
Gue suka sama lo.
"Ahahahahahahahh, wong edan. Kemarin ya sama biduan burung kocok terus yang nginep di hotel ya bilang suka, lah kalau nggak dirayu suka dulu, mana mau jadi sawahnya dia, ya kan?" Ajeng berbicara sendiri di depan kaca, bisa-bisanya Arya berkata begitu padanya semalam, membuat perutnya terguncang karena tawa.
Eh, tapi
Ajeng ingat betul bagaimana Arya, orang nakal itu memang apa adanya, Arya pun begitu, nakal dan dia akui itu, tapi semalam tidak ada tawa yang ke luar dari Arya, hanya sekadar kekehan kecil dan itu pun tidak bisa Ajeng nilai sebagai hal yang menyenangkan, tidak seperti dirinya.
"Ah, yawes bodo amat lah. Sekarang aku harus fokus, kembali ke tujuan awal buat dapetin model mas Hikam, kerja dan mengabdi yang bener, kan aku biro konsul!"
Hari baru dia mulai, pengalamannya kemarin akan dia jadikan pelajaran berharga, sekalipun nanti Arya membuat ulah lagi, dia akan menanggapinya dengan lebih bijak, tidak terlalu ikut campur dan selayaknya memberikan saran.
Sepeda pasar itu mulai Ajeng kayuh, sepanjang perjalanan tak henti dia melebarkan senyum, dipastikan bulan ini, sebelum kalender habis, dia akan mendapatkan gaji meskipun baru bekerja beberapa hari, pak Kades senang dengan kinerjanya.
"Jeng, waduh tambah sip aja hari ini, ya gitu kalau kerja yang seger!" bu Desi heboh sendiri menyambut Ajeng, satu tim adu ayam dengan suaminya. "Alisnya, nanti saya kasih tahu cara buat alis yang bagus, kalau bisa bentuk pegunungan yang nyambung, Jeng!"
"Lah, emangnya bisa apa, Bu?"
"Bisa, tenang aja." bu Desi tepuk dadanya, lalu dia ambil duduk di depan Ajeng. "Heh, kalau ada yang ngomong jelek soal kamu sama Hikam, jangan didengerin, mereka itu cuman orang yang nge-fans sama Hikam, tapi nggak direspon, jiwa iri itu nggak layak diladeni, Jeng!"
Ajeng mengangguk, dia juga tak mau pandangannya dan impiannya bergeser kembali, membuat Hikam marah sekali lagi, dijamin dia tak akan bisa bertemu pria itu atau sekadar basa-basi.
Selain nasib anak panti dan orang tua yang kesepian di dekat panti harus Ajeng utamakan, dari sana sejak beberapa tahun lalu, dia juga bisa melihat Hikam dan Dewi, meningkatkan semangatnya.
"Jeng, tumben nggak ke ruangannya mas Hikam, takut dikira selingkuh?" nih, si kompor meleduk.
"Nanti, kalau dia jadi pak Kades, aku bakal ke ruangannya tiap hari, cari muka kayak kalian!"
"Kurang ajar kamu!" balas mereka.
"Aahahahahahahaah, daripada kalian kurang kerjaan!" Ajeng julurkan lidahnya.
Pelayanan sampai jam empat sore, begitu aturan yang terus berjalan di sini, sudah ada sekitar lima orang yang Ajeng dengarkan masalahnya, lalu dia beri solusi.
Semua berjalan dengan baik sampai mendung gelap menyapanya, Ajeng lantas mengintip ke depan, menatap sepedanya, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang hilang, mendung kali ini tak seperti mendung biasanya.
"Ngapain, Jeng?"
Ajeng tersingkap, pria tampan dan idamannya itu tengah berdiri di belakangnya, membawa senyum yang kemarin sempat Ajeng kira tak akan pernah lagi melihatnya.
"Mae Hikam jangan banyak ngopi!"
"Cuman buatin bu Desi, sekalian tadi ambil roti. Lagi ngapain ngelamun di sini?"
__ADS_1
"Nggak, tadi ada petir kenceng, terus aku lari ke sini. Sepi ya di depan, Mas ... kok kayak angin itu berbeda aja," jelasnya sambil tunjuk-tunjuk.
"Semoga nggak hujan angin, yang lagi kerja di lapangan pasti besok mengeluh, entah apa dan karena apa, kamu harus kuat!"
"Tenang, Mas Hikam. Ehehehehehe ....."
