Bojomu Semangatku

Bojomu Semangatku
Program Dimulai


__ADS_3

Puas menemani Arya bekerja, walau dia tidak tahu apa saja yang Arya katakan pada teman dan orang di sekitarnya, Ajeng masih mengeja pelan dan mencoba membaca dari raut wajah keduanya.


Besok mereka akan kembali ke tanah air karena hasil pemeriksaan Arya sudah ke luar dan dipastikan si burung kocok aman untuk memproduksi anak, rasanya tak sabar sebelum pulang, Arya terkam istrinya itu.


Sementara itu, Ajeng lebih fokus pada kegiatan belajar bahasa asing, kebetulan Arya punya rekan kerja perempuan yang biasa membantu pekerja asing di sini, setiap hari Ajeng ke kantor dan pulang ke unit apart pun dia masih belajar, tak ada ruang bagi Arya memainkan burung kocoknya hingga benar-benar bisa dikatakan sembuh.


"Dear, dia kangen sama lo." Arya tarik dan pindahkan ke pangkuannya.


"Iya, Ajeng tahu. Emangnya dia udah sehat?"


"Udah dong, malah kalau gue pake sekarang nih, bisa dijamin hamil lo bulan depan, Dear. Mantap dan perkasa gue, sekali nyembur udah ribuan benih renang ke rahim lo, sumpah!"


Ini kalau ngomong tidak ada saringannya ya begini, yang ada selalu membuat Ajeng panas dingin.


"Mas, pokoknya dijamin aman dulu, besok itu kita mau pulang, jangan karena dia sakit lagi, terus nggak jadi pulang, kamu dirawat lagi, Ajeng nggak mau loh!"


"Makanya dicoba dulu, Dear. Kan, nggak tahu dia sakit atau enggak kalau nggak dicoba, tadi gue pake solo karir bisa kok-" oppss, dia keceplosan.


Solo karir itu istilah yang sudah Arya jelaskan pada sang istri, tanpa babibu, Ajeng langsung memukul paha suaminya, sudah dibilang ada dia sekarang, ya masih saja suka main sendiri.


"Nggak bayangin Siapa-siapa, Dear... cuman lo, beneran!"


"Ajeng nggak percaya sama sekali, biar kalau masih mau main sendiri, Ajeng males diajak beg-"


"Dear, ssstt... gue janji, oke!" Arya cium singkat bibir manyun itu. "Gue janji, jangan marah ke gue, oke!"


Ajeng mengesah pelan, dia peluk juga pria di depannya ini, pemuda sih sebenarnya karena dia yang lebih tua, terlebih lagi harus Ajeng imbangi keras kepalanya.


Arya angkat dagu Ajeng, dia berkedip genit. "Jadi, nanti malem bisa dong uji coba hiak-hiaknya, Dear... kangen begituan, ya...."


"Iya, pokoknya kalau sakit bilang!"


Arya mengangguk puluhan kali, dia tak akan melewatkan malam nanti, dia akan membuat kamarnya membara, penuh akan rintihan Ajeng meminta ampun padanya, ya harus begitu kalau dia sedang bercinta.


Apalagi sekarang tujuannya adalah hadirnya anak, tak akan Arya tunda lagi, dia mau Ajeng segera menjadi ibu dari benih premium berkualitasnya itu, dan dia akan menjadi ayah yang beruntung karena berhasil membuahi sel telur murni, tanpa pernah diobrak-abrik oleh semburan lainnya.


Minyak wangi Arya siapkan, dia mau begitu Ajeng mendekat padanya, betah dia peluk rapat, tak mau jauh hingga pelepasan mereka dapatkan berulang kali.


"Dear, gue sayang sama lo, bentar ya gue tinggal kerja bentar, love you."


Ajeng mengangguk, burung kocok itu kalau tidak dia iyakan yang ada akan terus merajuk dan tak mau bekerja, tugas Ajeng di sini harus membuat Arya mau bekerja.


Beberapa oleh-oleh sudah Ajeng beli, dia berharap semua orang nanti menyukainya, walau bukan barang yang mahal, tapi ada identitas negara indah ini.


