
Satu minggu lagi, tak lama setelah moment lebaran itu terlewati, Arya akan pergi ke luar negeri selama satu bulan lamanya, dalam waktu itu dia berharap bisa kembali ke tanah air dalam kondisi yang benar-benar pulih.
Tidak sabar rasanya tidur di dekat istri dan apapun yang dia mau selalu menjadi nomor satu, sekalipun Ajeng bekerja, tidak pernah ada istilah lelah dan malas mengajak Arya bercengkrama, selalu saja ada hal baru yang Ajeng bahas.
"Mas, udah jam berapa ini, kok kamu tidur aja sih, katanya mau ngajak aku ngabuburit, jadi nggak?" Ajeng sentil ringan kening Arya.
Bukannya bangun, Arya justru menarik tangan Ajeng sampai jatuh terjerembah ke sampingnya, memutar Ajeng dan dia peluk dari belakang, mengusel di punggung setengah wangi itu.
"Kamu nggak niat bangun apa?"
"Niat, Dear. Bangun tadi waktu sholat, ini balik tidur lagi."
"Ya, nggak bagus itu kan udah ashar, jangan tidur habis ashar, nggak baik. Ayo, bangun, katanya mau ajak aku ngabuburit, satu minggu lagi nggak ada ngabuburit sama aku loh, hayo!"
Arya eratkan pelukannya, walau tak wangi pun tidak masalah, yang penting itu Ajeng, sudah menjadi kebiasaan kalau libur akan selalu ribut di dapur bersama bu Ratih atau ke belakang sama pak Darma urus ayam dan telurnya.
"Mas, ayo kok!"
"Lo nggak mau lamaan banget kalau gue peluk, kan mau deketan gue!"
"Deketan ya nanti, kalau Ajeng kesetrum terus pengen kan ya bahaya, malah kena denda, nanti mau deketan habis buka ya nuempel model perangko ya boleh, sekarang tahan dulu!" balas Ajeng, perlahan dia buka lingkaran tangan Arya.
Sekali dibujuk saja masalah buka puasa dengan hal yang intim, dijamin Arya akan luluh, satu kartu itu sudah Ajeng pegang dan sering dia tawarkan meskipun pada akhirnya dia harus tarawih dengan rambut yang basah.
Demit demitnya biar semangat.
"Mam, masak apa?"
"Eh, udah bangun kamu, puasa kok tiduran aja kalau libur, anak kecil ya bisa, Ya'!" sambutan ibu lebih mengerikan dari istri. "Masak gurami asam manis sama Ajeng tadi, kalian mau nyari takjil kan, Mama pesen kayak biasanya ya, kalau habis tarawih nggak makan itu, nggak enak, Ya'!"
Arya mengangguk, dia lantas duduk sembari menunggu istrinya bersiap, bangun tidur hanya dengan membasuh wajah saja masih terlihat tampan, giliran Ajeng mau pakai bedak kiloan juga tetap di bawah standart.
Suara derap langkah terburu-buru Ajeng sontak menarik perhatian Arya, dia lantas berdiri dan menajamkan matanya, menunjuk kaki Ajeng, sebelum akhirnya menangkap tubuh lincah itu.
"Dear, jangan larian gitu, licin!"
"Eheheheheh, iya Mas. Lah, aku takut loh kamu mendadak udah siap, aku masih ribet aja."
"Kan, udah siap juga gue nunggu lo, nggak mungkin jalan duluan, udah jangan larian, jatuh malah pusing aku nanti!"
Ajeng manggut-manggut, dia usap dada Arya lembut berulang kali, lalu menempel sejenak sampai tangan Arya mengusap lembut kepalanya.
__ADS_1
Bu Ratih gemetar melihat perhatian Arya pada Ajeng, melunak kalau Ajeng sudah menempel begitu.
Pertanyaan di kepalanya cuman satu Kok bisa?
Ajeng jentikkan jemarinya ke dada itu, menggelitik sampai Arya tertawa, baru mereka berjalan ke luar endak mencari jajanan takjil.
"Mas, sandalku mana?"
"Di sana coba, Dear. Nggak mungkin hilang kalau di sini, coba lo lihat!"
