Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Untuk Ajeng


__ADS_3

Bu Ratih berbalik, dia tak jadi memanggil kedua anak muda itu, pasalnya baik Arya maupun Ellin tampak sangat dekat, keduanya masih sibuk berciuman hingga tak ada celah bagi mereka untuk mengganggu pasangan muda itu.


Pasangan?


Setelah puas menyesap bibir yang menyerangnya lebih dulu, Arya hapus bekas basah di bibirnya, menyeringai tipis dan mendorong Ellin menjauh dari tubuhnya.


"Mas Arya yakin nggak mau lanjut lagi?" Ellin tak sadar dorongan itu tanda Arya muak. Gadis itu masih bebal dan mendekat. "Aku bisa kasih apa yang Mas Arya mau selama di sini, apapun, termasuk jadi istri abu-abunya Mas Arya, gimana?"


Cih,


Arya memutar kedua bola matanya jengah, satu bulan tak menyentuh wanita memang membuatnya pusing luar biasa, air dingin pun tak bisa membuat anak buahnya tenang, bahkan dia sampai demam karena menahan gejolak hasrat dalam dirinya.


Namun, dia merasa hambar meskipun dihitung lama membalas ciuman Ellin tadi, tidak ada decap nikmat yang bisa dia rasakan, justru saat dia memejamkan mata, yang dia ingat adalah kemarahan Ajeng, di mana gadis itu membasuh bibir bekas ciumannya dengan air kolam renang sampai make upnya luntur tak bersisa.


"Gue nggak minat sama lo," ujar Arya.


Wajah Ellin sontak pias, "Nggak minat gimana, bukannya tadi kamu-"


"Lo yang nyium gue, bukan gue yang mulai, ya gue kasih aja, puas kan lo, sayangnya gue nggak puas!"


"Mas Arya!" menarik tangan Arya yang endak kembali masuk. "Kenapa? Kamu takut kalau cewek kampung itu tahu ya?"


Arka terkekeh kecil, "Dia udah tahu semua yang gue lakuin," jawabnya.


"Kalau dia tahu, bukannya enak kalau kita bisa saling melengkapi di sini?" Ellin masih tidak mau mundur. "Dia nggak akan marah karena tahu emang kamu suka semua hal yang enak-enak, soal tubuh wanita udah biasa, aku rela itu, ayo Mas Arya!"


"Gue nggak minat sama lo," ujar Arya sekali lagi.


Sumpah demi apapun, Ellin geram, dia sudah menahan malu tadi saat Arya membalas ciumannya dan dia semakin antusias, sekarang pria itu menolaknya dengan alasan tidak minat, padahal jelas tubuhnya diyakini lebih bagus dari gadis kampung itu.


Arya masuk lebih dulu, baru disusul Ellin, kedua ibu di sana sontak senyum-senyum, bu Ratih sudah berbisik pada bu Uwi kalau kedua anak mereka semakin dekat, setidaknya ini menjadi obat atas sakit hati Arya kehilangan Ajeng.


"Mam, jangan lupa sebelum pulang, beli oleh-oleh buat Ajeng dan bu panti!" Arya ingatkan itu sekali lagi.


"Ajeng, siapa Ajeng?" bu Uwi mengerutkan keningnya.


"Itu, Jeng, man-"

__ADS_1


"Ceweknya Arya, Te." potong Arya.


Jleb,


Kedua ibu itu saling menoleh, bukannya tadi baru saja Arya berciuman dengan Ellin, sekarang pria itu berkata kalau ibunya harus ingat oleh-oleh untuk kekasihnya bernama Ajeng, pandangan mereka masih terhunus pada Arya dan Ellin yang berwajah sebal.


"Nama kampungan aja dibelain," gerutu Ellin.


Arya menoleh, dia bergeleng sambil melihat Ellin dari atas dan bawah, satu lagi yang membuat Ellin kesal di mana Arya mengusap dan membasuh bibir bekas ciuman mereka itu seolah benar-benar tak berminat dengannya.


Bu Ratih dekati Ellin, "Mereka baru aja putus, wajar kalau Arya masih goyah," ujarnya.


"Emangnya Ajeng itu cantik, Te?"


"Mmm, ya enggak sih, eheheheh." Emang kan ya, aku nggak salah kan ya.


