Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Buka Bersama


__ADS_3

"Kurang setengah jam kok udah hausnya kebangetan sih, kang pentol mana lagi, kan ya pengen itu makan pentol buat takjil!" Ajeng susuri jalanan dekat gubuk dan sekolah, biasanya ada di sana.


Pandangannya sedikit kabur, Ajeng putuskan duduk dulu di depan pagar sekolah, ada banyak makanan yang ditawarkan di sana, aneka es juga menggoda, tapi inginnya cuman satu, pentol campur saos kacang.


Tin!


Ajeng mendongak, terlewat lemas sampai dia duduk saja tubuhnya melengkung, tapi masih ngeyel mencari pentol.


Wajah Arya muncul dari dalam mobil itu, tersenyum menggoda seperti biasa, menepikan mobil mininya itu.


"Kok ya ketemu dia terus sih aku ini, sekali-kali aku nggak ketemu gitu loh, apa ya dia itu nggak punya pandangan jalur pintas lain?!" gumam Ajeng menggerutu sebal.


Dor!


"Eh, Mas Arya ... berburu takjil ya?" tegurnya cengar-cengir.


"Nggak, ngeburu lo tapi, gue cari di panti nggak ada, padahal udah jam pulang kerja, kelayapan aja, gue khawatir!"


"Walah, kuatir kenapa, Ajeng di desa ini udah apal, Mas Arya ... kalau aku sampe tersesat itu ya bakal diketawain daun-daun kering itu loh, ayamku aja apal jalanan sini!" jelas Ajeng, dia mau bebas ini loh, bukan dikintilin Arya terus.


Tapi, kalau tidak ada ya dia kesepian, bingung.


Arya berjalan ke mobilnya sebentar, dia ambil sesuatu dan dia berikan pada Ajeng, masih dengan senyum yang sama, dia mau Ajeng menerimanya dan sumringah.


"Buat Ajeng ini?"


"Iyalah, buat siapa lagi orang gue di sini sama lo, pake kalau kerja, gue mau kasih itu dari jaman mama pulang dari luar negeri, tapi ya ada secuil masalah waktu itu, sekarang lo bisa pake!"


"Tapi, apa nggak kebagusan buat aku, Mas?"


Arya bergeleng, "Pantes dan pas, gue yang pilihin, calon suami kan nggak bakal salah kalau milih!"


"Ish, kamu ini, dari kemarin kok calon-calon terus!" Ajeng tepuk lengan Arya, dia suka baju itu. "Bagus ini, Mas Arya. Duuuhhh, bisa rame satu kelurahan lihat aku pake ini loh, dikira nanti aku ngerampok loh, Mas Arya!"


Arya usak rambut Ajeng, membuat gadis itu mendongak dan menahan keterkejutannya, mungkin Hikam biasa bertingkah seperti itu padanya dan anak panti lainnya, tapi demit ini kan bukan sukarelawan panti.


"Iya, nanti aku pake kerja!"


"Gitu dong, kan gue seneng dengernya."


"Mas Arya, boleh apa Ajeng tanya sama kamu, pengennya sih kamu jawab, tapi kalau kamu keberatan ya nggak apa, diem aja-"


"Gue dengerin, sekarang!" potong Arya memerintah, dia duduk di boncengan sepeda Ajeng. Satu tangan Arya menyanggah dagunya, membuat Ajeng harus mengalihkan dan memutar bola matanya bila mau berbicara lancar. "Apaan?"

__ADS_1


"Anu, itu ... kamu pernah pacaran nggak? Kalau pernah, dia sejelek apa sampe kamu mau sama Ajeng?"


Puurrfftttt!!


Arya tergelak kencang sambil memegangi perutnya, Ajeng yang tadinya malu dan ragu sontak menjitak kepala Arya, dia lagi serius ini.


"Lebih buruk dari lo, gue nggak ngomong fisik ya, emang gue nggak lihat fisik, lo tahu model biduan, ya gitu-gitu aja badannya, yang gue butuhin cuman puas doang, jadi ... pacar gue dulu ya gue nggak mandang fisik, cuman dia lebih buruk dari lo, kita sama-sama ada di kegelapan!" ungkap Arya. "Udah lama banget kali, udah lupa gue wajahnya gimana, nggak mau inget juga."


Arya pandangi wajah bingung Ajeng, dia jentikkan jemarinya hingga Ajeng fokus.


"Jeng," panggilnya.


"Iya?" ditembak, bingung ini jawab apa.


"Iya, gue nggak akan setara sama Hikam, gue tahu itu, tapi gue jamin nggak akan ninggalin lo, bebas lo mau motong burung kocok gue kalau emang gue nakal lagi, but ... gue jamin nggak lagi!" ujar Arya penuh kesungguhan.