Dari kanan ke kiri, baru ketemu di bawah kursi teras, entah siapa yang menendang sandalnya ke sana, kalau sampai dipakai orang lain, bisa cemberut itu demitnya, hanya kakinya dan Arya saja yang bisa.
"Naik motor aja kan ya?"
"Iya, nggak panas kok, terus lo bisa pegangan, ahahahah."
"Hem, maunya ditempelin gitu, biar tahu ukurannya, ya kan?"
"Ahahahahah, makin gede makin uwow!"
"Hush, kamu ini!" Ajeng cubit lengan Arya, memang kalau bicara seenak kepalanya begitu, tapi hanya bersama Ajeng, tidak diumbar seperti jaman dulu. "Ajeng dibelikan baju baru nggak, Mas?"
Yes, dompet di tangan, ahahahahah.
"Makasi loh, Mas Arya. Duh, emang kamu itu buaik kalau sama istrinya, Ajeng doain rejekinya lancar, sehat, jadi anak sholeh-"
"Kok anak sholeh, kan suaminya lo, gimana sih?!" Arya tepuk lutut Ajeng, yang diboncengan meringis tidak karuan.
Suka lupa dengan statusnya itu, seingatnya kalau Arya ini ya teman bertengkar sama konsul saja, suami masih sangat canggung dia bahas meskipun sudah tidur bersama berulang kali, sampai dia sakit.
"Mas, kok nggak diaamiinin sih kamu ini!"
"Aamiin Ya Allah, Dear, makasi ya ... sama gue terus ya, Dear, jangan kabur ya meskipun gue tahu nggak akan pernah sempurna buat lo!"
Ajeng rapatkan pegangannya, biar saja yang di depan senang, dapat senggolan empuk, sebentar lagi menjelang buka, bakal dia beri lebih.
"Dear, belok nih ke hotel!"
Plak!
"Wong ada rumah kok ya di hotel, mbok jangan kayak orang nggak punya rumah, Mas!"
__ADS_1
"Ahahahahahaah ...."
***
Malam-malam di kandang ayam, menunggu beberapa ayamnya bertelur, ini perdana di kandang sendiri, Ajeng sampai memasang senter di kepalanya, tidak cukup satu, dua pasang dua sekaligus.
Sementara Arya dan pak Darma berbenah di depan, menata tempat untuk menyimpan telur yang aman, jauh dari jangkauan tikus dan sebagainya.
"Looohhhh, kasihan loh sampe merah gitu bokongnya, Mas Arya!"
Arya menoleh ke dalam, padahal juga sering adu ayam, tapi masih saja heboh.
"Udah belum kamu, mau dibantu apa nggak?"
"Heh, jangan ditawarin gitu, dia bukan manusia kali, bisa sendiri, jangan diganggu!" Arya tarik tangan Ajeng, sekalinya mendekat, dia cium pipi coklat singkat. "Lo nggak pernah lihat?"
"Ya tahu-tahu udah ada telur rebus aja, Mas Arya. Nggak beranak model gini, kalau tahu loh, nggak bakal aku suruh bertelur dia, tapi kan gimana nggak ke luar telur kalau nggak gitu. Sampe merah loh bokongnya, Mas!"
"Selama ini ngapain aja sama ayam di panti?" Arya sentil kening Ajeng.
"Lah, ayam Ajeng kan jago, cowok semua, buat diadu," jawabnya.
Arya melotot. "Jadi, yang lo peluk terus cium itu ayam jago cowok?"
"Emang ada ayam jago cewek, yang bener dong, Mas!"
Pak Darma tarik telinga Arya, kok juga tertular virus lemotnya Ajeng, sudah jelas ayam jago, jelas jantan, bukan betina.
"Dear, dijewer Papa!" adunya.
"Loh, kok ya cuman yang kanan, yang kiri juga, Pak!"
"Dear!" protesnya semakin gemas, mau menarik Ajeng ke kamar saja kalau ayam itu sudah bertelur semua.
Namun sayang sekali, Ajeng harus sibuk malam ini, sepulang tarawih dan panti, dia harua membantu ayah mertuanya.
Mau Arya mengomel pun, dia tetap setia.
"Mas, kalau ngambek gitu nggak ganteng lagi loh, malam ini aja buat ayam, besok udah sama kamu lagi, jagain telurmu!"
Heh!
__ADS_1