulut Arya dengan buntalan kapas bekas pembersih wajah, gini loh kalau punya suami yang kelewat pintar masalah buka tutup segel.


Arya paksa kedua tangan mereka bergandengan, tidak mau berpamitan dengan Juna dan Rian, tidak mau mereka menikmati wajah Ajeng yang paripurna.


"Lo makin berisi gue tinggal kerja, seksi, mantep!"


"Hush, kamu ini loh mbok ngomong yang lain, kasihan pak supirnya duda!"


Arya tidak peduli, dia justru membuka penutup leher Ajeng agar semua orang tahu bagaimana dia membuat leher Ajeng yang sawo matang itu banyak luka memarnya, maha karya dia tentunya. Tak lupa disela waktu yang ada Arya cium bekas memar itu dan kembali menggoda sang istri.


Dia terlalu bahagia karena si burung kocok bisa menyemburkan cairan yang semestinya, tidak takut anak orang minta tanggung jawab padanya, cukup Ajeng yang nanti mual karena reaksi tumbuh kembang benih burung kocok di dalam perut yang masih mengulat tumpuk dua itu.


"Maaaaass, makan ini, jangan nyium terus, gatal aku!"


"Gatal mau gue garukin, nggak?"


Plak!


Ajeng melotot sempurna, kalau begini caranya dia bisa mengalahkan jalan tol, suaminya tidak bisa diredam sama sekali, membuat dia gatal sendiri dan mau digaruk, eh.


Sekarang mereka sudah ada di pesawat pribadi sewaan pak Darma, tak terbayangkan sekaya apa mertua Ajeng ini, kalau saja Arya dulu tidak nakal, mungkin semua ini sudah menjadi milik Arya, karena dia nakal, banyak yang dijual dan mereka memulai dari awal.


Jabatan menjadi pak Kades hanya sampingan biasa, mengisi waktu bila mereka ada di tanah air, tapi ternyata bukan rejeki, harus turun tahta karena Arya ke luar masuk tahanan.


"Lo yakin nggak mau tiduran di dada gue?"


"Iya, Ajeng kan bawa bantal ini, lagian nanti kamu sesak nafas loh. Udah tenang, yang penting sama-sama dalam satu pesawat!"

__ADS_1


Arya manyun, dia mau istrinya itu menempel padanya, ditariklah tangan Ajeng, dia tidak malu sama sekali, kalau bisa malah dia mau bercinta di sini, membuat anak di pesawat biar jadi kenang-kenangan.


Big no!


Ajeng menolak terang-terangan, ini hanya pesawat sewaan pak Darma, bisa merusak nama baik pak Darma hanya karena napsu bejat suaminya itu.


"Ajeng janji di rumah, nggak usah di sini, nggak enak, Ajeng nggak bisa gaya-gaya!"


"Tapi, pengeeeenn...."


"Nanti di rumah, nyampe langsung satset, masuk kamar, mandi bareng, udah terserah kamu mau apa, gitu sambil makan ya nggak apa, makannya dibawa ke kamar!"


"Aseeeeeekk, lo janji ke gue loh, Dear. Awas ngibul!"


Terpaksa, kalau tidak dijanjikan begitu, yang ada Ajeng harus menuruti aksi gila suaminya di pesawat ini.


Sepanjang perjalanan keduanya tampak sangat dekat, Arya tak mau Ajeng jauh, dia rasanya cemburu pada kursi di pesawat yang seenaknya bisa Ajeng duduki, menikmati bokong hangat sang istri.


"Nggooooookk!"


Arya cubit pipi Ajeng, dia gemas kalau Ajeng mulai mendengkur, kalau bisa dia cium dan bungkam agar suaranya tak terdengar ke mana-mana.


"Oke, lo bisa tidur di sini, di rumah nggak akan ada waktu tidur, kita buat anak terus, berhenti cuman kalau gue kerja, tapi kalau lo ikut kerja, gue mau di kantor begituan, ahahahahah... libur lama demi lo, Dear, love you!" Arya cium-cium.


Cinta memang buta, Arya yang punya wajah tampan dan kulit putih begitu bisa terpikat pada si ayam jago berkulit sawo matang, itu karena dia tidak keluar rumah lama, kalau dulu gelap.


Di sekitarnya banyak gadis cantik, tapi dia maunya Ajeng, selain bisa membuat dia diam di rumah, Ajeng selalu mau mengambil sisi bawahnya, tidak sungkan untuk merendah mengambil hati Arya, jarang ada wanita yang mau, gengsi mereka akan tinggi, terlebih lagi tahu keluarga Arya kaya, bisa meminta ini dan itu, lain dengan Ajeng, diberi ayam saja diam.


"Eheheheh, dia mau main pucuknya aja kok, kalau dibuka katanya nggak boleh, jadi cuman main dikit."


"Ya, tapi geli. Aku mau tidur, jadi kebangun!"


