
Ajeng nggak mau dengerin kamu!!!!
Senjata ampuh yang mampu memporak-porandakan jiwa Arya sampai ke akarnya, sekeras apapun dia berusaha menjelaskan pada Ajeng, istrinya itu tak mau dengar sama sekali.
Ajeng bahkan tak membalas pesannya meskipun Arya begadang menunggu balasan, tak mengapa bila balasan itu berisi omelan yang panjang atau kata-kata kasar untuknya asalkan Ajeng membalas.
Tapi, sepertinya wanita itu sudah punya kekuatan besar untuk melawan dirinya, berkuasa atasnya yang rapuh.
"Mam, Ajeng lagi ngapain? Dia nggak mau bales pesen aku, Mam!" rengek Arya pada bu Ratih.
Bu Ratih perhatikan menantunya yang sudah resmi menjadi pengangguran itu, sebenarnya tak ada kesibukan sama sekali, bahkan Ajeng hanya memandikan ayam-ayam tercintanya sambil menjawab semua pertanyaan dari pak Darma.
Ponsel Ajeng tergeletak tak berharga, bu Ratih lihat banyak pesan dari anaknya, mulai rayuan maut sampai arwah penasaran dikerahkan, nyatanya tak tembus meluluhkan Ajeng.
"Kamu buat salah apa sih?"
"Nggak sengaja, Mam. Sumpah Arya nggak tahu kalau mantan temen kencan Arya di sini ketemu lagi, ikut kerja di sini, ada kontrak kerjasama bareng dia, si Pretty, Mam ... tahu kan model mulutnya gimana, Ajeng denger semua itu." Arya mengesah pelan, dia sendiri frustrasi didiamkan sang istri. "Bisa nggak Arya pulang nggak nunggu sebulan, dua minggu lagi itu lama, Mam ... bisa makin berjamur marahnya dia, bilangin papa dong!"
Lagi, bu Ratih ya gemas pada anaknya itu, dulu kenapa juga kalau tiap ke sana suka bikin ulah, mana tak menyewa biduan lain, relasi kerja diambil juga, sekarang baru tahu rasa kalau istrinya marah karena Arya akan sering bertemu Pretty di sana, pasti banyak kenangan bersama burung kocok yang akan Pretty ingatkan.
Walau Arya sudah tak meladeninya lagi, tapi tetap saja wanita itu mengganggu, tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Ajeng mau berbicara dengan Arya lagi.
"Dia nggak mau ngomong sama kamu, Ya' ... udah, kamu tunggu aja sampe dia nggak marah ya, biar dia tenang dulu, Mama ya nggak enak maksa dia, kayak Mama ini ikut campur aja sama masalah kalian, sabar ya ...."
"Maaaaam, plis, mana bisa aku sabar sih ... ini aku udah nggak tidur mala enak loh, mau ngomong sama Ajeng, Maaaam!"
__ADS_1
Rengekan Arya membuat bu Ratih geli sendiri, salah siapa punya biduan kok di dalam kerjaan yang sama, jadinya ya gawat darurat begini.
Ajeng berhak cemburu dan marah karena bisa saja Arya berbohong, sementara di sana sangat dekat dengan Pretty, dari suaranya saja sudah dipastikan penuh godaan, sekali melenguh bisa bangkit semua burung kocok para pejantan di sana.
"Maaam, plis, plis, bantuin Arya, plis ... mau Arya sakit di sini, Mam? Minta tolong sama papa juga, plis!"
"Udah, kamu tunggu dulu, Mama ya nggak bisa maksa, nanti dia tersinggung malah gawat. Tunggu dulu, kita usaha ini!"
Arya tutup panggilannya, masih ada rasa gemuruh tak tenang di dalam dadanya, dia mau Ajeng berbicara lagi, menjadi teman berbagi setiap dia endak tidur.
Sumpah demi apapun, Arya tak menyentuh atau menghiraukan Pretty, dia bahkan menyerahkan pekerjaan yang berhubungan dengan wanita itu pada Juna dan Rian, dia tak akan berhubungan lagi, dinding batasnya sangat tinggi dan kuat, kokoh.
