
"Jangan asal kalau ngomong!" kesekian kalinya Arya menegur Ellin. "Belah duren sama cowok lain, lo ngakunya sama gue, enak banget hidup lo!"
Ellin berdecak, seorang Arya sang pemain ranjang, tidak mungkin salah menilainya dan bisa dia kelabui, sekali raba saja, jelas Arya sudah tahu si Ellin itu masih gadis atau tidak.
Dia tunjukkan alat bantu yang tadi dia gunakan untuk membuat Ellin mendapatkan pelepasannya.
"Main lo kurang jauh, tidur doang di kasur terus cowok lo cuman main di atas, ginian nggak ngerti!"
Ellin geli menyentuh benda itu, dia lemparkan begitu saja, bahkan bisa meliuk-liuk di lantai. Walau begitu, dia tak jera mendekati Arya, meyakinkan Arya kalau mereka itu pasangan yang cocok.
Berulang kali dia bahas masalah kerja sama dan perasaannya, Arya tak menanggapi sama sekali, giliran mulut Ellin menyebut nama Ajeng, Arya sontak berdiri, berusaha mencari di mana bayangan Ajeng berada.
Gadis ayam jago itu berhasil membuatnya merasa menjadi yang pertama dan satu-satunya, bisa dia ingat dan rasakan decapan Ajeng yang kaku itu, kedua tangan yang menggantung kaku saat dia peluk, debaran jantung bertalu-talu, memberontak ingin lepas dan diikat kuat, segalanya pertama bagi Ajeng.
"Duh, makan bebek aja kok sekarang udah kaku semua tangan ini, masa iya aku kena kolestrol, belum nikah lagi, besok baru kenalan, nggak tahu diterima atau enggak, jangan sakit ngan-tangan!" Ajeng kibas-kibaskan tangan kanannya itu. Dia berjalan ke dapur, lampu yang seharusnya sudah padam, dia lihat masih menyala terang. "Siapa?"
Krompyang!
Bude Lastri berjongkok sambil menutup kedua telinganya, komat-kamit mengusir apa saja yang malam ini mengganggu dirinya, dia menunduk, tak mau menoleh dan mengintip sedikit saja.
"Bude, ngapain malem-malem di sini?"
Ajeng!
Bude Lastri buka telinganya, mendongak, begitu melihat wajah Ajeng, dia tersenyum lebar, meringis hingga deretan gigi kuning mengkilap itu terlihat, membuat silau yang di depannya.
"Ritual buat apa?" dia tidak salah dengar, kan.
"Loh, kamu kok nggak tahu. Dulu, kalau jamanku muda, sebelum dikenalin sama jodoh, malemnya aku puasa dulu, Jeng. Terus, begadang buat doa, makanya ini aku buat kopi, barengan sama bu Tiwi mau doain kamu, tirakat namanya."
"Nanti, bu Tiwi sakit loh, kan udah lama bu Tiwi nggak ikut puasa, kondisinya naik-turun, Bude nggak salah?"
Lah, iya.
Dia putuskan kembali ke kamar pengurus panti ini, wanita itu kondisi kadang baik, tapi kadang buruk, kadang juga campur-campur. Untung bertemu Ajeng dan diingatkan, kalau tidak, dia bisa membuat kondisi bu Tiwi menurun nantinya.
Tok, tok, tok ....
Plak!
Langsung dibuka karena tahu kondisi bu Tiwi yang tak bisa atau kesulitan berjalan meskipun hanya sekadar turun ranjang ke depan pintu.
Hantu, Bukan?
"Bu Tiwi, anu ini aku Lastri!"
__ADS_1
"Ya ampun, ngapain kamu ke sini, udah enak tiduran loh. Ajeng adu ayam lagi?"
Bude Lastri mendekat sambil geleng kepala, mana ada juga adu ayam dini hari, ayamnya yang tidur, persiapan berkokok besok pagi.
Keduanya saling berhadapan, helaan nafas panjang sama-sama dilepaskan, bude Lastri belum berkata apapun, begitu juga bu Tiwi.
"Gini, Tri. Aku kok baru nyadar waktu lihat kamu masuk, inget kalau kita mau begadang buat tirakatan Ajeng, puasa juga. Herannya, kok kita yang puasa?"
