
Jamal, Aksan dan Ganjar, mana yang harus dia pilih, ketiga sama-sama memuji Ajeng dan mengatakan kebohongan yang hakiki.
Ajeng laksana rembulan, ciuh!
Rembulan apa, kulitnya saja sama dengan yang di sekitar rembulan, langit malam yang gelap, mereka pasti salah bicara, tapi dia tidak mau Hikam kecewa karena dari tiga orang itu tak ada yang dia pilih.
"Ajeng itu bukannya nggak butuh cowok, Bu Desi. Cuman, kalau mujinya aja udah bohong, nanti kalau lagi marah apa nggak sampah semua yang ke luar. Sekarang bilang aku kayak rembulan, besok waktu marah jadi berubah, Ajeng laksana ampas kopi, gimana kalau gitu, kan sakit!" Ajeng usap dadanya.
Bu Desi mengangguk prihatin, dia punya anak lelaki, tapi masih jauh di bawah Ajeng, malah anaknya masih suka jilat gulali, jangankan nikah, nyuci ****** ***** sendiri saja belum bisa.
"Terus, kamu maunya yang gimana? Jangan bilang cuman mirip Hikam, nggak salah dia bilang kalau cowok-cowok itu mirip dia, kan Hikam itu sukanya memuji, dia nggak pernah ngomong jelek yang bikin sakit hati, jadinya ya gitu ketemunya, Jeng. Atau kamu mau yang model suamiku?"
"Duh, Bu Desiiiii ... namanya balik kandang, wong suka adu ayam, sama aja, aku bakal adu ayam lagi nanti!"
"Lah, ya. Aku juga mikir dulu itu suka sama dia karena apa ya, Jeng?!" ujarnya sambil berpangku tangan, lupa kenapa bisa menikah dengan suaminya yang bin jengkelin itu, tiap hari kerjaannya adu ayam, tidak peduli seragam kerja dilepas atau belum, nanti kalau ketehuan bakal dapat surat peringatan. "Lama-lama aku suruh pake topeng kok dia itu, sampe males nganggep dia suami, aku jadi terkenal di semua kelurahan!"
Ajeng tergelak, ini gambaran kalau suaminya orang baik-baik, sedangkan Ajeng terkenal karena keahliannya adu ayam, bisa-bisa suaminya juga akan menyerah karena kepopulerannya itu.
Tapi, apa ya enak tidak dianggap pasangan? Entahlah.
Maju mundur Ajeng menemui Hikam, senyuman Hikam menolak kakinya untuk melangkah dan memberikan kabar buruk, Ajeng pikir ulang lagi, kalau bukan ketiganya, paling tidak ada satu yang hampir bisa dia terima.
Siapa?
Ajeng ketuk pintu ruangan Hikam, sontak pria itu menoleh dan mempersilahkan Ajeng masuk, matanya sudah berbinar penuh harap akan keputusan Ajeng, bahkan Hikam waktu itu sudah mengatakan akan menjadi penanggung jawab acara pernikahan Ajeng, mulai A sampai Z.
"Jadi, gini loh Mas Hikam, aku seb-"
"Aku udah tahu kalau kamu milih Ganjar, iya kan?"
"Heh, kok Mas Hik-"
"Kemarin Dewi bilang ke aku, katanya kamu pulang ke panti itu diundi mau diantar siapa, terus yang kena Ganjar, itu pasti nggak kebetulan, iya kan?"
Kebetulan, Mas!
__ADS_1
Hikam berikan hadiah diawal, isinya membuat Ajeng melongo.
"Gelang buat apa ini?"
"Ini gram kecil, tapi kamu layak dapet ini, perjuangan kamu ke titik ini nggak muda. Pake waktu kencan sama Ganjar, dia pekerja terbaik, dulu Dewi yang suka pake gelang semi ular begini, aku nyebut ular karena dia tipis, eheheheh. Dewi yang saranin ini, Jeng," jelas Hikam.
Duh, gelang mas gram-graman, clegak-cleguk.
"Tapi, jangan buat taruhan ayam jago ya!"
Walah, baru bayangin, udah ditegur, peka banget ini!
