Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Awas-Awas


__ADS_3

"Ajeng nggak mau terima oleh-oleh dari kamu, dia kembalikan ke Mama, Arya. Dia ke rumah tadi sama temen cowoknya, anak kelurahan baru kayaknya, ganteng, wajahnya kelihatan orang baik, mirip siapa itu yang tenar ... si Hikam!" bu Ratih ke Arya.


"Jeng, di sana Arya emang belajar sekaligus kerja, mulai dia menekuni usaha papanya, sengaja dinonaktifkan hapenya Arya, dia di sana ada janji sama cewek baru, si Ellin namanya, teman masa kecil yang nggak tahunya jodoh, Jeng. Doakan Arya berubah jadi baik terus lancar sampe nikah sama Ellin ya." bu Ratih ke Ajeng.


Kedua orang di tempat berbeda itu sama-sama berwajah pias, Arya hampir mengikat kakinya agar tak kembali dan mengoceh di depan Ajeng, sedang Ajeng dengan semua kesalnya, dia tidak akan pernah mau menanggapi Arya lagi, ungkapan itu hanya omong kosong seperti pendapatnya, tak ada yang serius ke luar dari mulut Arya, aktingnya sangat bagus hingga Ajeng gundah gulana selama satu bulan ini.


Plung!


"Awas aja kalau dia ke sini, aku nggak akan pernah mau ketemu sama dia, mau akting apa aja, nggak akan aku ladeni, biar aja, orang kok mulutnya beneran sampah semua!" gerutu Ajeng, tepian sungai selalu menjadi tempat ternyamannya setelah kandang ayam.


"Awas kalau gue balik ke sana lo udah nikah, gue tarik, gue minta lo pisah detik itu juga. Biarin, atau kalau nggak, gue akan bikin lo ngemis perhatian ke gue, awas lo, ayam jago!" gerutu Arya di tempat yang berbeda dan jauh.


NGGAK PEDULI!


Keduanya kompak mengatakan hal itu, Ajeng kembali ke panti, keranjang sepedanya penuh dengan sembako yang tadi bu Ratih berikan, bahkan ada amplop berisikan uang, entah nominalnya berapa, semua orang dapat di sini, mereka meminta doa untuk kelancaran proses Arya belajar dan bisa kembali melanjutkan usaha pak Darma.


Kring, kring ....


Bu Tiwi bergegas ke depan, hampir oleng Ajeng membawa sepeda penuh itu, bude Lastri ikut menyambut.


Ada minyak goreng, tepung, kopi, teh, gula, garam, susu, beras 5kg dan itu Ajeng dapat dua bagian, penuh sampai susah membawanya.


"Dari mana ini, Jeng?"


"Oleh-oleh dari luar negeri, bu Ratih sama pak Darma baru pulang nganter mas Arya ke luar negeri, ini oleh-olehnya," jawab Ajeng, dia turunkan satu per satu.


"Kan, ini produk asli sini, oleh-oleh apa sih!?" bude Lastri si pengamat produk komentar. "Masa iya di luar negeri jual gula dibungkus plastik es, lah apa nggak kenak denda kalau naik pesawat bawa gula karungan, beras juga minyak kartonan. Mas Arya buka toko sembako di sana, Jeng?"


"Nggak tahu, iya mungkin." Ajeng acuh.

__ADS_1


"Walah, jual sembako aja sampe ke luar negeri, apa takut di sini banyak yang nge-bon kali ya, ahahahahahahah ...."


Bodoh amat, Ajeng hanya memasukkan satu per satu barang bawaannya, raut wajah yang membuat bu Tiwi merasa curiga, tak biasanya Ajeng lemas tak bertenaga, terlebih lagi membahas Arya dan keanehan oleh-olehnya ini.


"Bu Tiwi, apa ya mas Arya itu masuk tahanan lagi, terus kayak kabar berita gitu, bilang ke tetangga kalau lagi belajar, hem?" kompor meleduk dimulai.


"Kasus apa? Bukannya sama Ajeng itu dia udah baikan, maksudnya udah membaik, Tri?" bu Tiwi mulai terpancing.