Teng,
"Lah, iya. Kok kita yang puasa, Bu Tiwi. Apa iya mau kenalan juga. Kan ya kebalik!"
"Loh, kalau tahu kebalik itu ta harusnya kamu tegur, kok malah didukung, gimana sih, Tri!"
Ajeng cekikikan di depan kamar itu, mereka yang bukan ibunya saja bisa sampai begitu dalam memikirkannya, apalagi kalau yang bersama Ajeng ini ibu kandung sendiri, dijamin bukan hanya diajak puasa sehari, bisa sampai tahunan.
Sesuai perintah, pagi menjelang subuh, Ajeng lahap makan sahur sebelum memulai puasa hari ini.
Satu piring penuh dengan aneka lauk, mie goreng, ikan asin, ikan teri, sambal, kerupuk merah putih, satu gelas teh, satu gelas air putih.
Haaaaik!
"Haaah, hah, haah!"
"Ngapain, Jeng?"
"Lah, kenapa? Udah sahur satu meja kok nggak jadi, kurang?"
Ajeng bergeleng, "Ini masih baru 30 menit setelah aku sahur, udah sikat gigi dan pake penyegar, aku cek bau mulut loh, Bude. Nanti, apa ya nggak kabur mas-masnya, hem?"
Hah!
Bude Lastri jauhkan wajahnya, kibas-kibas depan hidung. "Hemmm ... Suaaampah!"
Huek, huek ...
"Ini namanya ngajak orang mati, Jeng!"
***
Jamal, Aksan, Ganjar.
Ketiganya berdiri di depan Ajeng, semua berwajah tampan, hampir mendekati Hikam, dari senyumnya, Ajeng tahu di masa muda sampai menentukan mau menikah, pria-pria itu bukan orang nakal, pria baik yang sangat menjaga diri, tujuannya pun bertemu langsung menikah.
Lah, masa kalah sama kucing, nego dulu!
__ADS_1
"Akhirnya seneng bisa ketemu sama kamu, Jeng." si Jamal.
Ajeng tersenyum, dia harus elegan, tidak jadi puasa, benar-benar dipaksa batal sama bude Lastri, takut nyiksa anak orang.
"Aku juga seneng bis ketemu kamu." Aksan.
"Apalagi aku, seneng nggak karuan ketemu kamu." Ganjar.
Lagi, Ajeng lebarkan senyumnya, dia lantas berdiri dan melangkah mendekat, mengikis jarak yang ada, dia ingin tahu alasan senang tadi, mata mereka tak akan bohong.
Ajeng berdiri tepat di depan Jamal, tangannya terulur untuk bersalaman.
"Mas Jamal, apa yang buat kamu seneng ketemu aku di sini?"
"Karena kamu manis, manis kayak gula jawa."
Sling,
Gula jawa kan kulitnya, tidak sekalian saja seperti petis.
"Kalau kamu, Mas Aksan?"
Aksan busungkan dadanya, dia mau menjawab tegas dan memikat Ajeng, gadis yang dia dengar dari Hikam bahwa punya segudang prestasi.
Prestasi tawuran.
"Karena aku yakin kamu bisa jadi ibu yang baik buat anak-anakku!"
Biyuh, Ajeng geleng-geleng mendengarnya, dijamin habis nikah, lari ke rumah sakit, belum-belum bahas anak.
"Kalau, Mas Ganjar?"
Ganjar mengulas senyum, "Kalau aku, aku itu percaya aja sama mas Hikam, pilihan dia nggak pernah salah, Jeng."
"Kalau salah?"
"Aku berusaha benerin, Jeng. Kita hidup bersama dan masalah milik bersama."
"Kalau aku ninggal utang banyak?"
"Hah?" Ganjar sontak menunduk, ini masalah dari para petinggi sampai rakyat jelata,masuk dalam lembah hutang.
"Yaudah, kalian boleh kenal aku hari ini, tapi makan dulu, jangan sampe ngadu mas Hikam kalau aku nggak kasih makan!" Ajeng pesankan makanan dan minuman untuk ketiganya.
Huh, dari tiga orang ini, yang masih bisa dia anggap Hikam itu si Ganjar, tapi kalau berbicara sangat lembah lembut, berbeda dari Ajeng.
__ADS_1
Apa aku milih mas Ganjar? Orang kalem gitu, tahu aku banyak ulah, nanti jantungan lagi!