
"Gue nggak mau ngomong sama lo, pergi!" usir Arya sambil mengibaskan satu tangannya.
Kalau kemarin dia sempat mendorong tubuh Pretty sampai wanita itu oleng, kali ini jangankan mendorong, Arya bahkan menyipitkan matanya saat melihat pergerakan Pretty yang sengaja ingin bertemu dengannya.
Mantan teman kencan sialan, Arya ingin mengusirnya saja kalau tidak diperlukan di perusahaan ini, sayangnya mereka sudah terikat kontrak dengan usaha ayahnya.
"Cuman karena gadis kampung yang namanya Ajejeng itu kamu sampai berubah drastis, Ya'?" Pretty bukannya pergi, justru melempar pertanyaan pada Arya. "Apa hebatnya gadis kampung itu, bisa apa dia?" maksudnya bisa gaya apa saja.
Arya mendengus, dia tak mau membahas Ajeng pada siapapun karena terlalu indah untuk diungkapkan dan takutnya orang yang mendengar jadi jatuh cinta pada Ajeng, itu miliknya, biar dia saja yang mengagumi Ajeng si ayam jago itu.
Tapi, Pretty memang tak mau mengalah sama sekali sampai Arya geram akan pertanyaan yang terus dilemparkan padanya, tak sungkan duduk di depan meja Arya dengan menyilangkan satu kakinya ke atas.
"Dia masih gadis sampai kamu berhenti mencari lubang seperti aku?"
Arya mendongak, dia tak mengangguk atau bergeleng, baginya mencintai Ajeng bukan karena dia masih perawan atau tidak, banyak kalau mau Arya bisa mencari anak perawan orang, tapi di cuman mau Ajeng.
"Apa hebatnya dia, Ya'?" lagi, Pretty ingin mendengar alasan pemain tubuh wanita itu, dia ingin menganalisisnya hingga nanti bila dia bertemu pria pujaan, dia tahu apa yang bisa membuat mereka saling berhenti, tentu dia akan kesulitan mencari perjaka. "Apa dia bisa banyak gaya?"
Cih!
"Nggak, nggak ada hubungannya sama pertanyaan lo!" balas Arya sengit, dia melihat tajam pada Pretty, ingin dia lempar ketupat kalau ada. "Ajeng bisa ngertiin gue," ujarnya lirih, tapi masih bisa Pretty dengarkan.
Wanita itu menyunggingkan senyum, pengertian yang dibutuhkan para pria, wanita pemain sepertinya hanya akan mengerti soal. nafkah batin, selebihnya bila tak menghasilkan uang, maka tak akan dia lihat sama sekali.
Sedangkan, wanita seperti Ajeng bukan ingin ditanya maunya apa, tapi dialah yang bertanya pada Arya, akan apa yang pria itu inginkan, itu arti dimengerti, Ajeng bisa membuat Arya melepas penat yang ada sampai jatuh dan gila cinta begini.
Ngomong-ngomong, Ajeng belum membalas pesannya.
__ADS_1
Pretty lebih nakal lagi, dia angkat kedua kakinya ke meja hingga bila Arya khilaf dan menoleh ke samping kanan sedikit, mata Arya akan melihat segitiga merah menggoda di sana, sengaja dia memancing Arya, para pria akan tegang dengan adegan seperti ini, bisa jadi langsung meloncat ke pangkuan Pretty.
"Kamu tidak tertarik untuk melakukan ini? Kan, kamu bebas melakukannya karena tak ada wanita itu di sini, gadis kampung yang sudah menjadi istrimu itu tidak akan tahu, ayo!" Pretty masih betah menggoda.
Arya hembuskan nafasnya berat, seperti menahan kuat dirinya agar tak meledak marah pada Pretty, wanita seperti ini sulit diajak kompromi.
