Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Baby Arunika Cahya Arya


__ADS_3

"Eh, salah ya, sorry gue tegang!" Arya berganti mengusap perut Ajeng. "Baby sayang, ini Papa... boleh ke luar kok, pelan tapi ya, jangan sakiti mamamu, oke anak cantiknya Papa!"


Ajeng meringis kesakitan, kedua tangannya berpegangan pada kepala Arya yang merunduk di bawah dadanya, dia tarik dan pukul sesuka hati sampai tampilan Arya acak-acakan.


Dokter mulai mengarahkan Ajeng untuk mengejan, kepalanya sudah terlihat, bayi itu sudah siap keluar dan berkenalan dengan dunia.


Arya memejamkan matanya, kepalanya serasa botak, ditarik terus oleh Ajeng saat denyutan hebat itu terasa.


"Aaarrrghhh, heeeempppttt .... huuuh, haaah, huuuuhh, Maaaaas, sakiiiiiiittt... Maaaaaaaassssss!"


Ajeng melengkungkan punggungnya ke depan, hampir menyentuh kepala Arya yang sudah tak berupa, Arya sendiri ikut berteriak karena rambutnya dijambak habis.


"Deeeeeeeaaaaaaarrrrr, botak gue!"


"Heeeeeeeeeemmmppptttttt, Maaaaaaaaassss!"


Oek, oeeeeekkk, oeeeekkk....


Bruk!

__ADS_1


Ajeng menghempaskan tubuhnya yang lemas dengan nafas memburu, kedua tangannya mulai melepaskan rambut Arya, pria itu langsung merosot di bawah, bersimpuh dan terseduh-seduh.


Bukan langsung menggendong anaknya, Arya merasakan kepalanya berubah botak karena ulah Ajeng, kini dia pijat pelan, berharap rambutnya masih ada.


"Apaan itu?" Arya melebarkan matanya yang berkunang, darah bercucuran dari ranjang Ajeng, melebar hampir menyentuh kakinya. "Dok, istri saya berdarah!"


Dokter itu menyembulkan kepalanya dari penutup kaki terbuka Ajeng. "Saya masih membersihkan sisa dan menjahit robekannya, Pak Arya!"


"Robek, apanya yang robek? Terus, dijahit seberapa, saya harus tahu?!" Arya meloncat ke sisi dokter, dia tak peduli Ajeng yang sudah mau memaki di posisi tidurnya, sayang sekali dia tak boleh bergerak. "Jangan dijahit semua, nanti saya nggak bisa masuk lagi!"


Hah?!


"Dokter, ya ampuuunn ... saya bisa betah di rumah kalau sempit lagi, gilaaaaa." Dia lari ke sisi Ajeng yang lemas. "Dear, habis ini lo jadi perawan, gila ... kita bisa malam pertama lagi, Dear, coblosan lagi!"


Plak!


Ajeng tarik lagi rambutnya, belum apa-apa sudah membahas coblosan, ingin dia masukkan perut saja si burung kocok satu ini.


***

__ADS_1


ARUNIKA CAHYA ARYA,


Arya menuliskan nama manis untuk anaknya yang cantik dan menggemaskan, dia ciumi berulang kali, membuat suster di sana iri, minta cium.


"Papa jadi inget gaya apa buat kamu ada, ahahahah, jadinya nggak sia-sia bisa secantik ini, gendut, gemesin!" Arya ciumi lagi, Ajeng dibiarkan, masih disegel, belum bisa dia sentuh sampai 40 hari ke depan. "Dear, dia mirip gue!"


"Yaiya loh, Mas. Wong itu anak kamu, lah kalau mirip kang pentol ya aku kawin sama dia!"


"Ahahahahah ..." mata Arya kembali pada wajah mungil menggemaskan itu. "Arrrruunnn, Arunnya Papa Arya, anaknya Papa yang paling cantik sejagad raya merdeka, anak gemas, anak gendut, anak cantik, anak baik, anak sholehah!" Arya heboh sendiri, dia menemukan boneka hidup yang enggan dia lepas dari gendongannya.


"Maas, aku haus loh!"


Arya mendongak, dia mengangguk, dengan kedua tangannya yang besar, dia bisa melayani dua perempuan sekaligus, Ajeng sendiri kaget melihat Arya yang tanpa ragu bisa menggendong anak mereka.


"Kamu juga haus, Sayang?" Arya tusuk kecil pipi Arunika, bayi itu mengerjap kecil, kemudian merengek lirih yang berangsur kencang. "Dear, Arun mau nen, buka!"


"Mas aja yang bukain, sini!"


"Wohooo, jangan gue dong, entar gue pengen nen juga, Dear."

__ADS_1


Ajeng melotot, Arya sudah melet-melet, antri menyusu.


__ADS_2