Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Praduga Hamil


__ADS_3

Arya sedikit memelankan langkahnya, walau ada Juna di sini, bukan berarti dia bisa meminta ini dan itu pada temannya, ada batasan tersendiri seperti saat dia ada di kamarnya.


Masih ada sedikit nyeri bila dia buang air kecil, tapi sudah lumayan membaik daripada dia harus memakai alat bantu.


Wajah Ajeng baru saja dicetak besar dan dia pajang di kamarnya, hal itu sebagai pijakan rem bagi Arya yang bisa saja terpeleset pada jerat masa kelam lama.


"Dear, butuh lo di sini sumpah!" dia memicing pada foto itu. "Gue mau pulang cepet rasanya, kangen sama lo!"


Juna mendengar suara itu dari luar, sengaja dia tak pulang dan memilih menginap daripada harus bolak-balik memenuhi kebutuhan Arya, pak Darma dan bu Ratih sudah pasrah padanya karena tak mungkin mengganggu Rian, yang ada Ellin akan ikut ke sini dan runyam.


Sungguh, Arya sangat membatasi diri bertemu dan berinteraksi dengan para wanita sekalipun urusan pekerjaan. Sebagai mantan pria brengsek, dia harus punya batasan hingga tak tertarik ulang pada dunia kelam itu, demi istri yang sangat dia cintai dan menjadikan dirinya serba yang pertama.


"Dear, lo di mana ini?"


"Air terjun, Mas. Diajak mas Hikam keliling, terus ada ininya, jadi aku main. Mas udah enakan belum?"


Arya mengangguk, dia tak pernah sungkan atau malu menunjukkan burung kocoknya pada Ajeng meskipun mereka jauh, istrinya itu harus memeriksa terus menerus dan tahu perkembangannya.


Lagipula, Ajeng sama sekali tak menolaknya untuk memeriksa virtual.


"Mas habis pipis ya, agak merahan itunya, tapi nggak apa?"


"Perih dikit, Dear. Gue pengen pulang!"


"Bentar lagi, kalau udah selesai semua prosesnya kan pasti pulang, Mas. Ajeng rapiin nanti kamarnya buat nyambut kamu, apa perlu Ajeng ikut les nari jadi biar bisa sambil nari waktu nyambut kamu, hem?"


"Aahahahahahaahh, gemes, pengen peluk!"


"Nanti, kamu peluk sepuasmu. Katanya mbak Dewi aku balik jadi perawan lagi, ahahahah, maksudnya aku kayak anak gadis yang masih suci loh, Mas-"


"Banyak yang ngeliat lo?" potong Arya sembari meninggikan nadanya.


Ajeng bergeleng cepat, bukan itu maksudnya, tapi hal lain di dalam sangkar yang jadi seperti perawan lagi.

__ADS_1


Arya seketika meringis, membayangkan bagian sempit itu saja bisa membuat dia terlena dan ingin tenggelam, semakin tak sabar pulang dan mencetak anak yang banyak dengan Ajeng.


"Mas, huss, kamu ini kalau urusan begitu kok semangat. Gimana kabarnya Ellin sama mas Rian?"


"Tahu, bodo mikirin mereka!" Arya tak mau Ajeng menanyakan orang lain, hanya dia saja. Tapi, istrinya yang memang loyal itu akan terus bertanya meskipun tahu Arya akan marah. "Dear, kesel deh kalau tanya mereka terus, kan gue nggak mau bahas cewek selain lo!"


"Walaaaah, ya emang sih aku yang paling cuantik sejagat raya merdeka!" dia buat Arya terkikik karena percaya diri setinggi langit itu. "Mas, nanti kalau kamu udah balik, jalan-jalan ke air terjun yuk, Mas. Pengen kamu gendong di sini, sambil nyelem kayak mas Hikam sama anak-anaknya, ya?"


Arya mengangguk, jangankan di air terjun dia gendong, kalau bisa ke hotel bintang lima yang ada kolam renang pribadinya sekalian agar mereka bisa bercinta di dalam air, bayangan Arya sudah ke mana-mana, lebih dalam dan tinggi dari Ajeng.