"Eh, iya... aku lupa belum minum susu persiapan hamil, harus minum itu biar aku sendiri siap. Nanti malem pasti dibuat capek, tahu sendiri dia udah puasa lama, duuhhh... belum apa-apa kok aku udah tremor, jangan sampe loh aku yang masuk rumah sakit, mampus nanti malahan!"


Ajeng segera mengeluarkan serbuk susu yang bu Ratih berikan, dia seduh segera, sebelum Arya tiba dan tahu dia gemetaran kalau minum susu, rasanya ingin muntah, tak seperti minum susu murni.

__ADS_1


"Huek, aku sebulan minum ini rasanya hamil sendiri kok ya." gerutu Ajeng, dia harus kuat demi keinginan bersama Arya, punya Arya kecil yang banyak.


***


Program dimulai, Arya sudah mendapatkan lampu hijau dari dokter dan semua keterangan menyatakan dia telah siap melakukan pembuahan.


Tatapan matanya seperti mau memakan Ajeng sampai ke tulang belulang, belum lagi tubuhnya yang dibiarkan terbuka sebagian, hanya memakai boxer tipis yang dari jarak jauh sudah bisa ditebak isinya sebesar apa.


Oh, ya ampun, Ajeng gemetaran, dia merasa tua di sini, mungkin cocok jadi nenek-nenek, lawan mainnya masih sangat segar dan bugar.


"Dear, buka bajunya!"


"Sekarang, Mas?" kan, dia jadi perawan lagi rasanya, malu dan takut membuka baju di depan Arya, tidak brutal lagi.


"Iya, sekarang. Lo lihat ini si burung kocok kesukaan lo udah bangun, dia lihat dan denger suara lo aja udah langsung hormat, puasa lama, Dear... dia makin hot!"


Waduh, Ajeng tremor disaat yang tidak tepat.


Ajeng buka kancing bajunya perlahan, ini bukan mau bercinta, tapi dia merasa mau bunuh diri dadakan, dia yang menyerahkan nyawanya.


"Mas, duuhhh, aku kebelet bab kayaknya, gimana?"


"Dear, nggak bisa dong, kan udah on ini, mau masuk obrak-abrik!" Arya tarik tangan Ajeng paksa, dia balikkan hingga punggung Ajeng membentur dadanya yang terbuka, dengan gerakan cepat, Arya lucuti baju Ajeng hingga tersisa kaca mata kuda kramat di bagian empuk besar itu. "Seksi, dia makin seger aja ditinggal lama, pengen makan!"


"Auu, jangan digigit, Mas!"


Ajeng hanya bisa memejamkan mata berulang kali sambil merasai tubuhnya yang sebentar lagi hancur, entah berapa bekas yang Arya buat di leher dan dadanya, sudah dipastikan dia jadi macan tutul baru pulang dari matahari, setengah gosong.


Kedua tangan Ajeng sesekali menjambak rambut Arya yang asik bermain di celah pahanya, dia mau merintih dan mendesaah, tapi berusaha dia tahan, takut tetangga dengar.


Eh, ini bukan di kampung, Jeng!


"Aaaaaaaaahh, Mas udah jangan gitu!"


Arya angkat wajahnya, dia tahu Ajeng tak kuasa dengan serangannya, bahkan puncak itu sudah Ajeng gapai lebih dulu, dengan nafasnya yang memburu, Ajeng berusaha mengimbangi ciuman Arya, membalas tatapan penuh cinta dan mendamba Arya si burung kocok.


Sedang di bawah sana, tak henti Arya memancing gairah Ajeng lewat gesekan yang dia ciptakan, membuat Ajeng menggigit bibir bawahnya hingga kebas, menahan rintihan yang akhirnya terlepas.


"Sekarang atau nanti?"


"Se-sekarang," jawab Ajeng, dia mau meledak rasanya, mau ditusuk pun dia siap.


Tapi, Arya sengaja mengulur waktu yang ada, dia lagi-lagi membuat permainan di bawah sana, mempercepat gesekannya yang sangat ahli sampai Ajeng meminta ampun.


