
ML?
Habis muka pal Darma dan bu Ratih di depan saudara Ajeng, masih bagus Ajeng mencari jawaban yang melegakan mereka dan tak membuat gila, bisa-bisanya terlalu terbuka begitu.
Kalau saja tak ada Hikam, sudah dipastikan mulut Arya terkucir dua oleh bu Ratih, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepala, berharap otak anaknya bergeser ke tempat yang benar, perlu diingat kalau Arya ini calon penerus usaha, kalau tingkahnya tak bisa dikendalikan dengan baik, tentu saja lebih baik Ajeng yang menjadi penerusnya, atau mungkin bayi yang belum lahir itu.
"Dear, kenapa liatin gue gitu?" Arya menakup wajah Ajeng, hanya ibu hamil itu yang menunggunya di teras rumah setelah aksi bersih tisu di mobil selesai. "Lo jawab dulu, baru masuk!"
Ajeng tak tahan untuk tidak menarik rambut suaminya sampai kepala itu tertunduk di depan dada, dia tarik kuat hingga mendengar pekikkan Arya, segenap tenaga.
__ADS_1
"Mas, mbok ya kamu ini jangan jawab asal, Ajeng udah bagus atur jawaban, kamu kok malah seenaknya!"
"Dear, lo lagi hamil, jadi gue nggak mau asal bohong. Gue nggak mau kebiasaan bohong, katanya nggak ada bohong demi kebaikan, ya kan Dear...?" Arya menaikkan kepalanya, menunjukkan wajah melas ke depan Ajeng sebelum ibu hamil itu berbalik dan meninggalkannya, berjalan lebih dulu. "Dear, kok lo marah ke gue, nggak boleh dong, Dear... heh!"
Arya kejar istrinya, pertemuan dengan Hikam dan Dewi dirasa membosankan meskipun dia tahu itu juga keluarga, dia tak berminat sama sekali.
Setelah kepulangan Hikam, barulah kamar Arya berisik, bukan sedang bercinta, tapi Arya sedang bernego dengan Ajeng agar mau memaafkannya karena hal tadi, dia berjanji tidak akan membicarakan hal yang memalukan lagi.
Arya sama sekali tak melepas dekapannya, duduk pun harus dia pangku. "Gue cuman meninggilan cinta kita, ngebuat mereka iri sama percintaan kita itu kebanggaan!"
__ADS_1
"Ajeng tahu, tapi mbok ya jangan gitu. Kita udah nikah, memang hal itu wajar, bahkan indah kalau dibahas karena penuh cinta, tapi Mas... nggak pantes kesannya dibahas dan dipamerkan, nggak layak gitu loh, itu kan urusan pribadi aku sama kamu, kecuali kamu nunjukkin cintanya pake gandengan tangan, perhatian ke aku, gitu bagus... banyak loh suami yang banggain ranjangnya sama istri, eh dianya selingkuh, ya karena dia cuman pengen dibanggain aja, terus bosen-"
Arya bekap mulut Ajeng, dia memang bangga dan membanggakan semua itu, tapi dia tak ada kata bosan dari Ajeng atau pada akhirnya nanti akan melihat wanita lain seperti yang ada dalam bayangan Ajeng dari kondisi di luar yang heboh
Pandangan Arya menegaskan kalau cinta matinya hanya pada Ajeng, itu pun berarti si burung kocok tidak akan berbelok ke lubang lainnya, tegak menantanh hanya saat bertemu dengan lahan basah si ayam jago, maksudnya Ajeng.
Lama Arya memandang, kemudian dia jatuhkan wajahnya ke bahu kiri Ajeng, mendapatkan usapan lembut di sana, Ajeng tahu ucapannya sedikit menohok dan mungkin otaknya geser sampai bisa menjelaskan hal seperti ini, atau mungkin dia kesambet setan juara kelas.
"Makan ayo!"
__ADS_1
Arya bergeleng, dia semakin merapatkan kedua tangan itu ke pinggang Ajeng.
"Jangan diteken terlalu, kan ada anakmu, Mas!" meringis karena perutnya tergencet. "Waaalaaah, ngambek, ahahahahah...."