
"Yakin bisa kerja, Ya'?" Juna was-was saja kau Arya kesakitan di tempat kerja.
Arya mengangguk, sudah cukup waktunya istirahat selepas operasi kecil itu, dia pun sudah bisa memakai ****** ***** dengan baik, berjalannya pun sudah seperti biasanya.
Tak sabar dia menyelesaikan semuanya dan kembali pulang meskipun belum bisa test drive langsung dengan Ajeng, intinya dia mau pulang dulu sambil menunggu hasil terbaru akan tindakan medisnya itu.
"Modelnya kayak sunat lagi nggak sih?" Rian yang baru masuk ruangan bertanya-tanya. "Atau ada kepala jamur baru?"
"Gila lo, ya tetep bego!"
Rian tergelak, lucu saja kalau dia membayangkan pusaka Arya punya dua kepala jamur, pasti ingin dia abadikan dan masuk ke museum.
"Udah mau lahiran anak lo?"
"Belumlah, masih juga banyak ikut senam si Eliin, makin besar kandungannya malah makin galak, malah doyan juga, kesel gue tiap malem dibuat kayak meong sama dia!" adu Rian sambil meratapi pusakanya yang menciut.
Juna sampai terjungkal karena tertawa, hubungan Rian dan Ellin memang cukup rumit, tapi berangsur membaik sampai detik ini bisa tinggal bersama meskipun banyak cek-cok yang paginya mereka selesaikan dengan adegan panas, bahkan sekarang malam pun menjadi solusi keduanya.
"Tapi, lo doyan kan?" tembak Arya. "Dari muka lo udah kelihatan napsuan lo!"
"Widiiihh, kayak lo nggak napsuan aja, pasti Ajejeng gemeter lo ajak adu panco tiap malem!" balas Rian tak mau kalah.
Juna angkat tangan. "Oke, cuman gue yang bebas di sini, kalian nggak ada calon apa buat gue?"
"Ck, kalau ada saudara gue, nggak bakal gue kenalin sama cowok brengsek model lo, Jun!" jawab Rian.
Juna melirik pada Arya yang sontak menggelengkan kepala, kalau ada gadis seperti Ajeng itu dirasa mustahil karena hanya gadis itu yang bisa membuat raja demit seperti Arya berhenti, sedang Ellin pun tak bisa membuat Rian berhenti, apalagi nanti ada gadis polos untuk Juna, mana bisa dia meluluhkan pusaka ganas itu.
Juna mengesah pelan, menjejak Rian yang terus saja menjadi anjing menggonggong dalam kisah cintanya yang pelik, berulang kali berkenalan, begitu tahu dia doyan main ranjang, kabur dan batal.
"Nggak ada yang model Ajejeng, Ya'? Kalau ada mau dong buat kibulin!"
"Resek lo, Ajeng nggak bisa dikibulin, nggak ada yang kayak dia makanya, nggak bakal bisa lo kibulin, yang ada lontong lo dipotong masak opor!"
Juna sontak menutup celah pahanya, mengerikan sekali menjadi pasangan Ajeng kalau begitu, tapi memang mempan sampai Arya berhenti total.
__ADS_1
Juna menyipitkan matanya. "Ajejeng masih perawan, Ya'?"
Brak!
Arya usir kedua temannya itu, sekalipun Ajeng memang suci dan belum ditembus pusaka pria lain, tak akan dia ceritakan, itu kenikmatan yang hanya dia yang merasakan, tak mau dia bagi.
Rian berpegangan pada bahu Juna, keduanya terbirit-birit kabur, tahu kalau Arya marah akan pembahasan pribadi, terutama Ajeng, pasti imbasnya meluas, bucin se bucin-bucinnya.
"Lo ngapain juga bajas Ajeng, gue aja bahas sekali udah kayak mau dikebiri, apalagi lo sampe tanya dia perawan apa nggak, mati kita!" Rian mau mencekik temannya itu.
Juna usap dadanya berulang kali, wajah marah Arya lebih seram dari penampakan hantu lokal di tanah air.