Dia bertanya lagi. "Dear, sekarang gue masuk atau nanti?"


Ajeng tak bisa menjawab, ini menyiksanya, sangat menyiksa, dia hanya bisa mengerang dan mengangguk samar, tandanya dia mau sekarang benda besar itu membuat tubuhnya penuh.

__ADS_1


Satu bulan tak dijamah suaminya, rasanya jadi perawan mahal dia, tapi karena gesekan itu, kedua kakinya terbuka lebar, dia siap disentak habis hingga hamil cepat.


Wajah memohonnya membuat Arya iba, sejak tadi sebenarnya Arya sudah tak kuat juga, tapi dia mau memberikan servis terbaik untuk Ajeng yang rela menyusulnya ke sini.


"Dear, gue masuk!"


Ajeng membusung saat tubuhnya terasa penuh, bibirnya terbuka, dia merasa benda asing menyapanya sedikit perih, seperti ada yang robek lagi.


"Lo kayak perawan lagi," ujar Arya, jadi benar yang Ajeng rasakan, Arya saja sampai berkata begitu. "Gila, gue bisa kalah kalau lo sempit gini, Dear ..." rancauhnya sambil terus bergerak.


Entahlah, Ajeng tak bisa menjawab, dia menurut saja akan apa yang suaminya lakukan, toh mereka sama-sama rindu bergelung tanpa sehelai benang pun begini, sudah cukup dirasa proses medis itu, rindu memupuk di dalam dada.


Arya bantu Ajeng berdiri, membalikkan tubuh Ajeng hingga dia bisa mencoba gaya baru, semakin sama-sama tersiksa, tapi tidak ada yang mau kalah dan usai di sini.


"Dear, gue mau-" belum selesai dia berkata, lahar hangat itu sudah memenuhi rahim Ajeng, nafas keduanya memburu, tapi belum ada tanda usai di sini.


Setelah dirasa cukup, Arya gendong Ajeng ke ruang makan, dia dudukkan di meja, membuka kedua kaki itu lebar dan dia lingkarkan di pinggang, Ajeng menatap Arya penuh damba, mereka sama-sama menginginkan di sini.


Kedua tangan Ajeng yang tadinya mengalung di leher Arya, kini berpindah ke wajah Arya, dia takup dan berusaha mendekatkan kening kedunya, tatapan itu semakin dalam ditambah bibir mereka yang sama terbukanya.


"Eeemm, cium gue!"


Ajeng menurut, dengan tubuh gemetaran dia raup bibir Arya rakus, mengimbangi gerakan Arya di bawah sana, sesekali terlepas karena dia melenguh tak kuasa akan hentakan yang dia terima.


Terus dan terus Arya pompa, tak cukup di sana, dia bawa Ajeng ke kamar mandi, menyandarkan tubuh itu ke dinding kaca dan menghujamnya lagi seolah Arya punya segudang benih untuk dia salurkan pada Ajeng.


"Ma-maaasss, ud-udah!"


"Hem, wait!"


Gerakan cepat dan menyiksa, dia tahu Ajeng tak kuat lagi, tubuhnya mau jatuh dan hanya bertumpuh pada Arya yang memeluk pinggangnya.


Dorongan kuat dan dalam Ajeng dapatkan, yang paling indah adalah saat hal itu terjadi, Ajeng mendengar Arya berucap cinta padanya meskipun terbata-bata sembari menikmati pelepasan yang ada.


Arya peluk tubuh lemah itu, dia bawa ke bathup dan dia bantu mandi, mendadak dia baru sadar kalau burung kocoknya berubah jadi lemet, lemes tidak berdaya.


"Dia kebanyakan muntah, Dear. Ehehehehe, besok lagi!"


Ajeng tak menjawab, terlalu lelah bercinta seperti ini, lawannya sangat kuat untuk dia yang mudah retak seperti peyek.


"Mau tidur, Mas." bisik Ajeng.


"Iya, ini mau gue bantu tidur, pegangan kalau gue gendong!"


Ajeng mengangguk. "Kakiku cekot-cekot!"


Puurrrffffttt!!

__ADS_1


__ADS_2