
Ajeng raba perlahan, dia sangat berdebar pagi ini, mulut yang biasanya asal aiueo di luar sana, seketika diam tanpa suara, bahkan terbuka saja tidak.
Hari ini dia interview, tenggorokannya menjadi mudah kering meskipun dia telah meneguk hampir dua liter air, mendung berubah menjadi panas.
Sainganku ini pada bawa ijazah S1, minim D3, lah aku? Walah, jangan sampe gagal, Jeng, rusak reputasinya mas Hikam, kamu sama aja bikin dia malu, semangat, Jeng!
Tapi, tetap saja kaki dan tangannya dingin, debaran jantungnya tak bisa dikendalikan, bisa dibilang dia dalam kondisi kritis saat ini.
"Ajeng, silakan masuk!"
Glek,
"Ajeng!"
Ajeng lantas berdiri, "Siap, Pak, bersedia!" bersedia gundulmu, emangnya lomba lari.
Langkahnya hampir sampai pintu ruang interview, langsung bersama pak Kades, spesial hari ini.
Satu tangan menahannya, meminta Ajeng mundur.
"Loh, Pak, tadi itu nama saya yang dipanggil, artinya saya boleh masuk, kan ya?"
"Boleh, memang boleh, tidak ada yang melarang, cuman jangan pake sandal japit, Jeng!"
Loh, salah!
Ajeng buru-buru ke parkiran, ada sepatu yang kemarin Dewi kasih untuknya, sepatu kerja berwarna hitam mengkilap, dia pakai cepat, lalu berlari.
Senyum pak Kades hampir membuat dia pingsan, kumisnya itu loh, minta dicabuti yang putih-putih. Ajeng tahan jemarinya yang sudah gatal, mau maju langsung cabut.
"Namamu, Ajeng?"
Ajeng mengangguk, "Benar, Pak." ya, begitu jawabnya, harus formal, ingat pesen mbak Dewi.
"Lulusan SMU dan belum pernah punya pengalaman kerja, terus apa yang mau kamu tunjukkan di sini, kalau belum punya pengalaman kerja, keahlianmu apa coba?" pak Kades menantang.
"Ad-" nggak, Jeng, sinting apa kamu bilang jago adu ayam, bisa digorok satu kampung. "Saya sejak lulus SMU, mengabdikan diri di panti asuhan Pangkas Langit, Pak."
Pak Kades berdiri, matanya melotot, kedua tangannya menyiku di pinggang, badannya condong ke depan, hampir sampai ke wajah Ajeng.
"Siapa yang kasih ide nama panti kayak gitu, langit kok mau dipangkas, emangnya rambut?!" ujar pak Kades.
"Say-saya ya tidak tahu, Pak. Saya di sana itu sudah dikasih nama begitu, mau protes ke siapa, Pak? Kalau Bapak mau ada rencana protes, saya bantu, bawa spanduk, turun ke jalanan, siap saya, Pak!"
Plak!
Hikam menepuk keningnya, interview kok malah jadi ajang adu bakat begini, Hikam sedikit menyembulkan kepalanya dari jendela, kebetulan ruangannya bersebelahan dengan ruang interview ini.
__ADS_1
"Kamu mau turun ke jalanan?" tanya pak Kades.
"Iy-" Ajeng melirik ke sudut ruangan, Hikam bergeleng di sana, mati-matian meminta Ajeng jangan sampai terpancing. "Begini, Pak Kades yang terhormat, tenang dulu, saya bisa jelaskan nama panti itu, Pak Kades duduk dulu!"
Baik, pak Kades menurut, kembali duduk dan meminta sekertarisnya mencatat ulang.
Ajeng jelaskan, bukan interview tentang pengalaman kerja atau apa, melainkan curahan hati di mana pak Kades juga pernah tinggal di panti dan merasakan dingin juga kesepian di sana, sampai air mata meleleh semua, sekertaris dan Ajeng ikut menghabiskan tisu, cerita masa kecil pak Kades yang mengharu biru.
"Jeng, gimana?" Hikam berlarian sampai lupa memakai sepatunya, baru saja dari masjid.
Ajeng busungkan dadanya, lalu dia tepuk, menyombongkan surat yang ditanda tangani pak Kades secara langsung.
"Kamu diterima, Jeng?" Hikam mau melompat senang.