Tak ada hari tanpa berbagi kabar bersama sang suami, hanya saja Ajeng belum menemukan saat yang tepat membicarakan masalah pekerjaannya pada Arya.


Apa lebih baik dia menunggu Arya pulang dulu agar lebih tenang? Takutnya Arya di sana kepikiran dan justru tak fokus pada pemulihan, tahu sendiri Arya akan memikirkan penuh bila ada nasalah menyangkut Ajeng.


Gaya Arya yang santai ternyata menyimpan sisi yang berbeda di mana dia akan menjadi pendiam bila sudah memikirkan satu hal yang menyangkut orang tersayang, kali ini Ajeng tambahannya.


"Mas, makin ganteng aja sekarang, di sana kamu nggak suntik muda kan?"


"Nggak, Dear. Ganteng soalnya yang lihat lo, kalau orang lain ya biasa aja, eheheheh. Dear, jangan telat makan, awas gue pulang lo kayak nggak dikasih makan!"


Hu, hue, hue, hue, hue ... huwek!


"DEAR!" Arya sontak terduduk.


Ajeng menjauhkan ponselnya, beruntung dia ada di tepi hingga muntahannya tak bercampur air terjung itu, tepat di batu-batu.


Hikam rebut ponsel Ajeng, dia memunculkan sedikit wajahnya.


"Istri gue kenapa?" tanya Arya gusar pada Hikam.


"Nggak tahu, mendadak mual dia, gue tolongin dulu!"


Hikam matikan ponsel Ajeng, ini yang tak bisa membuat Arya tidur tenang sebelum tahu kondisi istrinya, baru main air terjun sudah mual

__ADS_1


Tapi, Ajeng itu tipe kuat, masa kena air sudah mual? Apa dia hamil? tidak mungkin, Arya saja baru lepas alat beberapa hari ini.


Dear, jangan sakit, please!


***


Apa ada kemungkinan bocor alias KB nya tak berjalan karena dia terlalu bersemangat menggempur Ajeng?


Arya tak bisa tenang sebelum ada kabar dari Hikam akan kondisi Ajeng saat ini, sejauh ini dia selalu aman dan tak pernah ada kasus kehamilan yang terjadi.


Tapi, memang berhubungan dulu hanya bersenang-senang dan durasinya tak sebanyak bersama Ajeng yang hampir setiap hari dan itu berulang.


Kepala Arya pening tidak karuan, dia juga senang kalau istrinya hamil, karena jelas hanya anaknya.


Tapi, Arya ingat lagi kalau saat dia berangkal. istrinya itu tengah datang bulan, jadi kemungkinan tadi bisa batal.


"Hallo!" langsung disambar begitu ponselnya berdering, dia yakin kalau itu dari orang tua atau Hikam. "Ya?"


Ada helaan nafas lega di sini, kondisi Ajeng baik-baik saja, dia hanya lelah yang tak dirasakan dan banyak pikiran hingga asam lambungnya naik.


Sudah banyak praduga di kepala Arya akan kondisi istrinya yang super duper aktif itu, sekalinya Ajeng sakit, dia pastikan terbang ke sana tak menunggu sembuh si burung kocok.


"Mam, sekarang sama Ajeng nggak?" Arya mau melihat wajah pucat istrinya. "Kasih coba, Mam. Aku mau lihat dan ngobrol sama dia!"


Bu Ratih berikan ponsel itu ke tangan Ajeng, satu tangannya sudah tertancap infus, setelah itu habis barulah Ajeng pulang.


Menikah bersama Arya sudah dua kali masuk rumah sakit, ehehehe, Ajeng jadi malu.


"Dear-"


"Aku baik-baik aja kok, Mas. Nggak lagi hamil anak siapa-siapa!" potong Ajeng takut suaminya menduga yang aneh-aneh.


Arya menganga, lalu dia kecup jauh. "Cepet baikan ya, kalau nggak, gue bisa ke sana sekarang loh!"

__ADS_1


"Duuuhhh, jadi malu loh, tadi dilihatin banyak orang aku, Mas!" merah padam wajahnya.


__ADS_2