
Arya tepuk bahu kanan Ajeng, dia menunjuk pedagang sosis goreng yang ada di dekat pos masuk kampung.
"Mau jajan ini, tapi Ajeng nggak bawa uang loh, cuman bawa uang kaleng aja tadi, Mas Arya!" takut disuruh bayarin anak orang.
"Gue bawa uang lah, nih!" Arya tunjukkan beberapa lembar uang ada di sakunya. "Kang, tiap macem dua-dua, bungkus bagi dua!"
Kang sosis mengangguk, aneka jajanan frozen yang digoreng dan diberi saus pedas, rejeki Ajeng di malam hari, bisa jajan tanpa mikir pakan ayam yang habis.
Dia duduk di samping Arya, pos kampung sudah dibangun bagus, ada terasnya, lumayan buat pedagang kaki lima yang keliling bisa istirahat.
"Anak berapa di rumah, Kang?"
"Ada dua, Mas. Pasti udah nungguin ini kenaoa belum pulang-pulang, ehehe."
"Lah, kenapa, harus habis?" balas Arya.
"Nggak sih, Mas. Cuman, tadi harusnya ada lebih lima belas ribu, eh bannya bocor, jadi harus dihabiskan biar bisa bawa pulang utuh lima belasnya," jelas kang sosis.
Ajeng mematung, tahu begitu mulai besok dia bawa uang lebih, siapa tahu ada yang butuh. Tapi, demit disebelahnya ini justru tanpa menghitung uang yang ada di saku lainnya, dia berikan saja sambil mengebulkan asap rokok.
"Beneran ini, Mas?"
Arya mengangguk, "Syukuran gue dapet cewek!"
Hush!
Ajeng mendelik, dia cubit lengan Arya sampai mengaduh kesakitan, bisa-bisanya membuat alasan yang sama sekali tidak benar, dia kan belum menerima Arya, masih ragu Arya bakal melirik biduan lagi.
__ADS_1
Prioritas pandangannya masih pada Hikam, dia juga belum mendengar Hikam setuju pada Arya, dia yakin Hikam tetap kesal pada Arya seperti waktu itu sampai pukul-pukulan.
Dua bungkus aneka sosis dan saus pedas akhirnya mengenyangkan perut keduanya, tinggal mencari minum di sekitar sini yang nyatanya jauh, tujuan utama lebih pada rumah Arya dibandingkan panti Ajeng, mau tidak mau Ajeng melepaskan dahaganya di rumah Arya, di depan Juna dan Rian yang semakin dibuat melongo akan perhatian Arya pada Ajeng.
"Gue berani sumpah kalau Ajejeng itu masih perawan, nggak mungkin tuh tukang jebol gawang bisa tunduk kalau Ajejeng udah kayak jalan tol!" ujar Rian bersuara pelan.
Juna setuju, "Nggak pernah gue lihat dia sampe mau ngaji segala, boro-boro mau ngaji, masuk masjid aja kakinya kesemutan!"
"Ahahahahah, rese lo!" Rian tepuk bahu Juna, mereka tergelak bersama.
Sorot mata Arya tampak berbeda dari biasanya, melihat Ajeng yang begitu bar-bar, nyatanya di mata Arya, Ajeng seperti anggota kerajaan yang jalannya pelan-pelan, setiap yang Ajeng lakukan selalu menarik perhatiannya.
"Udah, aku udah nggak haus lagi, kenyang juga kena sosis tadi, makasi ya ... aku pulang sekarang, salam sama bu Ratih dan pak Darma, terus itu buat dua temen kamu!"
"Ngapain sama mereka, nggak pake!"
Arya tahan boncengan itu, dia kembali duduk, memandang Ajeng cukup lama dengan sorot mata yang entahlah, hanya Arya yang tahu, Ajeng rasa jantungnya ya tidak bisa dikondisikan.
"Gue mau nikahin lo," ujarnya.
Ajeng lepas sepedanya, untung ada Arya yang duduk, jadi tidak jatuh bersama mukenah dan botol minumnya itu.
