Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Mudah Tegang


__ADS_3

"Jangan sentuh hape gue!" Arya mau jatuh saja mencegah Juna membuka tas kecil dan mengambil ponsel berharganya itu. "Kasih tasnya, biar gue ambil sendiri!"


Juna semakin penasaran, ponsel harga berapa sampai dia tak boleh menyentuhnya, padahal hanya benda pipih yang mudah rusak bila sudah jatuh.


Dia pancing sedikit, Arya sudah gusar, bahkan sampai berteriak dan membuat gaduh, sampai-sampai perawat berlari ke ruanganya dan Juna dibuat kikuk karena teguran yang ada.


"Brengsek lo, Ya'. Gue yang kena semprot, emang ada apanya sih hape lo sampe begitu banget, hah?!"


Arya rebut tas itu, walau dia belum bisa duduk sempurna, tak akan dia biarkan isian tas dan ponselnya jatuh ke tangan orang lain.


"Kepo banget lo, makan sana!"


"Coba lo nggak sakit, gue hajar lo!" balas Juna kesal sekaligus penasaran.


Arya julurkan lidahnya, bagaimana dia mau berbagi ponsel itu, sedang di layar depan bila terbuka, sudah menampilkan foto Ajeng tanpa mengenakan busana, hanya berbalut selimut tipis, sengaja dia ambil diam-diam saat mereka selesai bercinta, Ajeng pun tidak tahu karena memang tipenya tidak terlalu tertarik dengan ponsel Arya meskipun selalu dibahas berulang kali soal pesan mantan biduan.


Bibirnya menarik sebuah senyuman, perjuangannya sebentar lagi akan menemui hasil, tak akan lama lagi bisa membuat istrinya kembali berpose seksi begitu, ingin dia perbaruhi tampilan layar ponselnya itu.


"Enak?"


"Biasa, tahu gitu gue beli di deket kantor, Ya'. Gue jamin lo bakal nagih minta lagi. Udah kabarin Ajejeng lo?"


"Entar, dia lagi sibuk sekarang pasti, tapi udah gue chat."


"Sibuk apaan?"


"Ayam sama telur."


"Buset, masih aja mainan gitu, kan udah ada telur lo dua!"


Arya lempar bantal ke arah wajah Juna, selalu saja bercanda saat dia berbicara serius, kurang satu lagi kalau Rian ada waktu bertemu, bisa-bisa Arya diusir dari rumah sakit ini.


Istrimu: Maaaasss, telpon Ajeng!


"Lo ngapain ketawa sendiri, Ya'? Jadi merinding gue!"


"Ajeng minta telpon, gue juga merinding!"


"Kampret, lo merinding tinggal kocok, gue?"


"Bodo'!" balas Arya tak peduli.

__ADS_1


Dia ke luarkan earphone dari tasnya, tak mau suara Ajeng didengar Juna, tapi sialnya Arya alat itu tak berfungsi lagi, terpaksa dia harus merelakan suara Ajeng sampai ke telinga Juna.


Pasang telinga, kalau ada yang lucu dan jadi bahan ledekan, akan Juna serap dan membuat gempar Arya di kantor, meledek sampai puas, tahu sendiri Ajeng suka lepas kalau bicara.


"Maaasssss, kamu udah enakan?"


Arya mengangguk, dia berikan kecupan jauh.


"Ajeng mau lihat, semua yang ada di kamu, sampe pepes itu Ajeng mau lihat!"


"Lo entar takut, Dear. Nggak bisa tidur dua hari dua malem loh!"


Ajeng gelengkan kepalanya, terpaksa Arya yang memang tak tahu malu itu menunjukkan, lagipula Juna sudah biasa, mengganti perban pun nanti dia yang membantu sekalian diukur, panjang siapa.


Plak!


"Sakit, Mas?"


"Sedikit, perih aja kan bekas jahit sama sayat dikit. Pengen dikasih salep sama lo, Dear."


"Nanti, kalau kamu udah balik, mau dikasih salep apa aja, Ajeng yang urusin, sabar dulu ya. Kalau sakit, telpon aku, Mas. Nanti pasti enakan, ya!"


"Iya, Dear. Maunya dirawat lo aja, kalem banget kan kalau pegang, kasihan loh si burung kocok, Dear..." Arya terus merengek.


