
Dua lembar uang berwarna merah berjajar di depan Ajeng, endak Arya tambah lagi kalau Ajeng masih menolak keinginannya.
Berulang kali Ajeng melebarkan matanya, banyak ayam dan ternak lain yang dia janjikan membeli juga memperbaiki kandang, belum lagi kalau ada hari libur, kan dia bisa kembali beradu selama Hikam tak melarangnya.
Larangan Hikam itu yang pasti.
"Kencan sama kamu tiap minggu, buat apa?" melongo, ingin segera mengambil uang harum itu, tapi dia tahan, harus jual mahal. "Mas Arya disuruh bawa temen kencan waktu kumpul keluarga, begitu?"
Arya mengangguk, dia butuh yang mau dan kebetulan Ajeng ini sudah dikenal kedua orang tuanya, lagipula tak akan ada yang heran bila dia bersama Ajeng.
Anggap saja Ajeng tak bisa menemukan jodoh dan mau tidak mau ya berjodoh dengan pria nakal sepertinya.
"Gimana, lo mau? Nyokap gue udah cocok sama lo, entar gue tambahin lagi kalau lo mau dan sukses acaranya!"
Waduh, air liur sudah mau menetes kalau masalah uang ditambah-tambahi begini, Ajemg tepuk kedua pipinya, dia harus sadar dan tidak murahan, ayam saja kalau diadu dapat uang banyak, masa iya dia cuman lembaran begini.
Ajeng masih menimang, melirik Arya sekaligus uang itu, bergantian dia timang-timang, mana yang harus dia utamakan, nama baiknya di kelurahan ini, terutama pada pak Kades atau demit dan uangnya di depan mata.
"Bentar, aku nggak bisa mutusin sendiri, aku mau tanya mas Hikam. Mas Arya harus tahu kalau aku kerja di sini ya karena mas Hikam jaminannya, jadi aku nggak bisa nyoreng namanya yang udah bagus itu, kalau mas Hikam sakit hati, aku lebih sakit, hatiku ada sosoknya!" tegas Ajeng, dia tak menunggu persetujuan Arya, bergegas berdiri dan endak masuk kembali bekerja.
Namun, Arya tak kurang ide, dia tahan dan cekal tangan Ajeng, dia balik dan putar hingga Ajeng berhadapan dengannya. Dia butuh Ajeng, kedua orang tuanya sudah mengatakan pada semua orang akan keberadaan Ajeng.
Satu lagi, dia tidak mau sampai dipaksa menikah dengan gadis desa yang cantik dan merepotkan.
"Maa Arya jangan peluk Ajeng di sini, napsuan banget jadi orang!" pipinya merah seperti tomat.
Heh!
Arya dorong sedikit tubuh Ajeng, "Lo kalau kepedean diukur dulu, nggak kira-kira banget!"
"Weh, lah kalau ditarik kayak gitu, ditv-tv ya langsung dipeluk sama cowoknya, lupa Ajeng kalau yang narik tangan itu demit, sana!" Ajemg kibaskan tangannya, dia berlalu meninggalkan Arya, lama-lama sama Arya, bisa hilang nanti pesona Hikam.
__ADS_1
Tidak, Hikam akan selalu menjadi favoritnya.
Arya usak rambutnya, dengan cara apa dia harus mengajak Ajeng akhir pekan ini, intinya Ajeng harus ikut dengannya, bahkan dia akan membelikan banyak baju untuk gadis itu, ke salon agar setidaknya Ajeng lebih cling, tidak dandan asal seperti ini.
Lembaran uang itu Arya punguti kembali, nanti malam akan dia temui Ajeng kembali, atau besok, atau besoknya lagi sampai Ajeng mau menerimanya ikut ke pertemuan keluarga.
"Lo?" Arya tersentak kaget, di belakangnya berdiri Hikam dengan wajah tidak suka. "Bukannya Ajeng mau ketemu sama lo-"
Bug!
Hikam tak bisa menahan emosinya, dia layangkan satu pukulan ke wajah Arya, mendengar Ajeng dibawa Arya ke sawah, lalu endak dijebak dan harus mengantarkan Arya ke rumah berboncengan tengah malam, tidak bisa dia toleransi lagi.
