
Mobil kelurahan, kan?
Deg,
Lompat, Ajeng memutari mobil itu, dia pasti tidak salah lihat dan kenal dengan mobil yang biasanya dipakai oleh pekerja kelurahan, sudah sering dia keliling, stiker itu hampir sama.
Katanya, biar kalau lagi melanggar aturan di jalan bisa dibebaskan, tahu ada stiker sama-sama orang penting, begitu pikir Ajeng.
"Kenapa sih, Jeng? Ayo, ah beli baju lagi, waktunya mepet!" Dewi tarik tangan Ajeng.
Kedua kaki Ajeng enggan bergerak, dia masih terus mengamati mobil itu, bahkan berinisiatif tanya pada juru parkir yang ada di sana, menunggu sampai dia tahu siapa yang membawa mobil dengan stiker penting seperti ini.
"Mas Hikam ya di rumah kan sama anak-anak, kalau aku ke luar, Jeng. Lagian, mas Hikam setia sama motor bututnya kok, pasti kita nggak kenal, yuk ah!"
"Firasatku nggak bagus ini, Mbak Dewi. Makanya aku minta Mbak Dewi pidiocal mas Hikam itu biar dia bisa jelasin ini stikernya kelurahan mana, atau mungkin sub anggota yang ditugasin di kampung mana!"
Huh, mau tidak mau Dewi hubungi suaminya, dering kelima barulah Hikam terima, wajah Ajeng dan bagian depan mobil itu terpajang nyata, membuat yang melihat sakit kepala.
Stiker yang mudah sekali Hikam kenali, pria itu tersenyum dan mengatakan hal yang membuat Ajeng semakin girang akan prasangka baiknya.
Mungkin ini jodoh dari langit, dia dan Ganjar memang sehati sampai mau membeli baju saja berada di ruko-ruko yang sama, tinggal Ajeng mencari di mana keberadaan calon tunangannya itu, pria yang akan menjadi pemilik hatinya, seluruh jiwa raga.
Lamat-lamat dia pandang, mencari dengan kedua bola matanya, Dewi pun mau tidak mau ikut membuntuti Ajeng di sini, penasaran juga baju apa yang akan Ganjar kenakan, siapa tahu bisa jadi refrensi dia membelikan baju untuk Ajeng.
Deg,
Ahahahah, hihihihihi, hahah, hihihihi
Dewi tutup mulutnya yang menganga, ibu dua anak ini tak kuasa melihat apa yang ada di samping Ajeng.
Rumah makan berdinding kaca bening hingga orang luar bisa melihat pelanggan yang tengah menikmati santapan di dalam, tepat di sisi lengan Ajeng berdiri, ada sosok yang Ajeng cari-cari.
Brak!
Loh, Jeng!
Pyar!
Dewi tarik Ajeng menjauh, sebelum bayangan buruknya terjadi, jangan sampai Ajeng marah dan kaca rumah makan itu dipecahkan.
__ADS_1
Dia ajak duduk di depan toko lainnya, wajah coklat Ajeng berubah merah kecoklatan, seperti agar rasa, kurang lebih begitu.
"Jeng-"
"Mbak Dewi tenang aja, aku nggak marah, aku kuat, aku tegar, aku yak-e-yak-e!" satu tangan terkepal dan dia angkat tinggi. "Selain demit itu, ada yang lebih puarah dari buwajingan memang, ahahahahah, loh dikira Ajeng bakal gulung-gulung nangis semua jenis bawang, nggak akan, besok!" dia berdiri, Dewi ikut berdiri. "Besok, nggak ada yang namanya baju bagus, pake baju adu ayam aja, sekalian bubar!"
"Jeng!" lari mengejar Ajeng. "Duh, mas Hikam kok ya nggak tahu kalau Ganjar udah ada cadangan cantik sih!"
Rusak tatanan negara kalau seperti ini, bayangan Dewi sudah tidak karuan, bisa saja Ajeng memakai baju yang sudah jadi mantan kemul kandang ayam itu, menjatuhkan harga dirinya sendiri hanya untuk menjatuhkan harga diri orang lain juga.
"Jeng, tungguin aku, Jeng!" komat-kami Dewi, berharap acara itu bisa berjalan damai.
***
Hikam ingin mencekik Ganjar sebenarnya, tapi berulang kali Dewi ingatkan untuk tidak bertindak gegabah yang jelas jauh dari harapan Ajeng.