"Emuah, marah makin gemesin, iya tangan gue tarik, Dear... tidur lagi sini, gue peluk!" dia dekap sekali lagi, perjalanan masih lama, sementara Arya tak sabar mau menerkam istrinya, kalau ada hotel terdekat di landasan akhir nanti, dia mau menginap dan melepas benihnya.


Dia mau nggak ya?


Arya dekap lagi, takut Ajeng marah, kalau marah tentu tidak akan mendapatkan apapun.


"Gue sayang sama lo, Dear. Awas genit ke orang, ke ayam aja gue cemburu, cemburu tingkat langit!" gumam Arya bucin.


Ajeng tak menjawab, dia tidak benar-benar tidur, tapi kalau dia membuka mata, bisa saja dia khilaf menuruti kemauan suaminya, lebih baik pura-pura pingsan.


Sesampainya di tempat tujuan, lagi-lagi Ajeng membujuk Arya agar pulang saja, ada hotel di sana dan Arya mampu menyewanya, tapi sekai lagi Ajeng yakinkan kalau di rumah tak akan ada yang berani mengganggu.


"Nanti, kalau ada papa mama, terus nggak bisa, nunggu malem, udah ngantuk, kalau ada kerabat juga-"


"Maaass, udah Ajeng bilang ke bu Ratih, nggak ada orang di rumah, bebas kamu mau apa, mereka lagi ada pertemuan di luar desa. Percaya sama aku, Mas!"

__ADS_1


"Beneran ya, kalau lo bohong, besok gue nggak mau kerja!"


Ajeng mengangguk, benar saja dia sudah menahan malu pada kedua mertuanya, beruntung memang ada acara, jadi di rumah sepi, dia dan Arya bebas melakukan apa saja.


"Dear, jangan cepet-cepet jalannya, mau barengan!"


Hiliih, tahu begini Ajeng minta dokter itu tidak mengambil tindakan pada Arya, setelah di operasi tambah manja.


"Yawis sini, katanya mau begitu, cepetan!"


Arya tertawa girang, ini semua karena dia terlalu senang, dulu dia kira tak akan pernah melepas ikatan di pusaka burung kocok itu, nyatanya dia menemukan sarang dan melepas semua itu, merasa menjadi lelaki sejati saja pada akhirnya.


"Gue sayang sama lo, sayang banget!"


"Iya, Ajeng tahu, Ajeng ya sayang... udah, jangan ngambek lagi!"


***


Rambut basah dan bangun siang seakan menjadi ritual yang tak pernah usai, bu Ratih dan pak Darma harus rela menantunya dibekap di dalam kamar setiap kali Arya pulang bekerja, kalau akhir pekan bisa lebih parah, keluar sore hari dan itu pun diajak Arya jalan-jalan mencari tempat sepi berdua, mengalahkan anak muda yang pacaran saja.


"Bu, masak apa ini?"


"Opor, kamu mau?"


Ajeng mengangguk, dia merasa tidak enak karena sejak suaminya kembali, dia jarang membantu ibu mertuanya memasak, Arya malah membawakan makanan ke kamar, mengunci dirinya tanpa kenal ampun.


Satu mangkok nasi dan opor, kalau ada lontong mungkin lebih enak, tapi siapa yang mau membuatnya, orang sudah pada lelah.


Ajeng nikmati sembari berbincang dengan bu Ratih, suaminya masih di belakang membantu pak Darma berbenah, lagipula sore ini akan ada tamu yang meramaikan rumah mereka, Arya tak akan bisa mengunci Ajeng di kamar.


"Kamu makan yang banyak, Arya pasti udah seenaknya, dia nggak kasar kan sama kamu, Jeng?"


Ajeng menggelengkan kepalanya, membuat bu Ratih bisa bernafas lega, takut menantunya disiksa oleh sang anak yang brutal dalam urusan ranjang.


Satu porsi opor ayam habis, mereka berniat makan lagi sebelum tamu datang dan tak akan ada kesempatan makan seenaknya begini, pasti menjaga kesopanan dan lebih mengutamakan jamuan.


"Dear, makan apa?"


"Opor, ibu masak opor, kamu mau?"


Arya mengangguk, dia cium Ajeng singkat demi merasai opor itu lezat atau tidak, anggap saja ini cara Arya mencicipi masakan ibunya.


"Enak, ambilin yang banyak!"


"Tapi, habis itu Mas keluar loh ya, kan pada dateng itu, mau ngobrol sama kamu juga!"


Arya mengangguk, dia berjanji, tadi pak Darma sudah memberinya mandat dan tugas, dia tak boleh lengah karena ini juga menyangkut usaha mereka berdua.

__ADS_1


Sejenak Ajeng temani, sampai Arya selesai makan, barulah Ajeng melangkah ke luar, banyak yang sudah menunggunya.


Duuhh, kepalaku kok pusing banget ini, mbok nanti aja pusingnya!


__ADS_2