Cih,
Fans Hikam yang lain seakan tak rela kalau hanya Ajeng yang ditanggapi, mereka menjauhi dan tak akan memihak Ajeng bila gadis itu ada masalah, sudah menunggu dan menarik perhatian Hikam lama, ternyata gadis dekil yang Hikam dengarkan.
"Jeng, cobain mie pedesnya!" Bu Desi terhenyak melihat ada siapa di dekat Ajeng, bahkan melebarkan senyumnya. "Mas Hikam anu, habis dari dokter gigi langganan?"
Cling!
"Ahahahaah, enggak, Bu Desi. Ini tadi katanya minta kopi, kok sekarang malah buat mie pedes sih, Bu!" jawab Hikam membalas.
Bu Desi cengar-cengir, dia menyenggol lengan Ajeng agar membantunya menjawab, tahu sendiri di sini, Hikam itu contoh pria sempurna, bu Desi saja kalau mendadak melihat Hikam dikira malaikat yang datang, syok dulu, baru dia akan kembali bercanda.
***
Sepi, Ajeng berhenti tepat di gubuk tengah sawah, dia terkekeh mengingat bagaimana ulahnya menghukum Arya sampai harus mengantar pria itu malam-malam.
Sungguh, itu akan menjadi kenangan yang tidak akan Ajeng lupakan, dia bisa bercerita pada anaknya nanti, suaminya juga akan pertemanannya dengan Arya si pembuat ulah.
Sudah sejak satu minggu Hikam marah padanya karena ketahuan dicium Arya, batang hidung Arya dan semua masalah yang kadang pria itu buat, tidak Ajeng dengarkan lagi.
Bahkan, kang pentol sudah lama tak melihat Arya lewat, biasanya sudah lewat dan membeli pentolnya bersama wanita yang berbeda-beda.
Ruang chatnya bersama Arya pun berhenti di minggu lalu, setelah itu tak ada pembaharuan sama sekali, terlebih lagi, Arya bukan tipe orang yang sukanya buat status di media sosial, senyap semuanya.
"Tadi biduan yang waktu itu kan ya, aku tanya aja!" Ajeng berteriak memanggil wanita itu sambil terus mengayuh sepedanya. "Mbak'e!"
Wanita itu menoleh, mengerutkan keningnya mencoba mengingat dan mengenali wajah Ajeng.
"Si ayam jago?" tanyanya asal.
Ajeng mengangguk, dia sandarkan sepedanya, lalu mendekat.
"Dari ketemu mas Arya ya, hayo, ketemu di mana?"
"Arya?"
"Iya, yang sukanya bikin resek, habis ketemu dia kan di sana?" tuduh Ajeng.
__ADS_1
Wanita itu tertawa sambil menggelengkan kepala, tak lupa kebulan asap rokok yang dibuatnya, Ajeng sontak menutup hidung.
"Kamu nggak tahu kalau dia udah nggak di sini?"
"Mati?"
"Hush, ya enggaklah!" syok dengan balasan Ajeng. "Dia kan udah sekolah lagi ke luar negeri, mau nerusin usaha pak Darma, dia harus sekolah."
Jleb,
Seperti ada puluhan anak panah yang menghujam dada Ajeng, dia bergegas mengayuh sepedanya ke rumah Arya.
Sepi dan tak berpenghuni, lampu rumah itu pun hanya menyala samar.
"Bude, bu Ratih ada di rumah?"
"Loh, bu Ratih balik sebulan lagi mungkin, lagi anter mas Arya sekolah lagi, katanya pindah sana mas Arya, nggak balik, Jeng."
"Oh, dari kapan?" wajah Ajeng berubah seketika, tak ada kegirangan lagi.
"Udah hampir seminggu, Jeng. Orang sini udah tahu, sebelum pergi, bu Ratih bagi sembako."
Ajeng terdiam, dia ingat malam itu saat dia menertawakan pengakuan Arya, pantas saja ada yang berbeda, malam itu Arya tampak sangat berbeda.
Jaket?
Hanya itu, Ajeng belum mengembalikannya.
'Emang kenapa kalau gue ngaku suka sama lo, gue nggak bercanda.'
'Ahahahahahah, terus habis gitu, Mas Arya mau apa? Mainan burung? Ahahahahah.'
'Kalau lo mau, gue tinggalin itu semua!'
'Walah, malem ini kamu mau pentas seni di mana sih, sampe begitu latihannya, penjiwaan, main teater di mana?'
'Gue serius, bego!'
Plak,
'Orang kok mulutnya sampah semua, rasain sakit!'
Ajeng kayuh sepedanya lebih kencang, sesak, dia ingin berteriak.
__ADS_1