Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Datang Bulan


__ADS_3

"Dear, nggak mau bangun, ayo buruan bangun!" Arya percikkan air ke wajah Ajeng. "Keburu sahurnya abis, buruan makan!"


Ajeng buka kelopak matanya yang terasa berat, baru saja dia tidur, sudah disuruh bangun lagi, rasa-rasanya tak ada waktu untuk dia istirahat sama sekali.


Dari mulai telur ayam, jualan, biro konsul, adonan kue lebaran sampai pada melayani suaminya, remuk semua tulang belulang Ajeng.


"Kamu udah minta dua kali loh, jangan lagi, besok lebaran bisa pake kursi roda Ajeng ini!"


"Ahahahahah, nggak bakal begitu, orang lo juga keenakan, merem melek gitu!"


"Mas Arya, minggir!" malas kalau turun dari ranjang sudah dicekal begini, yang ada naik ranjang lagi, suaminya jago tipu dalam urusan perkamaran. "Katanya suruh sahur, aku ya mau mandi dulu, minggir loh!"


Arya membungkuk, mendekatkan pipinya pada Ajeng, mau dicium dulu baru mau melepaskan istrinya yang super duper menggemaskan dari semua kalangan wanita.


Cup!


"Udah, sana!"


"Bibirnya iri, Dear."


"Lah, kalau sama itu, bisa ngulang yang tadi, udah ya ... kamu kok doyan sih?" mengerutkan keningnya heran.


Arya tersenyum miring sambil berbisik. "Lo kayak makanan lezat!"


Plak!


Dipukul bukannya menjauh, justru sebaliknya, yang belum mandi dan cuman pakai baju asal-asalan dicium habis oleh Arya, kalau bisa, Ajeng berikan bibirnya saja, lalu dia kabur, sayang tidak bisa.


"Udah ya, kamu ini memang kok!" lari ke kamar mandi, untung ada di satu ruangan.


"Nanti lagi ya, Dear. Masih belum puas gue," balas Arya.


"Apanya?!" berteriak dari balik pintu.


"Ciumannya!"


"EDAN!"


Arya tergelak kencang, apapun yang Ajeng katakan nyatanya tak pernah membuat dia sakit hati, dia tahu memang begitu gaya bicara Ajeng sejak dulu, walau ceplas-ceplos, tapi hatinya tulus dan baik, terkadang justru cenderung polos.


Di lantai bawah sudah sama-sama menunggu, bu Ratih sudah hafal kalau menantunya telat turun itu pasti ulah Arya, pasti semalam Ajeng tidak mendapatkan jatah tidur yang cukup sampai molor begini, belum lagi kalau waktu ke luar, bajunya ganti dari semalam, terus rambutnya setengah basah.


Bu Ratih dan pak Darma ingin memukul senjata Arya saja, tidak ada waktu libur untuk Ajeng, maunya dilahap sendiri.


"Aku kayaknya nggak puasa, Mas."


"Kenapa?" Arya setengah melotot mendengarnya, takut-takut bagaimana, palang merah bisa gila dia. "Dear, kenapa?"

__ADS_1


Ajeng cengar-cengir. "Ada flek tadi, kayaknya nanti ya bakal brojol bulanannya, ini udah nggak enak semua punggung sama perut, hutang diawal sama akhir Ajeng jadinya," jelasnya.


Seketika paham ayam krispi di tangan Arya terjatuh, membuat kedua orang tuanya terkejut, berhenti makan semua.


"Dear, nggak bener kan itu?"


"Loh, kok nggak bener itu gimana sih, kan ya normal kalau Ajeng datang bulan!"


"Jangan dong!"


"Loh, Mas, kamu ini kok lucu!"


Arya bersihkan tangannya, dia ajak Ajeng ke sudut ruangan bawah itu, menakup wajah Ajeng untuk meyakinkan sekali lagi.


Jawaban tetap sama, Ajeng menjelaskan kalau waktu datang bulannya memang sesuai prediksi, sejak kemarin sudah tidak nyaman dan ini baru terlihat tanda jelasnya.


"Terus gue gimana dong, Dear. Jangan, ah!"


"Mas Arya itu kenapa, kok kayak orang nggak waras, ini bukti kalau Ajeng itu masih normal bisa datang bulan, kalau udah nggak, ya jelas Ajeng nggak normal, kan katanya pengen punya anak nanti kalau udah operasi, iya kan?"


Arya raup wajahnya. "Ya, iya. Gue emang pengen punya anak, Dear. Tapi, nggak bisa apa ditunda besok waktu gue udah berangkat operasi, kan gue masih pengen gitu, malemnya gimana kalau lo nggak bisa?"


