
Bu Ratih mencoba menenangkan menantu tunggalnya itu, emosi wanita memang akan sangat menguap kala membahas perselingkuhan.
Sementara Arya bersama pak Darma menunggu was-was pengakuan teman sialan di kantornya itu, pria itu akan datang ke rumah, menjelaskan pada Ajeng akan niatan akal bulus perusak rumah tangga orang.
Gara-gara ide konyolnya itu, malam ini hampir saja burung kocoknya bertarung kuat-kuatan dengan gunting kebun.
"Nah, ini orangnya, Dear!" Arya berseru, wajahnya memerah dan ingin memukul Roy bila tak ingat akan Arun.
Ajeng berdiri sambil menggendong Arun yang tengah rewel, seolah ikut merasakan kegundahan sang ibu, matanya yang tak pernah basah karena air mata, kini berjejak dan itu membuat Arya merasa gagal menjadi suami, padahal istrinya selalu patuh, dalam hal apapun sampai pada ranjang, Ajeng selalu menurut.
"Dear, ini Roy, dia bakal ngaku ke kamu!"
Arya dorong Roy mendekat, kalau bisa ingin dia injak-injak, dia geram karena telah menitihkan air mata sang istri.
__ADS_1
Ajeng memberikan Arun pada bu Ratih, belum. mau anaknya disentuh Arya, masih perang dingin.
"Kamu ke sini mau ngaku karena dipaksa Mas Arya buat ngaku atau emang ini ide gila kamu?" Ajeng tak mau basa-basi sekalipun dia tipe orang yang suka begitu.
Roy mengangguk. "Ide gila, Mbak. Saya dan Arya udah lama kenal, biasa kalau kerja suka iseng, kemarin ada info dari istri saya hamil, kebetulan Arya lagi bahas pengen punya anak, jadi iseng aja saya kasih ke dia diam-diam, eh tahunya dia nggak periksa, sampe Mbak yang nemu. Tapi, sumpah itu punya istri saya, pengen kerjain si Arya aja," jelasnya.
Entah kenapa mendengarnya membuat Ajeng menangis lagi, dia berlari ke kamar meninggalkan Arun dan yang lain.
Untuk sementara memang harusnya Ajeng dibiarkan sendiri, walau berat dan mulut gatal mengajak Ajeng berbicara, Arya tahan sembari menemani Arun bermain.
"Dear, aku boleh masuk?"
"Iya," jawab Ajeng malu-malu, bagaimana tidak, tadi dia mau memotong burung kocok favoritnya dengan gunting kebun, dia bisa menyesal seumur hidup.
__ADS_1
Arya baringkan putrinya, dia biarkan juga sang istri membuka warung di depan matanya, dia pun bergulir ke belakang Ajeng, memeluk istri tersayangnya itu.
"Maafin aku ya, Dear." Arya berbisik.
Ajeng mengangguk, dia hampir menangis lagi malah, takut gunting kebun melayang sendiri, bisa dia ajak main gulat seribu jurus kalau sampai melukai burung kocok ukuran besarnya.
"Mulai aku nikah sama kamu, semua cuman buat kamu, Dear. Nggak ada yang namanya mau lirik cewek selain kamu, mau model apa aja, aku lebih milih kamu, apalagi udah ada Arun, yang ada sepanjang hari aku kerja, inget kalian terus, bisa nggak kamu rawat Arun yang mulai aktif sendirian, takut kamu capek, bener-bener nggak ada lubang atau celah buat orang ketiga, kalaupun ada ya itu Arun dan calon adik-adiknya, Dear." Arya kecup-kecup tengkuk Ajeng. "Huummm ... nggak ada yang lebih nikmat dari bau kecut khas leher kamu ini, Dear, pengen disedot terus baunya...."
Ajeng menoleh, matanya menyipit. "Emang aku ini baunya kecut, Mas?"
"Emm, nggak gitu, maksudku itu-"
Ajeng melengkungkan bibirnya ke bawah. "Wes besok-besok nggak perlu beliin aku sabun dari Korea, Mas. Pasti abal-abal itu, nggak wangi di aku!"
__ADS_1
Kan. ...