Dear, stop marah sama gue, plis!!
Arya tarik rambutnya, sial sekali dia di sini bertemu model Pretty itu, mulutnya sangat lemas hingga berita apapun bisa ke luar tanpa kendala, dia tak mengira itu akan terjadi
Di seberang sana, Ajeng hanya membaca dari notif yang ada, kedua bahunya melorot, dia sendiri tak tahu kenapa bisa cemburu begitu, menyesal karena tak ikut ke sana, seharusnya dia ada disaat suaminya pergi sendiri, membuat dada pria itu tak kosong hingga sembarangan orang mendekat, lantas menggoda.
Suamimu: Dear, gue sayang sama lo, gue cinta sama lo, lo harus percaya gue nggak ada hubungan lagi sama dia, dulu cuman kencan kayak biduan, Dear ... plis, gue nggak bisa lo diemin, maafin gue, Sayang, Dear!
Lagi, Ajeng hanya membaca dari notif saja, cemburunya dari rasa sesal, dia pun gerah seperti ini, ingin mendengar suara sang suami, melihat wajah tampannya, tapi kok ya dia gemas begitu dengan suara Pretty yang seolah sangat mengenal Arya, terlebih lagi waktu itu menawarkan Arya makanan, Ajeng dongkol di sana.
Suamimu: Oke, lo nggak bales pesen gue, nggak akan ada makanan yang masuk ke perut gue, biar gue sakit!
Ajeng mengesah pelan. "Terus, kalau kamu sakit, si Pret itu nemenin kamu, gitu?" gumamnya.
__ADS_1
Ponsel itu tak berharga lagi, dia letakkan tanpa berniat perhatian pada Arya yang terus mengancamnya.
Dia tak butuh ancaman, Ajeng kebal ancaman, dia sering diancam dan mengancam sejak jaman adu ayam.
Dia hanya ingin Arya berkata kuat untuk segera kembali dan bukan mengancam lemah yang dengan begitu semakin membuat Ajeng berpikir Arya ingin dirawat suster cantik atau mantan teman kencannya.
"Ajeng nanti pasti hubungi mas Arya, Bu, Pak ... tapi, nanti kalau Ajeng udah nggak marah ya."
Sebagai mertua hanya bisa mengangguk setuju, ini urusan rumah tangga anak mereka, tak berhak keduanya ikut campur, terlebih lagi memang salahnya Arya, seorang istri pasti punya ketakutan lebih, itu wajar, dibutuhkan kesabaran untuk keduanya, baik itu Arya yang tengah meraung ancaman di sana, anggap saja pendewasaan bagi hubungan Arya dan Ajeng.
***
Yakin tak makan selama tiga hari tanpa kabar?
Arya melahap roti, bukan nasi, mungkin berat badannya turun, tapi dia baik-baik saja, tak menyentuh nasi sama sekali, dia ganti roti, setidaknya dia masih bisa hidup, kalau dia mati karena sakit, itu akan merugikan dirinya sendiri.
Tidak, Ajeng tak boleh jadi milik orang lain, sampai mati harus sama dia.
Suamimu: Dear, gue makan roti. Gue sayang sama lo, makan yang banyak di sana ya, kita ketemu bentar lagi!
Tak ada balasan, lelah dan kering sudah air matanya, Arya menunduk, pekerjaannya banyak dan hari ini hasil medis itu ke luar setelah uji kedua, semoga saja hasilnya menyatakan siap untuk dirinya membuahi Ajeng, akan dia bawa istrinya itu ke mana saja, tak akan dia tinggal.
"Hasilnya sudah diemail, Pak. "
Arya mengangguk, dia lantas membuka emailnya, pernyataan resmi dari pihak rumah sakit di mana dia dinyatakan sudah siap menjadi seorang ayah, senyum di wajah Arya mulai berangsur pulih.
__ADS_1
Suamimu: Dear, Sayang, coba baca hasil medisnya, gue udah sehat, besok kalau pulang, kita bikin dedek. Love you, Dear.
Bales, Dear ... gue nangis darah setelah ini.