Ganjar, keputusan di sana, terlebih lagi dia sudah menerima hadiah dari Hikam, artinya Ajeng harus bersemangat mengenal Ganjar.
Kok aku jadi pengen ketemu dedemit sih, bawa sial aja tuh orang!
***
"Mau tuh cewek sama lo?" Arya lempar beberapa lembar uang pada Rian.
"Sampe gemeter, bro, kakinya, gila emang dia kuat sih, tapi kuat gue lah, satu kamar udah penuh sama suaranya, jerit-jerit minta lagi!" Rian sugar rambut basahnya ke belakang.
Bukan berniat yang apa-apa, Ellin terus saja mendekat pada Arya dan membuat Arya mual dengan ulah gadis itu, dia tawari saja mau tidak dipuaskan pria lain.
Kepalang basah dan sudah ingin dijamah saja, Ellin iyakan asalkan pria itu setampan dan seahli Arya, tak ada yang sebanding lagi kalau bukan Rian, jam terbangnya cukup tinggi di sini, kalau Juna masih di bawah mereka berdua.
Tapi, mungkin sejak Arya berhenti, posisi kedua bisa ditempati Juna, Arya benar-benas tak melepas senjatanya sembarangan sekarang, setiap kali dia mau melangkah ke hal kelam itu, dia ingat sabetan yang diberikan Ajeng padanya.
Cowok siapa yang berani dan mau nerima lo, hah?
Batinnya masih bergelung pada rasa penasaran yang tinggi, bisa saja dia menyentuh Ellin sebagai bentuk rasa kesalnya, sayangnya rasa sakit akan pukulan Ajeng itu jauh lebih kuat.
"Lo tinggal dia di hotel?"
"Iya, tapi tadi dia udah bangun kok, udah mandi malah, cuman masih mau di sana, badannya capek katanya," jawab Rian ringan dan santai.
__ADS_1
"Sempit nggak, Bro?" Juna ikut bergabung.
Rian terkekeh, "Emang kita pernah ketemu sama yang sempit? Ngaco lo!" dia jitak Juna yang sontak tergelak.
"Kali aja diremet!"
"Ya ada, cuman bentar tapi, gue bayangin yang lain, jadi bisa main gila, ahahahahahhah." Rian menoleh pada Arya. "Si Ajejeng lo itu masih sempit, Ya'?"
Arya memutar kedua bola matanya jengah, mana dia tahu, dia saja baru mencium sudah harus sujud minta maaf, sesalnya saja belum hilang.
Juna tergelak, "Kalau lihat dari modelnya Arya, yakin masih perawan tuh cewek, sampe dibelain stop jualan dia, ahahahah. Emang kalau lo tinggal, dia nggak kabur sama cowok lain, Ya'?!"
"Brengsek lo pada!"
"Widiiihhh, emosian dia, lama nggak nyembur ular lo tuh, Ya'!" balas Juna, keduanya tertawa sambil berjalan menyusul Arya.
Tidak tahukah mereka rasanya menahan diri itu seperti apa, mana dia tidak bisa memastikan Ajeng di sana sudah bersama pria lain atau belum, kedua orang tuanya hanya membahas soal hubungannya bersama Ellin yang jelas-jelas nakal sama dengan dirinya, baru saja disentak habis oleh Rian, Arya pijat pelipisnya yang kembali berdenyut.
"Lo mau buang ponsel lo itu, Ya'?"
"Nggak, gue simpen, baru nomornya gue isi pulsa."
"Lah buat apa kalau nggak lo pake, jangan-jangan nomornya Ajejeng di sana ya, cieeee ...."
"Ajejeng, ajejeng, Ajeng namanya!" balas Arya meninggikan suaranya.
Duar,
Bukannya takut, keduanya justru kembali menertawakan Arya.
Benar di ponsel yang baru saja dia isi pulsa itu, nomor Ajeng ada di sana, begitu dia hidupkan, pesan Ajeng masuk, tapi tidak dia buka.
Bagaimana kalau dia buka, lalu isinya undangan pernikahan seperti yang Ajeng katakan sebelum mereka berpisah malam itu.
"Heh, si kampret nangis!" Juna senggol Rian.
__ADS_1