"Iyalah, tugas orang kelurahan selama ini cuman nyatat data, aku bisa nyatat sekaligus dengerin curhat!" Ajeng pamerkan stempel basah plus air mata pak Kades yang membekas di lembar surat kuasanya menjadi pekerja magang. "Jadi, kalau ada masalah di sini, baik warga atau pegawai, Ajeng yang buka biro konsulnya, solusi pasti dan dijamin lega ke luar, Mas!"
Plak,
Hikam tepuk keningnya sekali lagi, dia manggut-manggut, tidak masalah yang penting dia berhasil membawa Ajeng di sini dan Ajeng diterima karena prestasi bicaranya.
Biro konsul Neng Ajeng.
***
"Jeng, inget kalau diajak ngobrol itu pake bahasa yang formal, jangan bikin kecewa pak Kades yang milih kamu!" seru bu Tiwi dan bude Lastri.
"Semangat kerjanya, Mbak Ajeeeng!" seru anak panti.
Ajeng beri kecup jauh, lalu menoleh pada ayam-ayamnya, dia kecup jauh juga, sebentar lagi bisa beli kemul kandang yang jauh lebih bagus, pakan yang berkualitas.
Sepeda kring-kring Ajeng mulai melaju, dari baju sampai sepatu dia dapatkan dari Dewi, tapi hari ini karena pertama kali dia kerja, dari bu Tiwi yang dia kenakan.
Bayangan kandang ayam dan ayam yang gemuk-gemuk sudah ada di depan mata, dia bakal sukses.
Kring, kring!
"Mas Hikaaaam, duluan ya!" ujarnya berteriak sambil terus mengayuh sepeda.
Hikam geleng-geleng, dia tinggal nambah putaran gas saja sudah mendahului Ajeng, kok malah dipamiti.
Tunggu, Hikam kejar Ajeng, dia baru lega begitu melihat bukan sandal japit yang Ajeng pakai, mana ada tai ayamnya kemarin, petugas kebersihan yang melapor.
Tugas pertama,
Ajeng berada di deretan frontliner, dia yang akan menyapa warga desa yang datang dan menyampaikan keluhan mereka, lalu dia simpulkan kebutuhannya apa, dan dia lajutkan ke bagian pengurusan.
"Jeng, nomor satu."
__ADS_1
Ajeng mengangguk, dia persilakan ibu dan anak itu maju, duduk di depannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"
"Ini, Mbak, mau ngurus buat data anak ketiga, akte."
"Oh, iya, bisa dibantu keterangan nama orang tua dan anaknya, disebutkan boleh kalau tidak bawa ktp!" dia permudah saja, pasti orang ke sini banyak lupanya.
Ajeng dengarkan dengan seksama, dia ketik perlahan dan memastikan ejaannya.
"Ibu Sundari, bapak Prayitno, terus nama anak yang mau diurus aktenya siapa?" tanya Ajeng.
"Queneveillatifa Aqiela Gierwana Prayitno, Mbak."
Eng ing eng,
Air liur Ajeng menetes, mulutnya meliuk-liuk menirukan, lalu terbuka dan kepalanya miring, belum ada huruf yang dia ketik.
Satu pun belum, jarinya masih menggantung.
"Maaf, Bu. Tadi, siapa namanya si anak?" dia cengar-cengir. "Ku-kue, kue apa?" eh, menutup mulutnya.
"Queneveillatifa, Mbak. Kok kue sih, yang bener!"
"Iya, eheheheh, coba diulang siapa tadi?" mati aku, khuelele, atau khuehue tadi.
"Saya eja saja, Q-u-e-n-e-v-e-i-t-eh salah, Mbak!" malu, lupa ejaan anaknya.
Tik, tik, tik, enter!
"Kuenevitehsalahmbak, gitu ya?"
Hari pertama kepala berdenyut hebat, makan siang jadi tidak berselera, cuman satu warga saja dia sampai salah urat.
"Lagian orang namanya Sundari sama Prayitno kok kasih nama anaknya kuekue, lah itu waktu sekolah bisa bikin lidah gurunya kebulet loh!" gerutunya.
Tap, tap, tap.
"Jeng, ada yang harus kamu tangani!"
"Siapa, Bu Desi?" Ajeng berdiri, membuang permennya.
"Itu, nggak ada yang bisa nangani dia, Jeng. Coba kamu!"
Siapa sih? Ajeng lantas berlari ke depan.
Deg,
__ADS_1
Demit ini!