"Pret, waktu gue nikahin Ajeng, gue janji bukan cuman sama dia, tapi sama Tuhannya juga buat jaga diri dan dia sekalian, hidup mati gue tergatung gimana gue ke dia, kalau perlu gue bersihin debu di pipinya, cuman buat dapet nikmatnya hidup, lo jangan harap gue terpancing, tujuan gue ke sini juga buat dia, gue mau punya anak sama dia, jadi lebih baik lo godain Juna atau siapa yang lo mau, kalau mereka mau, atau lo mungkin kenalan sama yang mau nikah, itu lebih baik." Arya tegaskan itu, dia memasang wajah serius hingga Pretty tercegang, pria seperti Arya yang dulu tidak kenal Tuhannya siapa, bisa juga berkata bijak, bahkan membawa nama Tuhan segala.
Arya minta Pretty menurunkan kedua kaki lewat kode lirikan matanya, wanita itu langsung patuh, tak lama dia menghela nafas dan duduk tegap di depan Arya.
"Dia bisa memuaskan kamu di ranjang?"
Arya mengangguk. "Tapi, lebih tepatnya nggak ke sana pikiran gue, nikah nggak soal ranjang doang!"
Glek, Arya pasti kesurupan jin alim.
Pretty membenarkan ocehan Juna dan Rian sebelum mengetes mantan teman kencannya itu, yang ada dia seperti ikut ruqyah saja sekarang, buru-buru Pretty ke luar dan hampir menabrak banyak orang.
*Dear, lo benaran marah ke gue? Kok bisa gitu sih, selama ini kalau lo marah nggak sampe diem banget, pasti masih mau gue ajak ngomong, lo nggak ke sungai main lempar batu, kan? Atau lo adu ayam lagi, nggak kan, Dear?
Tapi, kalau itu bikin lo nyaman dan tenang, gue nggak masalah, lo bebas ngelakuin apa aja selama nggak ninggalin gue, Dear ... sumpah, gue nggak bisa tanpa lo, hari-hari ini kesiksa banget, gue kangen*!
Arya pandangi foto pernikahan yang sudah terpajang di mejanya, lebih sulit menenangkan Ajeng dibanding menyelesaikan pekerjaan dan belajar hal baru, jurus wanita memang tak ada tandingannya, dia angkat tangan sudah.
Deerrrrrrtrrzzzzz ...
Satu pesan diterima, Arya gemetaran melihat nama Ajeng di sana.
__ADS_1
Bukan Dear Nathan, tapi Dear Ajeng!
Istriku: Ajeng udah di bawah ini, Mas di mana?
Hah, di bawah mana? Ajeng melanturkah? Mereka tengah ada di dua belahan bumi yang berbeda.
Istriku: Mas, dijemput nggak Ajengnya ini, atau mau Ajeng minta tolong pak satpam gundul buat ke ruangan kamu?
Ruangan? Satpam gundul? Ajeng di sini? Sama siapa?
Arya remat ponselnya, dia lantas memakai sepatu rapi lalu berlarian ke luar, tepat di meja depan ruangan spesialnya, dia meminta wanita dengan rambut bun itu mengecek kondisi di bawah.
Dan benar saja, tak ada yang menyerupai Ajeng di muka bumi ini, dia cuman satu dan satu-satunya.
DEAR!
Arya tak peduli yang gondal-gandul itu masih sakit sedikit kalau dia berlari karena terguncang, yang dia mau melihat kebenaran akan kehadiran sang istri di sini.
Ya, Ajeng kan sudah resign, dia bebas ke mana saja asalkan ada yang mengantar karena tak bisa bahasa asing.
Dadanya naik-turun, tepat di belakang pak botak itu berdiri seorang wanita memakai topi bulat lebar dan membawa satu koper penuh, tidak salah lagi.
"DEAR!" teriak Arya sontak membuat semua orang menoleh, pak Darma yang mengantar bergeleng malu.
Ajeng menyengir, dia lambaikan tangannya pada Arya, mengiyakan kalau yang dilihat dan dipanggil Arya itu benar, Ajeng.
"Awas lo!" Arya kembali berlari mendekat, dia sambar dan langsung memeluk Ajeng, dia angkat sedikit. "Aduh!"
__ADS_1
Eh, apa?
Ajeng melompat turun. "Kena burungmu?"