Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Efek Cukuran


__ADS_3

Dua hari sebelum pernikahan itu digelar, walau tak ada acara yang megah atau bagaimana, warga kampung saja sudah lebih dari cukup, mengingat kedua orang tua Arya adalah mantan orang penting.


Mau tidak mau Ajeng menyesuaikan diri dengan keadaan itu, dia nanti akan memakai baju pernikahan terbaik dari pilihan ibu mertuanya, sedangkan Arya memakai jas saja sudah tak ada yang bisa mengalahkan pesonanya.


"Mbak Dewi ngajari aku luluran loh ini, sueneng kulitku bisa mulus, nggak bolotan, sekali senggol bisa mendidih mas Arya, ya kan, Mbak Dewi?!"


"Ahahahahah, iya, pastinya lah, kan aku kasih kamu lulur terbaik, terbukti artis pada pake itu!" balas Dewi.


"Waduh, apa ya kalau aku ke luar dari sini kayak mbak Luna?"


Duar,


Dewi hanya menjawab dengan cengirannya, Luna dari mana coba, mau dilulurin sampai habis kiloan juga tetap tidak akan sama, bedanya langit tumpuk dua.


Luluran sampai cuci rambut dengan produk andalan Dewi, semua dikemas hari ini, tak lupa masukan dari bu Desi, Ajeng pun meminta bantuan Dewi.


"Tisu, Mbak Dewi, sakit semua!"


"Ketiaknya udah?"


Ajeng mengangguk, "Udah, aku kasih ke bawah juga, malah suakit nggak karuan waktu nyabut, Mbak Dewi!"


Lumpia di mulut Dewi sontak terjatuh, cambah-cambah tersembur ke luar, dia lantas berdiri, menarik Ajeng masuk ke kamarnya, lalu dia buka anduk adik iparnya itu.


"Ya ampuuunnnn, Ajeeeeng!" teriak Dewi sampai Hikam dan kedua anaknya yang ada di teras berlarian masuk.


"Nda, ada apa?" tanya Hikam sambil gedor pintu.


Dewi minta Ajeng cepat memakai baju lengkapnya, walau adiknya itu meringis menahan perih, mau tidak mau harus berpenampilan rapi di depan Hikam, apalagi ada dua anak kecil di rumah ini.


"Sakit, Mbak Dewi!"


"Ya, sakit. Kan, aku cuman bilang di tangan atau di ketiak aja, kok malah sama bawahnya, itu kan model lem, coba sekarang kayak semangka belang!" Dewi putar kunci pintu kamarnya, tiga orang sudah menunggu di sana.


Hikam lihat kondisi di dalam kamar, yang dia lihat hanya Ajeng dengan mata berkaca-kaca tengah duduk di depan meja rias Dewi sambil kedua tangannya ada di antara dua paha.


"Kenapa, Nda?"


Dewi tepuk keningnya, dia lantas berdiri, membisikkan fakta mengejutkan pada Hikam.

__ADS_1


Bukannya kasihan, Hikam justru tergelak kencang, wajah sedih dan perih adiknya itu menjadi hiburan malam ini.


Walau tak melihat bagaimana rupanya, Hikam bisa membayangkan, kulit Ajeng itu cenderung coklat, sawo matang, efek cukuran ekstrimnya bisa jadi warna putih kemerahan.


Semangka belang kalau kata Dewi, sampai larut pun Ajeng tak berhenti ditertawakan, dia pun ikut menertawai dirinya sendiri.


"Terus gimana, Mbak Dewi?"


"Apanya?"


"Nggak bisa balik coklat lagi?"


"Ya nggak bisa, tapi nanti pasti balik lagi!" Dewi berikan salep untuk kulit yang lecet. "Ahahahah, udah kamu tidur di sini aja ya, sampe nikah nanti, kamu di sini, bu Tiwi udah setuju!"


Ajeng mengangguk, dia menurut saja, toh di rumah ini adalah keluarga aslinya, dia juga harus beradaptasi dengan tinggal satu rumah bersama Hikam dan Dewi, lama tinggal di panti, jiwa bebasnya harus dikendalikan.


Menjelang pagi, satu pesan masuk dari Arya, kebiasaan Ajeng selepas subuh menyibukkan diri membersihkan kamar dan sekitarnya, karena ini di rumah Hikam, dia sampai bersihkan daun jatuh di pekarangan.