***


Satu bulan berlalu,


Suami bu Desi juga ada, istrinya sembunyi, tidak mau mengakui suaminya.


"Jeng, kalau ayammu nggak diadu lagi, kenapa nggak dibagi ke kita aja, itu kan jagoan?!"


"Walah, Pak Timen ... Diam-diam mengharapkan bagi ayam ternyata, ahahahah, itu nggak aku bagi, nggak aku jual, mau aku sembelih kalau kurbanan, daripada aku nggak kurban apa-apa, perasaan ya nggak mungkin, jadi aku kurban ayam, bisa dimakan sama anak panti, lumayan loh ayamku gemuk-gemuk sejak aku dapat gaji dari sini," jelas Ajeng, bibirnya meliuk-liuk memamerkan lipstik merah jambunya.


Pak Timen mendengus, "Mbok ya kamu bagi ke kita, biar kita itu menang, Jeng. Lagian, kamu kenapa nggak adu ayam lagi?"


"Loh, pengennya ya adu ayam, tapi aku jaga reputasi pak Kades yang udah nerima aku, terus jaminan nama baik mas Hikam. Udah, Pak Timen jangan ngedumel aja, sekarang itu masalahnya apa ke sini, kok bahas ayam terus, nggak mau ngurus surat apa atau apa gitu?"


"Surat apa, Jeng?"


"Kematian mungkin."


"Gundulmu, bocah kok!"


Ahahahahahah, Ajeng terjungkal-jungkal karena tawa.

__ADS_1


Tawa itu susah payah dia kembalikan setelah tahu Arya pergi, bahkan pesannya tak dibaca sama sekali, yang ada hanya Ajeng keramatkan jaket Arya, kalau nanti Arya kembali, mau dia tunjukkan jaket itu masih ada, tidak dia jadikan kemul kandang.


"Jeng, bu Desi nggak bilang apa-apa sama kamu?"


"Bilang apa?"


"Masalah rumah tangga, Jeng. Dia itu marah kalau aku main tapi nggak menang!"


"Oalah, ke sini itu mau curhat masalah itu. Gini loh Pak Timen, namanya perempuan itu ya butuh sandang, pangan dan papan, jangan cuman mapaaaaaan terus, tapi lainnya nggak dikasih, jaman sekarang itu brondong banyak loh, hati-hati!"


Pak Timen cemberut, "Lah, kamu apa nggak ngurus surat nikah, Jeng. Belum ketemu yang kayak Hikam?"


Ajeng hanya tertawa soal itu, dia masih menjadikan Hikam itu idamannya, tapi satu bulan ini fokus ya bekerja, lalu membahagiakan diri, mengajak bude Lastri dan bu Tiwi jalan-jalan ke pasar malam.


Ada yang mengganjal di hatinya, sejak Arya mengatakan rasa itu, dia seperti memijak pedal rem, galau, gelisah, gundah gulana, terlebih lagi Arya tak mengatakan kalau mau pergi.


Eh, tapi dia siapa juga kok dipamiti?!


"Jeng, ayo ikutan ke rumahnya mantan bu Kades, bu Ratih!" ajak Mira.


"Ada apa di sana? Mereka udah balik?"


"Iya, bu Ratih sama pak Darma baru aja balik dari luar negeri, mereka bawa oleh-oleh buat orang kelurahan!"


"Cuman mereka berdua, Mir?"


Mira mengangguk, dia tarik tangan Ajeng. "Lumayan dapat minyak, gula merk sana kan ya, Jeng, siapa tahu minyaknya beda!"


Ajeng manggut-manggut, dia ikut berlari, lumayan dapat sembako, baru kali ini oleh-oleh dari luar negeri itu sembako.


Masa bodoh, siapa tahu di sana dia bisa bertemu Arya, demit satu itu, mau dia siram minyak sekalian, lalu mandi tepung kalau bisa.


"Bu Ratih, Pak Darma!" Ajeng berteriak, berlari menghampiri keduanya.


Pak Darma dan bu Ratih tersentak, mereka ingat pesan Arya, tapi demi hubungan baik mereka dengan keluarga Ellin, oleh-oleh itu tidak mereka berikan.


'Mam, Pap, jangan lupa kasih oleh-oleh ini ke Ajeng, suruh dia pake terus fotonya kasih ke Papa atau Mama!' Arya sebelum berpisah.

__ADS_1


__ADS_2