"Kan, bisa jadi aja, Bu. Sekarang itu orang akting pinter, mau bilang apa aja serba bisa, apalagi di kampung, tinggal bagi sembako atau uang, buat bungkam mulutnya, ya kan-" banyak lagi yang dia bahas, sedang bu Tiwi juga terus menimpali, berbeda dari Ajeng, dia duduk di depan meja rias sekaligus belajar lamanya itu, diam tanpa suara.


***


Gila, benar-benar gila.


Bu Desi berlarian, dia lepas sepatu tingginya, menyambar banyak pegawai sampai ke ruangan Hikam, terakhir dia jatuh di sana, di depan kaki Hikam.


"Mas Hikam-"


"Nggak, ini penting Mas Hikam, demi kehidupan orang banyak di kampung kita!"


"Emangnya ada apa, Bu Desi?"


"Mas Hikaaaaaaam!" Mira ikut berlarian ke ruangan Hikam, rambutnya terbang-terbang dan rok hitam itu terangkat sampai atas lutut, sudah banyak yang dibuat pingsan dan gemetar gara-gara kulit mulus Mira.


"Apa, ini ada apa?!"


Kedua wanita itu menarik tangan Hikam menuju ruangan paling depan, setidaknya Hikam bisa menilai dan menjelaskan pada semua orang yang ada di sini akan hadirnya artis ibu kota yang memakai seragam milik Ajeng, bahkan duduk di kursi kerja Ajeng.


Biro konsul itu sengaja ditutup, penjaga depan tak mau membukanya sebelum semua jelas dan tahu itu siapa, Ajeng atau bukan.

__ADS_1


Brak!


"Ini jadi bulan-bulanan orang satu kantor!" tunjuk Mira dan bu Desi.


Hikam lebarkan matanya, di depan sana, di kursi kerajaan Ajeng, tampak jelas seorang gadis dengan tampilan yang berbeda, bisa Hikam bilang cantik, bukan Ajeng yang biasanya itu meskipun kulitnya memang khas.


Pandangan Hikam mengedar, dia bisa mengenali Ajeng dengan baik, tidak lain dari tanda lahir yang ada di sisi kiri leher belakang Ajeng, Hikam mendekat dan putar paksa kursi Ajeng, sudah seperti mau beradu cinta saja, tapi ini bukan.


Hikam angkat rambut Ajeng, "Jeng," panggilnya. Dia tersenyum, tanda lahir itu sama, tak ada yang berubah, ini Ajeng yang biasanya di sini, yang terkenal adu ayam. "Ikut ke ruangan aku!" titahnya.


Ajeng mengangguk, dia lambaikan tangannya pada para fans yanh terhormat. Kalau tahu akan disambut seperti ini, dia pastikan semalam membuat surat isian pidato, setidaknya dia tidak kikuk di depan fans, ini baru permulaan, dia akan semakin wow nanti.


Hikam tutup rapat ruangannya, meminta Ajeng duduk, sudah lama sekali mereka tak berbicara berdua.


"Siapa yang ajarin kamu danda kayak gini?"


"Nggak ada, Ajeng lihat tutorial online, sama kemarin sebelum mas Hikam pulang itu, aku ke mbak Dewi, tanya-tanya. Jeleknya, Mas?"


Hikam gelengkan kepalanya, dia berikan dua ibu jari tangan untuk Ajeng.


"Eheheheeh, kalau gini kan aku udah selevel sama mbak Dewi, Mas. Hmmm, aku mau tebar pesona ke-"


"Heh, waktu kerja digunakan yang baik, jangan bikin pak Kades kerepotan, kita harus amanah. Soal jodoh, kalau kamu udah berubah jadi baik, pasti bakal segera ada, belajar terus dari Dewi ya!"


Ajeng mengangguk.


"Kamu nggak grogi?"


"Nggaklah, Mas. Aku udah biasa jadi pusat perhatian, di adu ayam aja itu aku yang nyorakin banyak, loh siapa yang nggak kenal aku, ahahahah." Dia bekap mulutnya, teringat lagi. "Mas Hikam kenapa tadi lihat leherku, dibilangin bu Tiwi kalau aku punya tanda lahir di sini?"

__ADS_1


Eh, tidak.


Tapi, Hikam mengangguk, anggap saja begitu.


__ADS_2