Ya ampun, soal itu, baru paham Ajeng, dia kira suaminya itu gelisah dan emosi kenapa, ternyata masalah tidak bisa mencoblos karena dia datang bulan.


Ajeng berjinjit menggapai bahu dan telinga suaminya, dia pun berbisik, wajah gusar dan mendung Arya sontak berubah.


"Yakin nggak yakin, tapi kalau Mas Arya pengen gimana, sementara juga, hem?"


Tidak, mungkin Arya akan tega dulu berbuat begitu dengan para biduan, memuja senjatanya yang tegak menjulang, dia tak mungkin memperlakukan Ajeng sama seperti itu.


Selepas sahur, mereka kembali naik ke kamar sambil menunggu waktu subuh. Tak ada hal lain yang mereka lakukan, kecuali saling memeluk dan Arya menghabisi bibir Ajeng berulang kali.


"Nggak, Dear. Emang bener bisa gitu, lo nggak salah baca, tapi nggak tega gue kayak gitu ke lo, lainnya aja!"


"Lainnya yang mana?"


Arya lirik tangan Ajeng, itu lebih baik daripada membiarkan Ajeng berlutut di depannya, hatinya tidak sampai memperlakukab Ajeng seperti itu.


"Yaudah, sini ajarin!" mode kalem Ajeng mendekat pada suaminya, sesekali dia akan manis seperti ini, daripada tangannya salah metode, bisa gentayangan nanti Arya. "Loh, lucunya udah bangun dia, ahahahah, gemeeesss!"


"Ssstt, jangan gitu, salah nanti sakit loh!" Arya sembunyikan sedikit.


"Nggak, kan nanti kamu kasih tahu, gimana, Mas?"


Baru Arya buka sepenuhnya, dia sedikit miring karena tak mau pasrah begitu saja, kalau Ajeng bekerja dengan tangannya, dia bisa dengan mulut, kancing-kancing Ajeng pun terlepas.


"Maaas, kamu berhenti dulu, kan jadi nggak fokus aku ini!" susah kalau Arya juga mendominasi.

__ADS_1


"Kenceng biasa aja, Dear. Jangan kenceng banget, sakit jadinya ..."


"Ya kan itu karena kamu bikin geli, makanya diem dulu!"


Oh tidak, Arya pejamkan matanya saat tangan Ajeng mulai bisa dia lepaskan, menguyel bagian menyembul itu, sembari menikmati pola yang Ajeng buat.


"Pengen masuk, Dear!"


"Nggak bisa, kan ada palangnya, ini aja dilepasin!"


Arya sembunyikan wajahnya ke dua bukit menantang di depannya itu, erangan demi erangan terdengar jelas, tubuhnya tersengat hebat, dia tak pernah merasakan yang sehebat ini selain dari Ajeng, meledak tidak karuan.


Tiba percikan cinta itu ke luar, Ajeng sedikit jauhkan tangannya, bukan menghindar yang bagaimana, dia justru menjauh untuk menampung.


"Nggak jijik?" tanya Arya dengan nafas kejar-kejaran.


"Bisa dicuci, cuman kalau nyuci sperei ya lebih ribet. Udah enakan?"


Arya mengangguk, pelajaran kali ini ternyata mudah dia latih pada istrinya, dia yang dibuat lemas, sedang Ajeng masih kuat menikmati kram perutnya.


"Kamu ke masjid atau di rumah?"


"Di rumah aja, udah telat, beneran datang bulan?"


"Iya, Mas. Udah pake pembalut ini."


Arya tersenyum kecut, rencana menikmati lebaran di dalam kamar selepas berkeliling, yang ada istrinya akan seharian di kandang ayam, bebas tak bisa disentuh.


"Dear, maaf ya."


"Maaf buat apa? Habis sholat kok minta maaf, belum lebaran loh ini!"


"Maaf udah maksa tadi pake itu-" melirik tangan. "-Maaf ya."


"Nggak apa, kalau sama Ajeng ya nggak apa, kalau sama biduan ya Ajeng remet nggak ada ampun!"


"Boleh cium nggak?"


"Heh, ya nggak boleh, kamu itu puasa, sana jauh-jauh!" usir Ajeng sambil mengibaskan satu tangannya.


Cup!


"Mas Arya!" bibir tidak, pipi kena.


****


Bucil nunggu hilal, sama pelukan ini Mas Arya.

__ADS_1


__ADS_2