
"Baru juga hari senin, udah senin lagi, Arun makin gemesin, Ajeng apalagi, makin bikin nagih, bekas jahitan makin ketat aja, gila gue," gumam Arya, dia perhatikan dari jauh kedua orang tuanya tengah sibuk bergantian menjaga Arun. "Dia udah bisa duduk, eheheheh, cocok kayaknya dapet adek, tapi Ajeng belum siap, belum siap dijahit lagi kayaknya, aku bilang aja besok tanpa jahitan nggak masalah, aku jahit sendiri, eheeheheh ... Dear, pengen anak!" teriaknya diakhir kalimat.
Ajeng mencebik, dia sedang sibuk melipat baju anak dan suaminya, lagi-lagi sang suami minta anak kedua, memang sudah dibiarkan menembak di dalam berulang kali, tapi memang belum jadi, bahkan sampai Arya menuduh Ajeng minum pil penunda, ibu anak satu itu geleng-geleng kepala.
Walau dokter sudah bilang akan KB alami dari ASI itu bisa sampai enam bulan, Arya masih terus bertanya-tanya, khawatir benihnya tak handal.
"Eh, apa ini?" Ajeng ke luarkan tangan kirinya dari saku celana Arya, ada benda pipih yang rasanya tak asing. "MAS ARYA!"
Arya tersentak kaget, kalau Ajeng sudah memanggilnya keras begitu, tandanya ada api amarah, Arya bergegas masuk, meninggalkan Arun bersama kedua orang tuanya.
Di sana ibu satu anak itu sudah menampilkan wajah merahnya, dadanya yang besar naik turun seirama, hidungnya kembang kempis, matanya setengah melotot pada Arya.
__ADS_1
"Kenapa, Dear?" Arya mau pingsan kalau istrinya berubah jadi banteng. "Apa itu?"
Ajeng angkat benda pipih bergaris dua itu, tangannya sudah mau memukul wajah tampan Arya, tapi dia tahan, sayang kalau tampannya hilang, nanti Arun tidak kenal papanya.
"Itu-"
"Kamu main api di belakang aku, Mas?" mendengus jadi wedhus gembel. "Kurang servisnya, udah kamu apain aja aku, kaki pindah kepala, kepala pindah kaki, gaya abcd, puter kanan kiri atas bawah, kayang sampe kuda terbang, semua Ajeng turuti kamu, kok ini jadi balesannya, Mas!"
"Kurang rapet, iya? Yang baru lebih enak, lebih bisa, lebih ada waktunya kamu tusuk-tusuk, gitu?" Ajeng tangkap tangan Arya, mau dia pelintir ke belakang. "Buuuuuurrrrrrrung kocokmu itu emang mau disunat lagi, Mas. Kamu kira aku takut, hiloooh, kamu ngeremehin aku, aku potong lagi aja aku berani, orang aku bisa motong ayam, ngaku kamu!"
Arya bergeleng cepat, sialan memang teman kerjanya itu, test pack istrinya di selipkan di saku Arya, mati dia kalau Ajeng tak mau mengerti, mendengar saja ibu satu anak itu enggan.
__ADS_1
"Dear, aku-"
"Apa? Dia lebih bisa gaya apa sama kamu sampe kamu terpikat, Mas?" Ajeng bawa sapu di tangannya, kalau ada gunting kebun, pasti dia bawa, sepertinya disimpan ayah mertua. "Kamu nggak mau ngaku ya? Oke, ini udah cukup jadi bukti kalau kamu nggak puas sama aku, nyari lobang lain, kamu nggak sayang sama Arun, Mas ... coba, ngomong sama aku, gaya apa yang aku nggak bisa? Wong gaya monyet gelantungan aja aku bisa," oceh Ajeng.
Arya semakin terpojok, kondisi dan nasib burung kocoknya tak aman, Ajeng bisa memukul burung kocoknya dengan sapu, hancur masa depannya, adik Arun belum otw, burung kocok pensiun.
"Dear, aku nggak selingkuh, ini salah paham!"
"Halah, mana ada orang selingkuh itu ngaku, pengadilan agama penuh Mas kalau pada ngaku, wong kalau burung itu nggak dijepit resleting, nggak akan berhenti," balas Ajeng.
"Tapi, aku beneran nggak seling-" Arya pegangi celananya. "Jangan, Dear. Dengerin dulu!"
__ADS_1