"Gue penasaran sampe dia bisa tunduk sama Ajejeng, Yan!" Juna tepuk-tepuk lagi dadanya. "Lo aja yang dapet jauh lebih seksi dari Ajeng, masih jajan, lah Arya yang dapet begitu, udah diem, lo tahu kan gimana Ajejeng, jauh banget dari seleranya Arya!"
Benar juga, tak ada yang bisa memungkiri, bahkan mau dipikirkan pun seakan tak masuk akal seorang Arya bisa kepincut dengan Ajeng yang di bawah selera mereka.
Katakan Arya itu penghuni malam, lubang jenis apa yang belum dia coba, saat bersama Ajeng justru berbeda dan mau mempunyai anak sampai menahan sakit proses medis, semua masih tidak mengira itu benar.
"Pret, mau ke mana?"
Juna bekap mulut Dina. "Kamu mau secantik apa, nggak akan ngaruh sama dia, udah buta sama istrinya!"
"Aku tahu dia sudah menikah, justru tidak ada istrinya, bisa aku ajak lagi, dia kan butuh pelepas penat di sini, aku seksi dan menggoda!" ujar Pretty sambil menepuk bokongnya.
Wadau, Juna menelan salivanya berat, rasanya juga mau menepuk bokong seksi itu sambil menusuk-nusuk, siapa yang bisa menolak pesona biduan internasional itu.
"Lebih baik kamu nggak ketemu dia, Pret. Bakal ditolak!" Rian sembunyikan Juna ke balik punggungnya, ada yang tegang di balik celana temannya itu.
"Iya, kah? Arya tidak pernah menolakku selama ini, apalagi kalau aku pakai rok mini," balas Pretty percaya diri. "Aku tidak bodoh seperti istrimu itu, Rian!"
Terserah!
Rian ajak Juna menjauh daripada ditusuk pusakanya Juna yang bangun tanpa alarm itu.
***
__ADS_1
"Pret, minggir!"
"Prat, pret, prat, pret, memangnya namaku hanya itu saja, bukannya kalau kita sedang bersama dulu itu kamu memanggilmu beauty?"
Arya menaikkan kedua alisnya, tak masalah kalau dia berbicara sendiri bersama Pretty, tapi ini makan siangnya sembari ditemani sang istri, Ajeng mendengar semua jawaban Pretty.
Dia dorong tubuh montok seksi itu, bahkan Arya enggan menanggapinya lagi, dia seperti tak ada wibawanya menjadi penerus di sini, terlebih lagi kalau bertemu wanita yang dulu dia kencani, satu kantor juga, mampus dia.
"Mas, tadi siapa?" Ajeng mulai curiga. "Kok kayaknya kalian pernah anu itu, kamu kenal?"
Arya masih melotot pada Pretty yang memaksa duduk di depan Arya, padahal tahu bangku itu spesial untuk posisi Arya, tapi wanita seperti Pretty mana peduli.
"Mas."
"Iya, Dear. Biasa ada nyamuk gangguin, kamu udah makan?"
"Udah, kok tanya itu terus, kamu lagi nggak fokus ya?"
Pretty yang mendengar itu sontak beralih menjawab, menyambar pertanyaan Ajeng begitu saja.
"Iya, dia tidak akan bisa fokus kalau di depannya ada si seksi seperti aku, Pretty!"
"Kampret!" sentak Arya, dia tinggalkan menu makan siangnya.
Semarah itu Arya hanya karena banyolannya menggoda? Pretty pandangi menu makan siang yang tampak enak itu, kasihan sekali tidak dimakan Arya.
Pretty bawakan nampan yang masih penuh itu, dia antar ke ruangan Arya, belum usai Arya menjawab pertanyaan Ajeng, Pretty sudah bersuara lagi.
"Arya, jadi bagaimana makanan ini, tidak kamu makan, atau aku yang makan?"
Duar!
Ajeng di seberang sana melebarkan matanya, kebetulan dia sedang mengasah pisau atas perintah ayah mertua.
Slink, slink!
__ADS_1
"Mas, ngaku, siapa itu?!"