Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Kontrol Kehamilan


__ADS_3

Lama dalam perdebatan jumlah kepala si burung kocok membuahkan hasil, Arya mendapatkan apa yang dia mau, kepercayaan istrinya, itu senjata penting untuknya melangkah ke depan.


Hari ini, mereka pergi bersama ke rumah sakit, kandungan Ajeng sudah masuk bulan kedua, selama itu tak ada ngidam yang ekstrim, bayi yang ada di kandungan Ajeng sama sekali tak merepotkan, hanya sekadar tidur di luar dan tak jadi masalah karena Ajeng mudah berganti mood.


Arya mengemudi dengan satu tangannya, sedangkan yang lain memilih bersemayam di perut Ajeng yang sedikit tampak, entah itu tumpukan lemak atau memang anaknya yang tumbuh cepat.


"Dear," panggilnya.


"Hem, ya?" Ajeng menoleh, menutup korden gambar ayam di sampingnya. "Kenapa?"


"Gue pengen anak tiga, boleh?"


Ajeng mengangguk tanpa beban, dia tak punya saudara sejak kecil dan baru bertemu sebelum menikah, jadi dia mau membesarkan anak banyak dengan cara terbaik dan selalu bersama.

__ADS_1


Kecupan hangat di punggung tangannya dari Arya, pria itu selalu bersikap lembut pada Ajeng, maaf bila Arya tak bisa mengganti panggilannya pada Ajeng, ada yang hilang bila dia ganti kebiasaan itu.


"Lo mau jalan aja atau naik kursi roda?" Arya menyugar rambutnya ke belakang, rambutnya sengaja dipanjagkan sampai anaknya lahir nanti. "Kalau mau, gue ambil sekarang, gimana? Dear, jangan milih jajan dulu, gue tanya!"


Ahahahah, Ajeng terkekeh, ada ibu-ibu yang menawarinya jajanan, air liurnya mau menetes kala melihat gulungan ketan hitam dibalur parutan kelapa, langsung dia beli semua.


Arya usak rambut Ajeng, bisa-bisanya memilih jajan begitu masuk rumah sakit, Arya rengkuh untuk berjalan berdampingan, membantu Ajeng membawakan kantong kue itu, memilih berjalan karena Ajeng mengaku kakinya masih kuat dan dia tidak merasa sakit sama sekali.


Antrian telah Arya urus online, selama menunggu, mereka menjadi pusat perhatian, Arya memainkan jarinya di rambut Ajeng dan sesekali mengecup pipi istrinya itu, membuat Ajeng risih sekaligus gemas, dilihat banyak orang.


Arya jauhkan wajahnya dari rambut Ajeng. "Gue lupa kapan, pastinya pergi, tapi gue lupa. Mau apa?"


Ajeng nyengir. "Ya kalau kamu bilang mau ke kota apa kan ya aku bisa nitip jajan, Mas. Terus, nanti ini mampir ke panti ya, jajannya bisa dibagi. "

__ADS_1


"Emang cukup? Sekalian aja kita beli apa gitu tambahannya, kan di sana buat banyak orang, jajan atau makanan berat?"


Belum sempat Ajeng menjawab, nama Arya sudah terpanggil, keduanya memilih untuk menunda obrolan lebih dulu, meneruskan tujuan awal mereka.


Jantung Arya berdetak cukup kencang, ini bukan kali pertama dia mengantar Ajeng periksa, tapi rasa itu tetap sama, ada takut dan cemas, belum lagi matanya yang kerap memanas, dia mau pingsan saja begitu layar hitam itu menampilkan isian perut sang istri.


"Anaknya sehat ini, posisinya juga aman. Ibunya asupan makanan harus ditambah lagi ya, biar segeran, eheheheh... lagi nggak mood makan ya, Bu Ajeng?"


Ajeng mengangguk. "Biasanya suka masak ayam, lah saya nggak tahu kok jadi mual sama ayam, ada kambing, tapi kan bahaya kalau banyak, Dok!"


"Ibu suka banget sama kambing?"


"Suka kebangetan, saya bisa loh habis empat kakinya, Dok!" jawab Ajeng sombong, dokter itu mau mencekik lehernya sendiri. "Mas, Dokter nggak tahu kalau aku suka kambing," adu Ajeng pada suaminya.

__ADS_1


.Arya garuk-garuk kepala, bingung mau menjawab apa, lah memang Ajeng suka, mau bagaimana lagi.


__ADS_2