"Brengsek, mau lo apa?" Arya bangkit sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Itu hukuman buat cowok buaya kayak lo, tahu Ajeng cuman cewek desa yang bisa lo bohongi, seenaknya aja mau jebak Ajeng, kalau sampe terjadi sesuatu sama dia, gue nggak akan segan-segan bikin lo mati, sekalian keluarga lo malu seumur hidup!" Hikam bersumpah, dia juga pernah tinggal di kota besar itu.
"Hah, lo mau belain Ajeng, iya? Udah jatuh cinta lo sama dia, mau mendua, mau kawin lagi?"
"Lo yang brengsek, udah nikah masih aja mikirin cewek lain." potong Arya. "Urusan gue sama Ajeng itu cuman urusan gue sama dia doang, lo siapanya Ajeng sampe mau belain dia, hah? Gila banget lo kalau sampe mau nikah lagi, Hikam-hikam!" Arya senggol bahu Hikam sebelum meninggalkan kelurahan.
Hikam kepalkan kedua tangannya, masa bodoh dengan tuduhan Arya, sekali terjadi hal yang buruk pada Ajeng, dia tak akan segan-segan menghukum pria kurang ajar itu. Hikam pastikan Arya tak akan lolos dari genggamannya.
"Yang bener mas Hikam tawuran sama mas Arya, Bu Desi?" Ajeng hampir menyemburkan kopinya.
"Iya, sekilas aku lihat mereka tenggor-tenggoran, Jeng!"
"Terus, siapa yang menang?"
Loh, bu Desi lebarkan matanya, dikira adu ayam saja sampai menentukan siapa yang kalah dan menang.
"Lah, kenapa sampe tawuran begitu, Mas Hikam pernah ada masalah apa sama mas Arya, Bu?" tanyanya, bu Desi geleng-geleng. "Terus, kenapa?"
__ADS_1
Kamu, Jeng, kamu penyebabnya! Bucil emosiii
***
Ya, bu Tiwi akui kalau Arya itu tampan, kalau sama Hikam, dia ada diurutan nomor dua, tapi secara status bisa jadi dia nomor satu pemuda yang tampan dan belum menikah.
Tapi, permintaannya yang membuat bu Tiwi menelan saliva berat, bagaimana bisa Arya datang kepadanya dan meminta izin untuk mengajak Ajeng kencan akhir pekan ini bersama keluarga.
"Nak Arya, duh bingung mau ngomong apa-" bu Tiwi keringetan. "Nak Arya tahu'kan gimana si Ajeng, ini dia pulang cepet aja langsung ke pasar buat nuker ayam, ahahahahah." hush, dia bekap mulutnya. "Apa nggak salah Nak Arya, dia emang baik, tapi Nak kel-"
"Saya mau sama Ajeng, Bu Tiwi."
"Hah?" bruak, bu Tiwi lempar tongkatnya, bude Lastri jatuhkan nampan di tangannya, untung sudah kosong.
"Saya mau sama Ajeng, bukan cewek lain di desa-desa ini, orang tua saya sudah kenal dia, tolong bicara sama Ajeng!" pinta Arya.
Bude Lastri menjawab, "Lah, dia masih tuker ayam loh, Mas Arya."
"Saya tunggu di sini nggak masalah, tolong bicara sama dia!" Arya berlutut di depan bu Tiwi.
Ini drama apa lagi?
Bu Tiwi menoleh, bude Lastri angkat tangan, tidak mau ambil keputusan, dia tahu sekali antara ayam dan Arya, jelas Ajeng pilih ayamnya, itu akhir pekan lagi, waktunya sorak hore, malah disuruh pakai baju bagus.
Satu jam kemudian, gadis hits yang ditunggu-tunggu tiba, ada dua ayam di keranjangnya, tak lupa suguhan wajah riang ada di sana.
"Bu Tiwi kenapa lihatin aku kayak gitu, kayak aku ini titisan demit aja, ayamku ya cakep-cakep loh!" ahahahah, masih bisa tertawa.
Slink,
Bu Tiwi tunjuk belakang Ajeng, demitnya ada di sana.
__ADS_1