"Jeng, Arya telpon!"


"Eh, iya, Mbak Dewi, sebentar!" dia jalan perlahan, jujur saja terkena kain masih perih dan tidak nyaman, buang air kecil saja seperti tersambar petir dari bawah. "Mana hapenya, Mbak Dewi?"


Satu pesan dan banyak panggilan tak terjawab, pasti demitnya itu marah besar padanya.


"Halo, Mas Ar-"


"Ke mana aja sih, udah nggak bales pesen, ditelpon nggak diangkat!"


"Duh, ngomel gini pagi-pagi nanti pahalamu berkurang loh, sabar ... Ajeng ini lagi dipingit di rumahnya mas Hikam, Mas Arya, kan kemarin udah bilang, kulitku sampe mulus luluran di sini, terus bikin aku mirip mbak Luna!"


"Luna siapa?"


"Yang jelas terkenal, kamu dijamin nggak ngenali aku!"


Arya tersenyum tipis di sana, satu hari lagi mereka akan tinggal bersama, dia akan mengikat Ajeng dalam hubungan yang paling ujung dalam sebuah kehidupan, gadis itu akan menjadi istrinya, yang akan menerima dia apa adanya dan bersamanya dalam suka maupun duka.


"Mas, aku ini lagi sapu depan rumah, kamu siap-siap kerja sana, jangan males!"


"Kan, gue kerja masih nanti, Dear ... lo ke kelurahan hari ini?"

__ADS_1


"Nggak loh, kan aku udah ambil cuti spesial dari pak Kades, lagian aku nggak bisa jalan enak, Mas. Cukuran malah kebablasab loh, sampe lecet semua!"


"Cukuran apa?"


Eh, Ajeng tutup mulutnya, kelepasan kalau sudah bicara, selalu saja tidak ada remnya.


Akhirnya, mau tidak mau dia jelaskan pada Arya akan apa yang terjadi semalam di rumah ini, bukannya kasihan, sama dengan Hikam, Arya tergelak kencang, bahkan sampai batuk-batuk tidak karuan.


Bibir Ajeng dibuat cemberut seperti bibir bawah, sama-sama menahan sakit dan perih, bawah dicukur ekstrim, yang atas ditertawakan terus, namanya baru mencoba dan iseng, jadinya salah semua.


"Dear, satu hari lagi!"


"Iya, Ajeng nggak lupa, di sini semua pada sibuk, bu Tiwi sama bude Lastri siang ke sini, mau bantu mbak Dewi, Mas ... udah ya, kamu terserah mau apa, Ajeng mau bersih-bersih!"


"Love you, Dear ...."


Pipi Ajeng bersemu coklat merah, mirip lolipop, dia raba dan usap berulang kali. Suaranya Arya lebih indah dari sales panci diskonan itu, merasuk ke dalam jiwa, diusir berulang kali, tetap tidak bisa.


Dia simpan ponselnya ke saku celana, berlanjut menyapu pekarangan, banyak daun berjatuhan seperti kepingan hatinya yang berantakan saat Arya mengucap cinta, saking gilanya.


"Jeng, kesambet loh ketawa sendiri!"


"Mas Hikam ini, kamu tahu nggak?"


"Nggak, apa?" Hikam berjalan mendekat, dia tatap adiknya yang malu-malu kucing itu. "Arya ngomong apa sampe kamu malu gitu, hah?"


"Mas Hikam dulu suka bilang lopyu sama mbak Dewi?"


"Jelas, tiap hari aku bilang gitu ke dia, biar nambah cintanya, Arya bilang gitu ke kamu?"


Ajeng mengangguk, ingin rasanya dia cakar-cakar tanah pekarangan rumah ini, dia buat gambar wajah Arya.


"Kamu itu ya, Mas sampe nggak bisa ngomong kalau udah bahas kalian, sabar loh, masih satu hari lagi, bilang ke Arya jangan sampe kabur, kalau ke sini nggak bilang-bilang, aku undur nikahnya!"


"Aaaah, janganlah, Mas Hikam. Ajeng ya pengen!"


"Pengen apa?" Hikam rebut sapunya, yang ditanya langsung tersungkur. "Heh-"


"Hiloooo, anunya masih sakit bekas itu, Mas Hikam, main rebut sapu aja, itu pegangan loh!"

__ADS_1


__ADS_2