
"Mas lihatin apa?" Ajeng baru saja mengambil kaos kaki untuk Arun, belanja baju bayi butuh tenaga banyak rupanya selain uang. "Mas loh sampe Arunnya nggak dilihat, lihatin apa sih?"
Arya cengar-cengir, dia tunjuk deretan bapak-bapak yang sedang menunggu para istri belanja, ada dua kereta bayi kembar, Arya diam-diam membayangkan Ajeng mempunyai anak lagi tanpa menunggu waktu lama.
Kedua bahu Ajeng melorot, tapi memang usianya rawan bila menunda kehamilan, dia mengangguk saja, lagipula dia juga suka anak. kecil, kasihan kalau Arun sendirian.
"Temenin anaknya ini, terus kalau Mas mau anak lagi, udah loh ya, Ajeng nggak mau bagi nen sama kamu, kan cuman punya dua!"
"Eh, iya... tapi, aku mau anak lagi, Dear!"
"Yaudah, kan Mas tahu resikonya ya, jadi jangan rebutan nen loh!" Ajeng tahu suaminya berwajah kecut, dia berjalan lebih dulu ke tempat belanja selanjutnya, membiarkan Arya terbengong-bengong bersama Arun di gendongannya. "Mas, ayo ajak Arunnya ke sini!"
Arya buru-buru mendorong kereta sembari menggendong anaknya, menyusul ibu ratu yang sudah mau kalap belanja dalaman.
__ADS_1
Pesanan Arya hanya satu, warna merah yang menyala untuk malam setelah Ajeng selesai nifas. Dia akan menjadikan malam itu penuh desaahan keduanya, siapa tahu akan jadi anak dalam waktu dekat.
Satu keranjang besar sudah terpenuhi, Ajeng bukan hanya membeli untuk dirinya saja, melainkan dia beli untuk suami yang berwarna senada, dia mau Arya menari memakai dalaman merah menyala.
"Dear, mau kopi?" sekalian saja membeli banyak camilan kekinian karena menuju ke sini butuh waktu lama, mereka tinggal jauh dari pertokoan. "Sekalian beli makanan apa gitu, Dear. Kita selagi di sini, eheheheh... Arun mau, Sayang?" Arya peluk erat anaknya, menunjukkan banyak menu camilan sambil mengikuti arah kaki Ajeng berjalan, ibu ratu itu memilih apa saja yang orang rumah suka sampai lupa dengan maunya sendiri. "Arun mau kentang goreng, Mama!"
Ajeng menoleh. "Besok Mama beliin di pasar, kita goreng sendiri, sekilo bisa makan serumah loh!"
"Beli di sini aja, Dear." Arya tak mau istrinya terlalu hemat, memang harga satu kilo di sini cuman dapat satu kotak kecil, tapi sekali-kali juga belinya. "Aku mau makan di sini, Dear, beli hayo!"
***
"Tidur Arunku, Dear?" Arya melirik sedikit, jalanan gelap jadi dia harus fokus.
__ADS_1
Ajeng mengangguk, bocah cantik itu tengah menyusu sembari memejamkan mata berbulu lentiknya, tak mau lepas sama sekali.
"Kayaknya dia dendam sama kita, Mas. Dari tadi kamu bahas adek terus buat dia, jadinya kayak minta hak nen terbanyak, eheheheh... Iya, Run, kamu nggak mau dibagi nennya ya, sama Papa aja tiap malem rebutan, apalagi sama adek, ehehehe... nggak apa ya, berbagi ya sayang," Ajeng usap pipi lembut anaknya.
Arya bergeleng sambil menahan tawa, bisa-bisanya ada yang rebutan nen, tapi benar juga, dia tak mau dibagi juga.
Terus, harus apa?
Sesampainya di rumah, kata cucu kesayangan sudah terngiang, bu Ratih menunggu sampai mereka pulang, langsung menyerbu Arun ke gendongan, cucu akan selalu menang di hati neneknya.
"Mam, aku beliin banyak camilan!"
"Nanti, Mama masih sama cucu Mama, ehehehe, sama Arun sayang Papa, sama anaknya ini loh!"
__ADS_1
Sudahlah, semua kalah sama Arun.