"Gue serius, bisa kita nikah sebelum lebaran?" jelas Arya.
"Loh, bentar ini, Mas Arya. Kok kamu bahas nikah-nikah, kamu mau nikahin Ajeng, tapi ... tapi, Ajeng nggak minta kamu nikanin itu!"
Heuh, dor, dor, dor, duar!
__ADS_1
Arya sontak berdiri, dia raup wajahnya, berbalik dan meninggalkan Ajeng, kedua tangan dan kakinya menendang udara, apa saja yang ada di depannya.
***
Meja bundar isi orang tiga, ada Ajeng, bu Desi dan Hikam, tentunya tiga orang ini tengah berembuk masalah yang semalam Ajeng hadapi bersama Arya, walau puasa, tetap mereka harus profesional.
Bu Desi berpikir keras, menerjemahkan apa yang Arya katakan pada Ajeng, sedangkan Hikam lebih pada setuju atau tidak, setelah ini dia harus membuka siapa dia sebenarnya pada Ajeng, baru melaju pada posisinya sebagai wali, entah itu Ajeng menikah sama Arya atau siapa saja.
"Ajeng itu pake ini dan itu, belajar ini dan itu, tu tutup telinga sama ocehan orang-orang, apapun lah itu, semua karena Ajeng pengen dapat suami kayak Mas Hikam, jadiin Mas Hikam itu semangatnya Ajeng, kalau nggak ada Mas Hikam waktu itu, Ajeng nggak bakal berdiri tegak, terkenal di adu ayam, berani ke sana-sini, Ajeng orang yang minder ke mana-mana, malu, ngerasa nggak pantes, nggak punya harga diri, Ajeng jadi gimana gitu waktu mas Arya bilang begitu, Mas Hikam, Bu Desi!" ungkapnya.
Ya, Hikam tahu itu, mencari Ajeng bukanlah hal yang mudah, dia sampai pindah dari satu desa ke desa lainnya, hingga dia temukan yang namanya Serena Ajeng Puspita ini.
Gadis berkulit sawo matang yang kerjaannya cuman seputar panti dan sungai, tidak ada yang mau berteman dengan Ajeng, melihat Ajeng sebagai aib pertama di desa ini, panti itu belum ada, kehadiran Ajeng awalnya ditolak warga, tapi bu Tiwi berusaha keras melindungi bayi Ajeng kala itu.
Hati kecilnya masih menyimpan rasa takut hingga Hikam datang menawarkan kebaikan, memberi kedudukan yang layak, menjadi titik simpati Ajeng, perlahan dia mulai bangkit, tutup telinga, sejak saat itu pandangan Ajeng hanya Hikam dan Hikam, dia mau punya suami seperti Hikam, supaya tidak ada orang yang bernasib sama dengannya, menjadi pasangan yang senang berbagi dan tak merendahkan orang lain.
"Mas Hikam mau aku coba sama dia?" Ajeng cemberut. "Kan, Mas Hikam waktu itu nggak suka sama dia, kalau dia main sama biduan lagi?"
"Ajeng kan tahu caranya supaya Arya nggak main lagi, selama ini, nggak ada biro konsul, nggak ada yang bisa nangani Arya, baru kamu sampe dia minta ampun. Kayak aku, kamu bisa jadi motivatornya Arya," jelas Hikam, dia percaya pada Ajeng dan semua kemampuan gadis ini.
Ajeng menoleh pada bu Desi, "Kalau Bu Desi, apa nggak punya saran lain?"
"Gini loh, aku itu menganut kata orang lama, secara nggak langsung Arya itu ngelamar kamu semalem, nolak lamaran pertama itu bisa bikin kamu jadi perawan tua loh, Jeng!" pungkas bu Desi.
"Walah, Bu Desi. Ajeng ini sampe mau 30 tahun, nggak nolak siapa-siapa ya nggak nikah-nikah, tetep jadi perawan tua loh!"
Eh, eh, eh, bu Desi tepuk-tepuk dadanya, Hikam teguk hingga tandas air minumnya.
__ADS_1