Juna bersumpah, bantalan sofa itu bisa melayang ke paha Arya kalau terus bergaya menjijikkan di depan Ajeng.


"Dear, Juna mau jahat loh!"


"Sini biar Ajeng yang ngomong sama Mas Juna!"


Arya menolak. "Nggak mau, nanti dia lihat kamu pake baju rumahan gitu, dia kan suka ngintip!" wajahnya berubah garang.


Ajeng makhlumi, dia yang wajahnya pas-pasan begini saja membuat Arya posesif, apalagi kalau dia punya wajah yang cantik luar biasa, bisa dilarang ke luar rumah.


Belum selesai aksi garangnya itu, Arya kembali dikejutkan dengan pernyataan Ajeng yang ingin ke sana demi menemani sang suami.


Jelas Arya senang, tapi dia tentu tak akan bisa melihat istrinya kesusahan di jalan sendiri, Ajeng bahkan tak bisa bahasa asing, bisa-bisa dia salah pesawat dan justru diculik.


"Kan, aku mau nemenin kamu!"


"Nggak, di sini gue udah bayar Juna, kita udah kompak bisa, jadi nggak perlu lo kesini, bahaya! " hatinya memang ingin, tapi keselamatan Ajeng lebih utama. "Gue bakal balik setelah semua selesai, inget nggak ada acara kejutan lo ke sini, yang ada gue marah, emosi, nggak akan nerima lo!"

__ADS_1


Ajeng mengkerut kalau sampai Arya emosi begitu, artinya tak ada nego yang bisa diajukan, prianya itu memang tengah menahan ingin, tak lain demi Ajeng, istrinya terluka sedikit saja, bisa hancur semuanya.


Akhirnya, Ajeng pun menurut, dia akan diam di rumah, berbagi kabar bersama sang suami secara rutin.


"Lo jadi mau lihat lagi?"


Ajeng mengangguk, dia mau memastikan burung pepes itu bagaimana, ingin rasanya dia sentuh kalau bisa, lucu sekali.


"Jangan dilihatin gitu, Dear. Kalau dia bangun masih nyeri!"


"Terus aku lihatinnya gimana?"


Kan, tatapan Ajeng saja sudah membuat Arya kelabakan, ingin waktu berputar cepat dan dia bisa memasuki Ajeng.


Juna sudah melipir ke luar daripada dia melihat dua orang yang sedang bercinta virtual.


"Sakit ya, kalau gitu Ajeng nggak lihat, Mas!"


Arya menyengir, bukan salah Ajeng, dia saja yang tak bisa menahan diri, kepalanya sudah memutar banyak adegan berdua yang otomatis bisa membangkitkan gairahnya.


Kembali wajah Ajeng dia tatap sempurna, masih menahan sesuatu di bawah sana, berusaha Arya alihkan.


"Mas, udahan ya?"


"Kok buru-buru, nggak suka vcall2 sama gue?"


"Bukan gitu, kan nanti kamu makin ke siksa loh!"


Arya masih bisa menahannya. "Dear, besok pun bakal ada uji tes cairan, juga bakal lebih sakit, tapi enak kok, lega, ahahahwahahah. Gue telpon lo ya, lebih cepet kayaknya kalau sambil lihatin lo, Dear!"


"Emang disuruh apa?"


lah iya, dia nggak tahu prosesnya gimana!


"Nggak, nggak disuruh apa-apa, yauda gue istirahat ya, Dear. Nanti, kabarin lagi, kalau bisa waktu lo mandi, Dear. Kangen pengen lihat!"


Astaga!


Ajeng bulatkan matanya, mau ditolak itu suaminya, kalau dituruti juga dia malu loh mandi sambil rekaman, Ajeng merinding membayangkan semua itu meskipun semua tubuhnya sudah Arya lihat sampai tuntas.


"Duh, dia kok minta begitu, nanti kalau tegang kesakitan, aku ya malu loh, kadang kan mandi sambil kentut, gimana ya?" Ajeng mondar-mandir, mendekap tubuhnya sendiri, panas dingin dibuat ucapan Arya.

__ADS_1


Nanti, gimana caranya mandi nggak kentut?


Malu, lagi dilihatin suami, malah kentut, eheheheh. Ajeng tepuk-tepuk perutnya, berharap gas di sana sejenak terlepas, nanti biar tahan.


__ADS_2