Kan, gemetar Ajeng kalau Arya mulai berbicara serius, biasanya cuman kebulin asap rokok, terus bahas biduan sana-sini.


Begitu adzan maghrib terdengar, Arya ajak. Ajeng duduk di dekat mobilnya, sepeda Ajeng pun bersandar di sana.


"Nggak takut catnya ilang, Mas Arya?"


"Bisa dicat ulang, ngapain repot!"


"Nggak masalah itu, kalau mau mobil aman ya di rumah aja, dipake ya pasti ada cacatnya, ya nggak?" Arya berikan es kopyor yang tadi dia beli. "Enak?"


Ajeng mengangguk, dia sruput sampai habis, ini benar-benar dia seperti anak kecil yang lagi dimanjakan orang tuanya.


Tak cukup hanya itu, ternyata Arya mendapatkan pentol yang tadi Ajeng idamkan, dia bertemu lebih dulu, dan ternyata memang habis di tengah jalan, ramai orang beli pentol.


"Loh, ini sholatnya di mana, kok malah aku buka sama kamu di sini sih, Mas Arya!" berdiri, garuk-garuk kepala.


"Heh, kita baru buka nggak ada sepuluh menit, dari sini balik ke panti nggak sampe lima menit, masih bisa sholatnya. Gue ikutin dari belakang, ayo!"


Pipi Ajeng merona, dia menoleh lagi pada Arya.


"Apaan sih?!" Arya dorong bahu Ajeng, bisa-bisanya salah tingkah. "Udah, sana!"


"Mas Arya kenapa ikutin aku, loh aku belum pasti nerima kamu kok?!"


"Makanya gue ikutin, biar lo nggak bisa nolak!" jawab Arya bak ledakan atom di jiwa Ajeng, dia kemudikan mobilnya mengikuti Ajeng dengan senyuman yang tak pernah pudar tujuh turunan.


Sesampainya di panti, bukan Arya yang mengimami sholat itu, melainkan dia tunjuk anak panti yang memang pantas, dia merasa tidak layak di sana.

__ADS_1


Menu buka ditambah lagi sebelum tarawih, sekarang makanan berat, tapi begitu melihat Ajeng hanya menambah kurma, Arya tepikan nasinya, dia ikut mengambil kurma ganjil Ajeng.


"Hilo, kamu jadi ngurangin jatahnya Ajeng loh!"


Arya berkedip genit, "Kan kita satu, gue makan, sama aja kayak lo makan, ya kan?"


"Cieee, Mbak Ajeng dirayu Mas Arya, cieee ...."


Bu Tiwi dan bude Lastri siap menjadi tim peliput, sedang tadi memicing terus, mulai dari Arya di seberang sana sampai Arya duduk di samping Ajeng berebut kurma ganjil.


Plak!


"Jangan gitu, Mas Arya. Dilihatin anak-anak, ya aku malu!"


Arya terkekeh, "Makanya, nikah dong, biar punya tempat sembunyi!" balasnya berbisik.


Auh!


Ajeng tarik telinga Arya sampai kepala Arya sengaja pria itu jatuhkan ke lipatan kaki Ajeng, dia tahan, tidak mau pindah. Mau Ajeng ngomel model apa, dia tetap berbaring di sana.


"Terima dong, Mbak Ajeng, kasihan Mas Aryanya itu!" seru anak panti.


Wajah Ajeng semakin terbakar karena malu, bukan coklat lagi, muateng sudah. Ahahahahha.


Arya menutup telinga, dia pejamkan matanya, melukis senyum tipis, sementara Ajeng blingsatan, Arya tidak mau pindah sebelum dia jawab.


"Jeng, sama Arya, nanti lebaran haji bisa sembelih dua kali lipat ayam jagomu!" kompor dari bude Lastri.


"Derajat ayammu dijunjung tinggi sama Arya!" timpal bu Tiwi.


"Tapi, Ajeng mau yang model mas Hikam!" keukeh Ajeng.


"Ya, Arya itu potong-potong aja kalau nggak berubah jadi baik kayak Hikam!" sahut bude Lastri.


Ajeng menunduk, yaiya dia tahu wajah Arya 11 12 sama wajah Hikam, tapi nakalnya ini loh.


Plak!


"Aduh, sakit, beg- ... Dear!" Arya ubah panggilannya.


Ajeng melotot, "Biduan mana lagi namanya Dir, hah? Baru mau Ajeng jawab, udah main sebut nama biduan, hiloooo kamu ragu sama koleksi pisau ayamku, Mas Arya?" geregetan.


Arya sontak terbangun, kedua tangan menutup celah paha.

__ADS_1


"Dear, bukan Dir ... itu artinya Sayang, Jeng!" jelas Arya dengan kedua tangan senantiasa melindungi senjatanya.


__ADS_2