Bukan baju kemul kandang, tapi baju biasa yang cukup bagus dan pantas, bahkan sajian makanan untuk keluarga Ganjar pun diberikan, semua tampak berjalan lancar hingga menjelang pemasangan cincin, Ajeng tarik tangannya.
"Kenapa, Jeng?" Ganjar bingung.
Ajeng cengar-cengir, "Aku nggak bisa jadi selingkuhan kamu eh, Mas."
"Seling-selingkuhan?" ulang Ganjar bingung.
"Jangan pura-pura nggak tahu atau amnesia, atau mungkin mau ngakuin kalau itu adik sepupu atau apa, matanya Ajeng ini masih bening nggak minus atau silinder, katarak ya enggak, jadi kemarin itu jelas Mas Ganjar cium tangannya siapa, masa iya itu ibu muda, hem?" dia ingatkan adegan di rumah makan berkaca itu.
Mati!
"Le, Njar, yang bener kamu?" ibunya langsung maju, habis makan banyak, lah kok memalukan. "Siapa yang dimaksud Ajeng?"
"Jadi, gini loh bu calon mertua, kemarin itu aku lihat Mas Ganjar bawa mobil logo kelurahan di ruko-ruko, makan sama cewek, huummm nuempel kayak perangko, lem alteko gitu, Bu ... cium tangan, usap pipi, masa iya sama sepupu atau adik begitu, kalau sama orang tua ya pasti cium tangan, tapi kan ibunya bukan cewek itu, apa punya ibu dua?"
Jleb, ayah Ganjar terkena serangan mematikan, tidak tahu apa-apa bisa dikira selingkuh juga dia nanti.
"Njar, bilang siapa!" desak ibunya.
"Ken-kenalan, Bu!" dia tutup wajahnya, takut ditampar di depan umum.
"Ya ampuuuuunnnnnn, kamu itu malu-maluin, bawa kita ke sini niatnya baik, udah habis makan banyak, minum dikasih tiga kali, bawa bingkisan kita cuman roti gulung, gitu ternyata kamu, hah? Makanya, nggak mau persiapan yang gimana-gimana, iya?!"
__ADS_1
"Habis, dia lebih cantik dari Ajeng, Bu!"
Bug!
Sudah, Hikam tak bisa menahan amarahnya, Dewi susah payah menghalangi gertakan suaminya itu, bisa ramai kalau diteruskan, lebih baik disudahi saja pertemuan ini.
Bude Lastri mendekat, berbisik, "Jeng, mbok ya kamu tuh bilang, gini gajimu habis buat ngasih mereka makan, kan kalau kamu bilang, bisa aku buatin sayur bening aja, air isi ulang kasih garam gula, udah bening!"
"Tri!" bu Tiwi tarik telinga kompor meleduk satu ini.
Setelah selesai membereskan semua sisa makanan dan piring kotor, Ajeng terlihat ke luar membawa satu ayam jago yang biasanya diadu, yang katanya nanti mau disembelih waktu lebaran haji.
Seragam kebangsaan adu ayam dia kenakan lagi, rambutnya dia gulung dan selipkan pada topi merahnya
"Jeng, mau ke mana?" bu Tiwi hampir terjatuh melihat anak asuhnya itu.
"Ajeng dicariin suaminya bu Desi, berangkat ya!" adu ayam maksudnya, kembali lagi dia ke sana.
Hikam endak menyusul, tapi Dewi halangi, siapa tahu itu menjadi cara Ajeng menerima hari ini, daripada dia meneguk obat atau racun, lebih baik adu ayam, pulang bawa uang.
Mereka semua terdiam di ruang tamu panti, memandangi roti gulung selai nanas yang keluarga Ganjar bawa, bawaannya pun tidak niat sama sekali.
Brum,
Tap, tap, tap ....
Semua menoleh, suara deruh mobil yang sangat keras, hampir saja menabrak pintu samping.
Bude Lastri lari sampai terjungkal dua kali, "An-anu Bu Tiwi, anu, itu, anu, anu, anu-"
"Anu apa, siapa?" serempak semua menjawab.
"Anu, anunya Ajeng!"
Anunya Ajeng?
Hikam sontak berdiri, matanya melebar, ada lelaki berjas hitam ala oppa-oppa berdiri di ambang pintu.
"Ajeng mana, Bu Tiwi?" tanyanya.
__ADS_1
Audzubillahiminassyaithonnirrojiim... Bu Tiwi, Dewi, bude Lastri.